21. Dia Sebenarnya

22.4K 3.2K 1.3K
                                        

Bagian Dua Puluh Satu

Kebanyakan perasaan hanyalah sebuah hujan; mendung, deras, rintik, kemudian mereda—Gerhana

Akan datang suatu hari, ketika semuanya menjadi baik-baik saja—Berlin

-Senandi Rasa-

Sekitar pukul sembilan pagi, Berlin sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sudah menjadi titik pertemuannya dengan seseorang.

Berulang kali dia melirik location pada handphone, menyocokkan antara posisinya sekarang dengan tempat yang ia tuju.

"Lima meter lagi," katanya.

Sekarang, Berlin sedang berjalan di trotoar Suka Asih, tak jauh dari Kawasan Pasar Hewan Bandung yang membentang di sepanjang Jalan Peta.

Berlin tidak ingin berlama-lama, mengingat sekarang Gerhana sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya. Manik mata Berlin terus mengarah pada layar handphone untuk mengabari orang tersebut jika dia sudah hampir sampai.

Karena pandangan Berlin hanya tertuju pada handphone, tanpa sengaja dan bahunya menabrak sesuatu. Sontak Berlin mendongak, matanya melebar ketika melihat orang yang barusan ia tabrak itu.

"Loh Berlin."

Lelaki  itu menatap Berlin dengan sorot kaget, begitu juga Berlin yang sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki tersebut di Bandung.

Erick Widiasana Ravelio, mahasiswa semester tiga Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang Berlin kenal dari Tania. Semenjak maba, lelaki itu naksir berat dengan sahabatnya. Sayangnya sampai detik ini, Tania selalu saja menolak. Ujung-ujungnya hubungan mereka hanya teman tapi dekat—atau mungkin Berlin lebih suka mengatakan, teman tapi butuh dari sisi Tania.

Satu tahun setengah mengenal Tania, Berlin sering kali mendengar bagaimana Erick diperlakukan oleh sahabatnya itu. Antar jemput sana sini, traktir ini itu, yah... bukannya menjelekkan Tania, hanya saja perempuan itu terlihat mempermainkan Erick.

"Eh, Erick," balas Berlin setelah terdiam cukup lama.

"Gue baru tahu loh kalau lo di Bandung, kok Tania nggak pernah cerita ya kalau lo juga di Bandung?" Erick menggaruk kepala.

Ah! Berlin baru ingat bahwa kalau satu hari sebelum tahun baru Tania bilang di grup yang isinya dia, Tania, dan Sari bahwa perempuan itu akan liburan ke Bandung, ke tempat kakak perempuannya. Tapi, jujur, Berlin sama sekali tidak kepikiran kalau Erick juga ada di Bandung. Pakai acara ketemu lagi.

Berlin menyembunyikan semuanya dengan senyum tipis, "Gue hari ini balik Jakarta kok, ini cuma mau ambil sesuatu aja buat dibawa ke Jakarta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berlin menyembunyikan semuanya dengan senyum tipis, "Gue hari ini balik Jakarta kok, ini cuma mau ambil sesuatu aja buat dibawa ke Jakarta."

"Oh..." Erick angguk-angguk kepala. "Di Bandung sama siapa Ber, terus lo pulang ke Jakartanya gimana?"

Senandi RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang