30

2.4K 177 18
                                        

Hiah!

Teriak penuh semangat Zora dan Tina kembali melanjutkan pertarungan setelah sholat, jam sudah menunjukkan pukul 20.13

Sementara

Batasnya hanya sampai tengah malam, apakah mereka sanggup mengalahkan guru mereka sendiri?

Ini sulit.

"Naze akiramenai nodesu ka?"

(Kenapa tidak menyerah saja?)

Zora dan Tina mendengus kesal, sudah berapa kali pertanyaan itu di lontar kan kepada mereka.

"Akiramemasen!"

(Kami tidak akan menyerah!)

Teriak Zora dan Tina hampir berbarengan, lalu langsung berlari ke arah lawan dan menyerang, Zora melayang kan tinju ke arah dada ayahnya tapi berhasil di tangkis, lalu di sambung oleh Tina yang mengayunkan tendangannya bertujuan menjatuhkan pertahanan lawan namun ayah nya Zora masih tidak bergeming.

Zora dan Tina dengan cepat mengambil jarak kembali menyusun rencana, namun keduanya sekarang sudah berfikir, sepertinya mereka tidak akan kembali ke pondok lagi.

Ayah Zora tidak dapat di kalahkan.

___________________________________

"Jadi kalian tiba-tiba aja ngilang waktu ana dan yang lain berhasil masuk ke asrama, semua orang udah kayak korban puting beliung, banyak yang luka dan pingsan,"

Habibah bercerita dengan semangat mengenai kejadian beberapa minggu yang lalu. Aisyah dan Haniyah mendengar dengan perasaan campur aduk, sambil berfikir apakah hal seperti itu benar-benar terjadi?

Seperti dalam film saja.

"Kalian kok bisa di loteng mesjid? Ana benar-benar kaget waktu kalian jatuh gitu aja,"

"Itu benar-benar bagian terburuknya, ana ngerasa udah kayak mayat hidup disana," ungkap Haniyah sambil bergidik ngeri.

Aisyah mengangguk. Sangat setuju. Kalau bukan karena bantuan Allah mereka tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.

Semua terdiam seketika. Kamar pembina asrama Tahfiz kembali sunyi, mereka sama-sama membayangkan betapa mengerikannya kejadian hari itu.

"Yaudah yang penting kita semua selamat, nih makan lagi," Hani kembali menawarkan kue-kue yang di bawa nya dari rumah, Aisyah dan Habibah menerima dengan senang hati.

Tiba-tiba saat seperti itu,

Tok

Tok

Tok

Ada yang mengetuk pintu.

"Assalamualaikum kalian di dalam kan? Habibah?"

Itu Ustadzah Zainab.

Aisyah berdiri segera membuka pintu.

Di depan sudah ada ustadzah Zainab  dan Ustadzah Niswah.

"Makan nggak bagi-bagi ya," sahut ustadzah Niswah sambil mengamati sekitaran.

Aisyah dan yang lain hanya bisa cengengesan, mereka sampai lupa menawari dan membagi makanan dengan ustadzah.

"Kenapa Ustadzah?"

"Nggak cuma mau bilang nanti tidurnya di ruang ustadzah aja ya biar kita kumpul sama-sama,"

"Na'am Ustadzah, nanti kami kesana," sahut Aisyah patuh, Haniyah juga mengangguk tersenyum.

"Nanti pintu ruangannya di kunci ya, sekarang ustadzah mau ke depan dulu ada rapat sebentar," sahut ustadzah sebelum akhirnya melambai sambil mengucapkan salam.

Ghost in PesantrenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang