The Okay Living

62.5K 4.2K 161
                                        

Sendirian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sendirian. Seperti semua kondisi lain, sendiri itu memang awalnya gak nyaman. Banyak ketakutan dan kekhawatiran yang...ternyata, saat dijalani gak kejadian.

Aku bisa bilang gini, karena aku sudah tinggal sendirian empat tahun belakangan...juga pernah jadi Manager on Duty spesialis shift malam yang akrab dengan kondisi hotel di keadaan paling sepi. Dan, aku gak punya pacar selama lima tahun terakhir. Yep. Not even a date. Not even a casual one.

Jadi, paham banget soal kesendirian. Bahkan, termasuk expert dalam hal menjadi pribadi soliter menurut sahabatku, Dalin. Aku bisa matikan ponsel saat libur, dan menurutnya itu prestasi yang anomali. Aku juga bisa solo-traveling berlama-lama kemana-mana, buatnya ini petualangan ekstrim.

Dalin bilang juga, aku menyiksa diri dengan rutinitasku yang itu-itu saja. Bangun pagi saat alarm berbunyi, langsung mandi, buat sarapan, makan sambil baca buku, ngantor. Pulangnya pun persis sama: mandi, buat makan malam, makan sambil baca buku, tidur. I'm getting used with my routine, peaceful days and nights.

Sering sendiri, gak berarti kesepian kok. Justru sibuk mikirin komentar bising orang lain yang bikin hidup kerasa kurang dan kosong. I have my books. I got my phone. There's 9gag. I can always stare at people or sky when I don't have anything in my hands.

Kalau ditanya, "Gak pengen nongkrong ramean? Gak mau jalan ke mana gitu? Gak kangen ada yang sayang-sayangin?" jawabannya adalah, "Sudah pernah."

Don't get me wrong. Aku masih nonton ke bioskop, belanja keperluan bulanan di Hypermart, makan ke resto, main bowling, pinjem buku ke perpus, ngantor, dan kegiatan normal lainnya...meski seringnya sih, sendirian. I'm not a hermit living in the top of a mountain. I'm not an anti-social person. I prefer to stay away a bit from the crowds. I'm still having dinner with my closest friends.

Kehidupan yang sedikit berbeda ini juga gak tiba-tiba saja aku jalani. Bukan dadakan. Aku besar di keluarga bahagia dengan satu kakak laki-laki, namanya Agastyo. Orangtuaku sudah meninggal, dua-duanya. Mamaku saat aku remaja, dan Papa gak lama setelah aku wisuda dari NHI.
Saat akhirnya Agas memutuskan untuk menikah, kami menyewakan rumah peninggalan orangtua yang terlalu besar buat berdua dan berada di area strategis kota Bandung.

Aku mengontrak paviliun kecil di sekitar Hegarmanah, gak jauh dari tempat kerjaku. Saat itu, Dalin ikut tinggal bersamaku. Tapi kemudian ibunya sakit, dan ia balik ke rumahnya lagi. I forced her to. Even when it seems like too much efforts to spend time with your parents, one day you'll only have memories of them.

Sampai lima tahun lalu, aku masih suka main ramean, jatuh cinta dalam-dalam pada sang pacar, hobi lihat konser musik, menggila di event-event sale midnight, nyetir random ke kota lain, nongkrong gak jelas sampai pagi di kafe sama teman-teman, meneriakkan "YOLO!" sebelum mengambil keputusan impulsif kayak beli tiket ke tempat yang gak pernah kukunjungi sebelumnya. See? Been there, done that.

But, things change.
Now, I'm okay with being ordinary and mundane and slow.

Mungkin karena di kantor, keadaanku sama sekali berbeda. Aku kerja dia Manajer Reservasi di Hotel Stanna, sebuah butik hotel dengan 50 kamar dan occupancy nyaris 100% setiap hari. Yep. Kami selalu full-booked. Gak perlu ditanya segimana sibuknya, karena 50 kamar ini diisi orang-orang berduit banyak yang permintaannya kadang absurd tapi harus tetap kami kasih. Seriously. Aku pernah mengantarkan dokumen cerai untuk tamu, menyiapkan bathbomb warna darah dan ngeset kamar jadi super spooky bareng tim House Keeping, jadi kaki-tangan ngeprank istri orang, bahkan cukup sering jadi tempat curhat di area lounge. Sepanjang gak kelewat batas normal dan gak bertentangan sama hukum, aku selalu berusaha terbaik buat memenuhi keinginan tamu.

Keseimbangan.
Aku suka bikin orang-orang bahagia, tapi aku juga merasa aman dalam kesendirian.
And I think it's okay. I can live with okay.

 I can live with okay

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
StayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang