Hello.
Happy reading guys.
Sorry baru bisa update.
Typo koreksi.
Bintang di bawah boleh dipencet dulu nggak?
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Rasa nyaman bukanlah alasan untuk jadian, maka dari itu aku memilihmu sebagai teman dan bukan menjalin suatu hubungan.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
🍁🍁🍁
"Bener itu, Melody?"
Deg.
Melody bingung harus berkata apa. Pertanyaan tersebut begitu mematikan lidahnya untuk berucap. Dia menoleh pada Kenn yang memberikannya anggukan. Tapi, mana mungkin dia akan berbohong. Apalagi yang dibohonginya orang tua.
Baru saja akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba rasa pening menyelimutinya. Pandangannya seketika samar-samar, lalu semuanya menjadi gelap.
Sebelum Melody terjatuh, Kenn dengan sigap menangkap gadis tersebut. Jemarinya menepuk-nepuk ringan pipi gadis itu. "Mel, bangun, Mel."
Lidahnya tak henti-henti memanggil nama Melody. Rupanya gadis itu benar-benar sakit. Kenn kira hanya acting untuk melabuhi pak Jaka.
Takut terjadi apa-apa pada gadis kesayangannya. Kenn menggendongnya ala bridal styel, dan membawanya ke UKS sesuai intruksi pak Jaka.
Cowok itu membaringkan Melody di ranjang UKS. Ruang UKS tidak ada yang menjaga jika masih di jam pelajaran seperti ini. Jadi Kenn sendirilah yang berusaha menyadarkan Melody.
Jemari Kenn menaruh bantal di kaki cewek itu, agar aliran darah mengalir dengan normal. Tangannya mengambil minyak kayu putih, dan ditaruhnya di hidung Melody agar cewek itu sadar.
Beberapa saat Melody terbangun. Tangannya memegang kening yang terasa pening. Hal itu membuat Kenn bernapas lega, untung saja Melody tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu pada gadis itu, maka dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Kenn merubah posisi bantal yang tadinya di kaki menjadi di kepala gadis itu.
"Akhirnya lo sadar Mel,"ucap Kenn, membantu Melody duduk.
"Nih minum dulu." Kenn membantu Melody meminum air putih yang ia tuangkan dari galon yang tersedia di UKS.
"Masih pusing ya, Mel?" tanyanya ketika melihat Melody memegangi keningnya kembali. "Mau gue beliin teh anget?"
Melody menggeleng. Dia tidak ingin membuat Kenn menjadi repot.
"Lo gak ke kelas, Kenn? Entar di alpa lho?"
"Gue mau jagain lo di sini, Mel. Tadi pak Jaka udah minta izin sama guru yang ngajar di kelas gue sama kelas lo kalo kita lagi di UKS."
"Lagian demam lo belum turun total berangkat sekolah aja," cibir Melody.
Kenn terkekeh. "Gue gak betah hibernasi."
Kenn membaringkan badannya di ranjang samping Melody. Dia juga perlu istirahat sejenak, karena suhu tubuhnya masih hangat.
Kenn memutar kepalanya, menghadap Melody. "Mel, lo kok bisa pingsan sih? Gue kira cuma acting?"
"Gue bukan aktris yang pinter acting, kenn...."
"Terus kenapa? Lo kemarin habis ngapain kok bisa pingsan?"
Habis nangisin lo semalaman, Kenn, hingga kepala gue pusing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Is Music
Fiksi Remaja[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Gitar Exel Julian, merupakan vokalis dari Axellez, band terkenal di sekolahnya. prestasi-prestasinya telah diketahui orang-orang sekitar. Bahkan band yang dia bangun melalui ekstrakulikuler sekolahnya kini telah terkenal di...
