Part 52 - Keputusan

731 86 66
                                        

Hai Readers

Sebelum baca jangan lupa vote dulu ya.

Jangan lupa siapin kouta, siapin guling buat diremes, sama siapin tisu. :v

Happy reading.

🍁🍁🍁
Tangguh dan tidak mudah runtuh itu adalah pendirian semua orang. Kuat dan tidak mudah dijatuhkan saat menggapai impian. Bukan dengan siapa kita meraih mimpi. Tapi karena yakin pada diri sendiri.
🍁🍁🍁

(❤*_*❤)

Dret...dret...dret.

Dering ponsel di atas nakas membuat pemiliknya menoleh ke arahnya. Tangan lembutnya mencabut pengisian daya ponsel itu.

Di liriknya sang penelepon. Nama orang yang selama ini selalu peka padanya, orang yang selama ini mrnjadi sandaran bahu saat dia merasa rapuh, Kenn.

Melody menghapus air matanya. Meskipun sesekali dia masih sesegukan. Gadis itu mencoba menetralkan suaranya. Mengangkat ponsel dari Kenn.

"Halo, Caramelo, sesuai omongan gue tadi, gue mau kasih kabar baik buat lo. Gue sama Willona idah jadian."

Terdengar suara bahagia Kenn dari seberang sana. Ada setitik rasa bahagia di hati Melody, setidaknya rasa sedihnya sedikit berkurang.

Bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan itu bukan hal yang salah, kan?

Bibir Melody tersenyum. "Selamat, Kenn."

"Makasih, Caramelo-ku sayang. Tapi sayang banget lo tadi gak dateng, lo gak bisa liat perjuangan gue mengungkapkan cinta pada Willona."

Suara Kenn terdengar kecewa. Tapi itu tak masalah. Kenn dapat memaklumi ketidak hadiran Melody.

"S-soryy, ya. Gue tadi piket soalnya."

Nada bicara Melody terdengar serak. Gadis itu hanya berharap, semoga Kenn tidak curiga padanya.

"Eh, Mel. Suara lo kok agak beda gitu sih, lo nangis ya?"

Kenn memang orang terpeka yang pernah Melody temui. Walaupun ada masalah, jika Melody menyembunyikannya. Dia akan mencari jawabannya sendiri.

"Hah, enggak. Cuma agak gak enak aja tenggorokan gue, kayak gatel gitu."

Melody mengumpat dalam hatinya. Saat dia akan berhasil berbohong, namun segukannya keluar diakhir kalimatnya.

"Lo bohong ya? Lo habis nangis kan?"

"Enggak, Kenn...."

"Enggak bagi lo itu antonim bagi gue. Lo kenapa, Mel, cerita sama gue?"

Melody menghela napas kasar. "Gue gak papa kok."

"Itu antonim lagi. Mel, lo udah nganggap gue sahabat sejak lama kan? Gue udah kenal sifat lo. Walaupun lo tutup-tutupin, tapi gue tau. Lo lagi ada masalah kan?"

"Lo selalu peka, Kenn. Tapi kali ini gue gak mau ngerepotin lo. Lo lagi bahagia. Gue gak mau ngerusak bahagia lo sama Willona."

Love Is Music Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang