Mr. Sahala Dalgliesh

36.5K 3.9K 104
                                        

Pagi hari di hotel, adalah waktu yang lumayan menyenangkan untukku. Kerjaan mulai merambat hectic sekitar jam 10an saat tamu-tamu mulai beranjak pulang, dan memuncak di pukul 12-13 pas semua orang mau check-out atau check-in sebelum makan siang. Itu gila sih. Meski punya 4 orang staff setiap shiftnya, aku memaksa diri untuk tetap berdiri di sekitar meja front-office sepanjang siang. Selain memudahkan buat timku, aku juga bisa dapat feedback langsung dari tamu-tamu saat mereka proses bayar.


Makanya, aku menikmati banget masa-masa tenang seperti sekarang: mengecek rencana reservasi hari ini yang lumayan padat, sesekali googling nama tamu yang belum kukenal, dan memeriksa sekilas laporan keuangan hari kemarin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Makanya, aku menikmati banget masa-masa tenang seperti sekarang: mengecek rencana reservasi hari ini yang lumayan padat, sesekali googling nama tamu yang belum kukenal, dan memeriksa sekilas laporan keuangan hari kemarin. Semua akan dibahas di rapat harian manajer.

"Bu Laras, nanti minta bantuannya dong. Ada tamu yang harus pindah kamar..." salah satu stafku, Manda, mengetuk pintu ruangan kerjaku.

"Wah? Kenapa?"

Manda memperlihatkan log book reservasi. Mr. Sahala Dalgliesh? Nama yang aneh. Semua nama yang gak berbau Indonesia akan ditulis dengan keterangan Mr./Mrs./Ms. supaya kami gak salah panggil.

Dia check-in 3 hari lalu di hari liburku, jadi aku belum pernah ketemu, dan stay di Deluxe Marrakech Room depan kolam renang. Setiap pagi, dia minta extend. Termasuk hari ini.

"Semua Deluxe Room kita full-booked hari ini karena sore nanti ada blocking untuk pernikahan Pak Iman dan Ibu Dara Sabtu besok. Semua deluxe akan dipakai. Termasuk kamarnya Pak Dalgliesh." Manda menjelaskan.

"Waduh."
Inilah alasan kenapa kami jarang banget kasih kamar untuk para walk-in-guest.

"Oke. Nanti saya ngobrol. Kemungkinan bisa geser kemana?" Aku mengecek availability. Kamar di Stanna hanya ada 50, terbagi tiga jenis: deluxe, studio dan suite. Ada satu lagi, sih, tapi dia special villa dan gak dijual setiap saat. Semuanya didekorasi dengan gaya yang berbeda dan unik, dengan rack rate mulai Rp 1.2jutaan.
Damn. Cuma ada tempat di suite, dan harganya nyaris tiga kali lipatnya.

Kalau upgrade ke studio, aku berani. Kalau ke suite...aku bisa diomelin abis sama Manajer Keuangan kami. Manda paham banget. Sebagai staf, dia gak mungkin ambil keputusan.
"Nanti saya ke kamarnya deh."

Semoga dia mau pindah. Buat kebanyakan tamu di Stanna, uang bukan masalah. Ada keluarga yang setiap liburan selalu sewa deluxe room di depan kolam renang selama seminggu penuh, dan gak mau di-upgrade ke studio room saat cuma ada satu kamar tersisa. Padahal 4 orang di satu kamar deluxe dengan dua extra-bed, lumayan sempit. Itu gara-gara mereka pengen buka kamar langsung bisa nyemplung kolam. Ada juga seorang seniman nyentrik yang kalau ke Bandung pasti stay di suite, sendirian. It's all about choices and preference.
Let's hope this Mr. D would pay more for his room.

"Assembleeeee!" Suara General Manager kami, Stu, menggelegar membahana terdengar dari luar. Manda buru-buru pamitan, sementara aku mengambil semua bahan laporan dan segera keluar untuk rapat pagi. Kalau si boss sudah heboh pagi-pagi, biasanya ada sesuatu yang aneh nih.

StayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang