Makan malam di rumah Prama dimulai dengan sangat awkward berkat kedatanganku yang bawa Tian mendadak. Kami berdua masih sama-sama belum bicara, belum makan, belum ngapa-ngapain lagi sejak pulang dari rumah sakit siang-siang barusan.
Meskipun ia tetap menggenggam tanganku dengan konsisten, sejak konsul, saat dokter menyuntikkan MTX, di mobil...sampai aku mengenalkannya pada papa dan mamanya Prama, tapi Tian gak bicara lebih dari beberapa kata padaku. Begitupun aku padanya.
We cried when we realized this short dream is already over. We can wipe the tears, but not the pain and the shock. Yet.
Prama ngajakin Tian ke kamarnya, begitu melihat wajah kami yang suram. Aku mencari Tante ke dapur. Makan malam di rumah Prama, aku hampir selalu ikutan masak bareng mama dan asisten rumahnya. Hari ini, menunya sedikit fancy: sop buntut lengkap. Lainnya ada tumisan sayur, telur balado, es pisang ijo...
"Tante gak pernah bikin sop buntut!" ia berkata dengan panik saat panci prestonya berdesis, "Kamu yang bikin kuah ya!"
"Tumben..." aku mengambil celemek di salah satu lemari dan mulai mengecek rak bumbu.
"Sop buntut buat Dalin. Takut gak enak kalau Tante yang bikin!"
Mamanya Prama adalah vegetarian jadi dia sering parno kalau harus mengolah daging yang lebih susah bumbunya ketimbang ayam atau ikan.
Finally. Something real to occupy my mind.
Memasak adalah salah satu cara terbaikku untuk menghindari stress. Memasak menyibukkan semua indera tapi bikin kita berhenti mikirin hal-hal lain. Mindfullness. Meditating. Focus. All those things people get at yoga class, I got them on the kitchen.
***
"Jadi, Tian sama Laras ini...pacaran juga atau gimana?"
Di meja makan, mendadak pembicaraan soal pernikahan Prama dan Dalin beralih. Berkat papanya Jupram yang super kepo tapi kurang sensi.
"Sudah serius, Om..." adalah jawaban singkat Tian. Hari ini aku akhirnya melihat Tian berakting. And yes, it's pretty believable. Meskipun aku tahu dia masih bad mood, dia berubah super charming sesorean. Sampai ada pertanyaan barusan, sih.
Dalin melebarkan matanya padaku, senyum-senyum. Aku membalas senyumannya selebar mungkin. Sejak Dalin datang, aku terus-terusan menghindar. One single touch will break all my defenses. Meskipun perasaanku sudah jauuuuuuhhh lebih baik setelah masak barusan. Dalin is a bloodhound, aku yakin banget nanti malam dia bakalan memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaan tepat.
"Bagus. Karena Laras ini, udah kayak anak Om juga nih. Kami dulu pengen anak banyak-banyak, tapi dikasihnya cuma satu..." Papanya Prama menambahkan.
"Oh ya, Pa? Kirain dapat Prama satu trus pusing ngasih makannya, jadi satu aja..." Dalin berkomentar, mengundang tawa dari kedua calon mertuanya. Yang disebut-sebut segera mencubit pipi Dalin dengan mesra. Ah. Lovebirds.
"Kami punya Prama tuh agak terlambat. Lebih tua dari kalian. Tante 35 tahun, Om 37 tahun. Setelah itu, berkali-kali kami program nambah anak...tapi gak pernah sukses, sampai akhirnya, ya sudah, ikhlas menerima kenyataan." Om bercerita, membuatku tanpa sadar menegakkan dudukku. Menahan sebisa mungkin air mata yang kuyakin bisa tiba-tiba menderas.
"Masa-masa berat di mana kami selalu ceria dan happy di depan Prama. Tapi kalau sudah di kamar menangis bareng, ya, Pa. Sempat hampir 4 bulan hamil. Eh, tetap gagal juga..." Mamanya Prama menambahkan, melempar senyum pada si Om.
"Nikah itu butuh kerja keras, yang dibagi bukan cuma kebahagiaan. Tapi hidup secara keseluruhan. Ada sedih, kecewa, sakit hati, bosan... Nanti bakalan kerasa kalau cinta itu sebetulnya adalah komitmen, bukan cuma perasaan. Makanya, Om suka jawaban kamu barusan, Bastian. Serius. Berbagi hidup dan berkeluarga itu gak gampang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay
Chick-LitLaras Sada bercita-cita hidup tenang, sendirian...selamanya, kalau bisa. Dia gak butuh pasangan dan cerita romantis lagi. Pekerjaannya yang sibuk sebagai Manajer Reservasi di Hotel Stanna membuat hidupnya yang soliter terasa seimbang. Dia punya dua...
