9. Yang Tak Pernah Ada

24.8K 3.8K 278
                                        

Bagian Sembilan

Tawa itu pernah ada
Di antara cerita kita
Di pertemuan yang selalu terselip drama suka dan duka
Lalu tawa itu lenyap tak bersisa
Tanpa jejak dan tanpa tahu kemana larinya
Ketika kamu lebih memilih dia
yang kau cinta sepenuh rasa
Bukan diriku
yang selalu ada untukmu, ketika kau butuh bahu untuk mengadu masalah yang kau punya

Puisi satu menit dari Bellazmr

-Senandi Rasa-

Sudah tiga minggu semenjak papa meninggal, mama selalu menyibukkan dirinya untuk banyak hal. Bahkan hari ini sudah hari kelima mama tidak pulang ke rumah karena ada kesibukkan di Bandung. Itu yang diketahui oleh Berlin.

Tapi pagi ini tampak beda, ia melihat mamanya sedang berkutat di halaman depan. Mengaduk tanah di dalam pot, merapikan bentuk tatanan tanaman, sampai menyiram bunga. Berlin mengernyit, ia tidak tahu kapan mamanya pulang. Seingatnya semalam ketika ia terlelap pukul dua, mamanya belum ada.

Lian menoleh ketika merasakan seseorang memperhatikannya. Pandangan matanya langsung bertemu dengan Berlin, perempuan itu berdiri kaku di depan pintu mobilnya, sudah siap untuk berangkat kuliah. Mereka saling tatap beberapa menit, sebelum akhirnya Lian kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa berkata apa-apa. Dan yah... Berlin juga melakukan hal yang sama.

Kalau dipikir-pikir semakin hari, dia dan mamanya ibarat dua orang asing yang tinggal seatap. Jangankan untuk bercerita, saling sapa juga kadang sulit. Yah, waktu kemarin mungkin Berlin masih gigih mencoba. Tapi semenjak kejadian di pemakaman, Berlin sudah tidak peduli lagi, baginya hubungan itu dibangung oleh dua arah, kalau hanya dia yang mencoba, maka akan sia-sia.

Dari balik setirnya, Berlin melihat bingkai kehidupan pagi di kota Jakarta yang menyesakkan. Kendaraan saling berebut untuk sampai pada tujuan masing-masing. Tak ada yang mau mengalah, seperti dia dan mamanya. Mungkin.

Kemacetan Jakarta membuat Berlin bosan sendiri, apalagi mobil yang ia bawa sengaja tidak Berlin setel. Jadi yang terdengar di telingannya hanya sayup-sayup keributan dari jalanan.

Berlin terpaku di hadapan setir, matanya memandang lurus dan kosong. Wajah mamanya berada di sudut-sudut bayangan.

Mamanya memang sosok wanita yang luar biasa tangguh, sesibuk apapun dia pada pekerjaannya. Mamanya tidak pernah lupa akan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Dari mulai mencuci, mengepel, memasak, semua dilakukan mamanya seorang diri. Dan tak pernah sekalipun mamanya mengeluh. Tidak pernah, bahkan meminta tolong pada Berlinpun belum pernah.

Mama selalu bisa membuat semuanya sempurna sendirian.

Itu yang kadang membuat Berlin menginginkan dirinya kelak suatu hari ketika menikah juga bisa bertindak serba bisa seperti mamanya, tapi makin hari... semakin ia dewasa, Berlin malah tidak ingin menjadi mamanya. Mama memang sempurna dalam segala hal, tapi mamanya tidak pernah utuh menjadi ibu bagi Berln.

Di titik seperti ini, Berlin sebenarnya hanya mengingikan tempat berbagi. Terlebih semenjak papa tidak ada. Berlin seperti hilang arah.

Berlin mendesah panjang. Matanya melirik ke arah kaca spon dalam, raut wajah tanpa ekspresi menyambut manik matanya. Berlin mengangkat senyum kecut, hari ini sekali lagi harus disambutnya dengan penuh kekosongan.

-Senandi Rasa-

Pukul delapan Berlin baru kembali ke rumah, pintu rumah terbuka saat ia mencoba masuk.

Lampu gantung berwana kuning di ruang tengah menjadi satu-satunya cahaya yang menyinari rumah tersebut. Mamanya sedang duduk di salah satu sofa, terlihat sibuk mengerjakan beberapa catatan.

Senandi RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang