BAGIAN EMPAT PULUH LIMA
Nahan diri untuk nggak menghubungi padahal lo kangen berat is another level of pain-A
Satu-satunya solusi dari rindu itu cuma bertemu, nggak ada hal lain-B
"Hai gimana kabar kamu? Baik-baik aja kan tanpa aku, gimana rasanya dengan orang baru? Kamu kelihatan bahagia banget ... hehe. Kalau aku sih ya masih gitu-gitu aja, kadang bahagia di depan orang lain, tapi kalau udah sendiri mulai lagi sedihnya, entah itu karena kepikiran kita dulu atau karena aku kangen kamu."
Pikirkan satu orang saja, satu orang pertama yang muncul di pikiran kamu ketika membaca kalimat di atas, kemudian tulis sesuatu untuk dia ... apa yang kamu rasakan boleh dikeluarkan di sini.
I know, kamu orang hebat karena sudah sampai ke titik ini. Selamat membaca, sebuah cerita untuk kita yang berusaha baik-baik saja sekalipun sedang parah-parahnya terluka hehe.
-Senandi Rasa-
Dengan semangat laki-laki itu menepuk-nepuk meja dengan kedua tangannya, seolah sedang bergendang, matanya tidak lepas menatap lelaki yang sekarang duduk dengan ekspresi datar di wajahnya. "Orang tergoblok saat naksir perempuan goes to ... Gerhana Sabrang Assegaf."
Sekali lagi tawa lelaki berambut agak gondrong itu meledak, memenuhi ruangan kedap suara itu. Ruangan itu tampak seperti mini bioskop, pantulan proyektor menghasilkan potongan salah satu drama korea yang sedang dijeda pada layar.
"Lo ngomong lagi gue tabok ya, No," ancam Gerhana sambil melempar bantal sofa.
Deano-sepupu lelaki Gerhana itu berhasil meredam tawanya, tapi tidak dengan senyum jahilnya. Terus saja kepalanya menggeleng setelah selesai mendengarkan cerita Gerhana tentang sepenggal kisahnya hari ini. Datang ke rumah sakit hanya untuk melihat pacarnya sedang bersama lelaki lain.
"Ganteng doang lo Ger, suka sama cewek bukannya ditunjukin malah dibiarin sama cowok lain. Ah lo mah, malu gue punya sepupu kayak lo."
Gerhana tidak meladeni ucapan Deano, dia tahu sampai pulang dari rumah lelaki ini pun Gerhana masih akan terus diledeki. Menyesal sekali Gerhana datang ke tempat Deano malam ini.
"Di ke mana?" Gerhana melirik layar, tahu betul bahwa yang pasti memutar potongan drama Korea itu pasti adalah sepupu perempuannya itu, Claudia. Dua hari yang lalu Claudia memang pulang lagi ke Indonesia karena sekarang jadwal cuti musim semi.
"Entah, katanya mau eksperimen di dapur."
"Kayak bisa masak aja," sahut Gerhana.
Deano mengangguk membenarkan. "Masak mi aja jadi benyek, saking tangannya sama sekali nggak cocok di dapur."
Gerhana bersandar pada sofa, tepat di sebelah Deano yang sedang memainkan ponsel, kelihatannya lelaki itu sedang mengirimkan pesan pada seseorang. Dari gelagatnya, Gerhana dapat menebak bahwa Deano pasti sedang chatan dengan pacarnya. Lelaki itu memang bucin.
"Najis banget gue lihat senyum lo, No."
"Iri bilang bos," sahut Deano tanpa menoleh.
"Bucin banget." Kalimat itu diceletukan Gerhana saat Deano baru saja mengambil potret dirinya, selfi di hadapan kamera.
Deano tertawa sambil menoleh pada Gerhana. "Yah wajar bucin, yang gue bucinin juga bucin sama gue. Gue bucin dan gue bangga! Nah lo ..." Deano lantas melirik Gerhana. "Kayak stamina gajah."
Gerhana memandang Deano tidak paham.
Deano menahan tawa saat mengatakan. "Statusnya ada, bucinya nggak ada, eh malah galau ajah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandi Rasa
Ficção Adolescente[Bab tidak lengkap, untuk baca lengkap silakan ke Karya Karsa] "Kalau ada satu hal yang ingin aku lakukan, itu adalah mempertahankanmu. Sayangnya, aku tidak bisa, entah karena keadaan atau karena takdir yang tak terelakkan." Selama delapan belas tah...
