Badanku menggigil kedinginan dan perutku mual. Ketika mencoba membuka mata dan menatap langit-langit yang asing, badanku terasa melayang berputar-putar, memaksaku memejamkan mata.
Bernafas lebih tenang, aku kembali mencoba membuka mata. Sebelah dulu. Oke. Pusing, tapi gak separah sebelumnya. Sebelah lagi ikut terbuka. Butuh waktu mengurangi sensasi menyakitkan di kepala, tapi akhirnya aku berhasil melihat sekeliling.
Ruangan kecil tempatku terbangun ini gelap, tapi berkas-berkas cahaya masuk dari lubang udara di dinding, membuatku bisa memandang sekitar. Ada sofa panjang di salah satu sudut ruangan, dan setelah memicingkan mata, aku baru sadar ada orang sedang duduk di sana.
Saat bergerak demi melihat lebih jelas, aku menggeser tanganku, mendadak merasakan sesuatu yang sakit di punggung tangan.
"Aduh!"
Sosok di sofa panjang bergerak, memandangku, lalu bangkit dan menyalakan lampu meja kecil di sebelah tempat tidurku.
"Lars. Gimana kamu?"
Tian, membungkuk di sebelah ranjang, dengan mata coklatnya yang besar dan ekspresi khawatir. Suaranya pelan dan dalam, dan mendadak kurasakan kalau jemarinya menyentuh pipiku lembut. Bikin aku makin meriang.
"Pusing." aku menjawab. Suaraku nyaris hilang, dan tenggorokanku sakit.
Tian mengambil gelas berisi air dari meja dan membantuku minum lewat sedotan. Ia cekatan banget ganjel-ganjel pakai bantal. Lengannya yang besar menarikku duduk, melingkar di punggungku.
Dan aku beneran bangun sekarang. Tubuh Tian terasa hangat dan nyaman, bersentuhan denganku yang cuma pakai sejenis piyama katun tipis yang kasar...seragam pasien RS?
Oh shit.
"Aku di..." aku memandang tangan kiriku, sebuah jarum infus tertancap di sana, tersambung dengan selang ke labu yang tergantung di atas ranjang.
"Rumah sakit. Kamu tadi pingsan di gym. Aku bawa kamu ke UGD terdekat..." potong Tian.
"Iya. Aku muntah-muntah di kamar mandi gym sebelum itu." aku teringat.
"Kamu keracunan makanan. Seafood, jamur, atau sesuatu yang kadaluarsa. Tapi kamu tadi dehidrasi parah, jadi harus infus dan nginep dulu semalam. Besok kamu bisa pulang kalau gak muntah-muntah lagi..."
Baru kusadari Tian masih merangkulku dari samping. Duduk di atas kasur, di sebelahku. Call me an opportunist, tapi aku gak bisa menahan diri untuk gak bersandar di pundaknya. It's so wide and toned and smells good...
Aku menghembuskan nafas keras-keras.
"I always hate hospitals." aku berkata, memandang balik Tian yang mengusap pundakku pelan. "Orangtuaku, dua-duanya, meninggal di rumah sakit... It's always been my unhappy place." entah kenapa, isi hatiku keluar begitu saja seperti muntahanku barusan. Mungkin efek keracunan makanan?
"I'm so sorry..." ia menggosok bahuku dan menarikku lebih dekat. Wajahnya tampak prihatin, seperti semua orang lain pas tahu kalau gak punya ayah dan ibu.
"Don't be. Tapi aku beneran gak suka rumah sakit. Warna dindingnya, lantainya yang bergema kalau ada orang atau tempat tidur lewat, semuanya kayak...disemprot desinfektan..."
Stop. Talking. Laras! Untungnya aku bisa berhenti sebelum menambahkan kalau mantan tunanganku yang keparat itu kerjanya di rumah sakit. Another reason to hate hospital.
"Aku paham. Beberapa tahun lalu, ibuku masuk rumah sakit lumayan lama. Kanker. Makanya aku udah skillful banget tidur di kursi ruang inap kayak gini..." Tian berkata sambil mengangguk. That explains the quick reactions before.
"Oh. How is she now?"
"Survived. She's too stubborn, even for the cancer, I guess." Tian mengangkat bahu. Sebuah senyum spontan dan tatapan nostalgia muncul saat ia membicarakan ibunya. Bikin hatiku hangat mendadak.
Seriously, there's nothing sweeter than a boy's smile when they talk about their mother.
"Kamu paling dekat sama ibu kamu ya?" tanyaku lebih lanjut. Sesuai dugaanku, senyumnya kembali mengembang. Megawatt smile that could light up the whole room.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay
ChickLitLaras Sada bercita-cita hidup tenang, sendirian...selamanya, kalau bisa. Dia gak butuh pasangan dan cerita romantis lagi. Pekerjaannya yang sibuk sebagai Manajer Reservasi di Hotel Stanna membuat hidupnya yang soliter terasa seimbang. Dia punya dua...
