Udah siap baca part ini?
Yuk dibaca.
Part ini aku revisi di bagian terakhir. Yang kemaren udah baca kalo gak mau baca ulang gak papa. Lanjut aja part selanjutnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rangkaian nada indah itu mengingatkanku kembali pada dia yang selama ini ingin ku lupakan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
🍁🍁🍁
Kelas dimulai seperti biasa. Gitar duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Cowok itu sama sekali mendengarkan guru yang sedang mengajar di depan. Kedua telinganya tersumpali headset, mendengar lagu favoritnya.
Untung saja dia bertukar duduk dengan teman sekelasnya, yang tadinya duduk di bangku depan, sekarang berpindah ke belakang dekat jendela. Jauh dari guru yang sedang mengajar.
Pikirannya saat ini masih berkecamuk rasa emosi tentang masalah tadi di kantin. Dan satu-satunya cara untuk menenangkan pikirannya adalah mendengarkan musik.
Sesekali Marvel menoleh ke belakang, melihat sahabatnya yang sedang mendengarkan musik. Namun, hal itu sudah menjadi pemandangan yang biasa baginya maupun teman-teman sekelasnya. Jika terkabut dalam rasa emosi Gitar memang selalu mendengarkan musik. Sebenarnya Marvel tidak suka dengan hal itu, seharusnya Gitar menghargai guru yang berada di depan. Tak peduli apapun masalahnya, yang namanya murid wajib memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Pletak.
Lemparan yang cukup keras itu membuat Gitar melepaskan headset-nya. Cowok itu mengambil penghapus yang tadi mengenai kepalanya. "Siapa yang berani lempar gue pakek ini?" tanya Gitar sembari mengangkat penghapus tersebut ke udara.
"Ibu."
Sahutan itu membuat Gitar terdiam. Ternyata yang melemparnya dengan penghapus adalah bu Keke, guru bahasa Indonesia yang sedang mengajar di depan.
"Jadi selama tadi Ibu nerangin kamu gak perhatiin ya? Malah enak-enakkan dengerin musik? Pantesan saja kamu pindah duduk ke belakang. Sayangnya mata ibu masih terjangkau untuk melihat kamu, Gitar."
Pertanyaan sekaligus sindiran itu membuat Gitar bingung harus berkata apa. Jika dia mengatakan yang sebenarnya maka bu Keke akan mengejek bahwa dia cowok emosian.
"Maaf, bu."
Mungkin hanya kata maaf yang mampu Gitar ucapkan kali ini.
"Ada waktunya sendiri untuk mendengarkan musik, Gitar." Bu keke bicara tenang namun memasang wajah yang menakutkan. Seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya.
"Emang kamu gak puas setelah tadi dua jam pelajaran sudah belajar seni budaya materi seni musik dari pak Samsul? Sampai-sampai dengerin musik di pelajaran ibu?" Bu Keke bertanya lagi. Guru itu paling tidak suka dengan siswa yang bertindak semaunya diri. Walaupun Gitar sudah berapa kali memperoleh piala untuk sekolah ini, yang namanya kewajiban ya tetap kewajiban. Dan kewajiban murid di sekolah ya belajar. Bukan bertindak semaunya sendiri.
"Yang penting saya gak berisik." Gitar tak peduli tatapan tajam dari bu Keke yang tersentak akibat ucapannya baru saja.
"Iya, kamu emang gak brisik. Tapi sikap acuh kamu terhadap pelajaran yang baru saja saya terangkan sangat mengganggu penglihatan saya."
Kalo gak suka gak usah liat, apa susahnya sih? Gitar menggerutu dalam hati.
Bu Keke menghela napas. Jangan sampai jam mengajarnya hari ini terganggu karena hanya satu siswa saja. "Kalo kamu gak suka pelajaran saja, silahkan keluar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Is Music
Fiksi Remaja[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Gitar Exel Julian, merupakan vokalis dari Axellez, band terkenal di sekolahnya. prestasi-prestasinya telah diketahui orang-orang sekitar. Bahkan band yang dia bangun melalui ekstrakulikuler sekolahnya kini telah terkenal di...
