Plan of The Unplanned

19.2K 2.7K 200
                                        

Perencanaan dan harapan, gak semuanya bisa berlangsung seperti bayangan kita. Life has its own wicked way to surprise us.

Seperti sekarang. Siapa mengira kalau ternyata, hal-hal yang sempat kupikir gak bakalan kualami...ternyata kejadian.

Tiga bulan lalu, aku mungkin gak bakalan menyangka akan tiba suatu malam di mana seorang laki-laki hilir-mudik di kamarku nelpon banyak orang berupaya menggeser jadwalnya yang penuh besok, demi mengantar aku ke rumah sakit...buat cek kehamilan.
It's surreal.
But it happens.

"Oke, gak papa. Aku nyusul langsung ke Surabaya, setelah urusanku di sini selesai. Urusan pribadi. Iya. Malamnya, gak papa aku wawancara susulan di hotel. Oke. Thanks."
Tian menelpon orang ketiga...atau keempat? Sudah hampir 30 menit dia bicara di teleponnya, sementara aku duduk di kasur mengamatinya, masih dengan perasaan gak percaya.

atau keempat? Sudah hampir 30 menit dia bicara di teleponnya, sementara aku duduk di kasur mengamatinya, masih dengan perasaan gak percaya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

The test turns out positive. All six of them.

Tentu kami sama-sama shock, sama-sama speechless bermenit-menit. Bedanya, gak lama Tian langsung berpikir praktis dan memutuskan kalau aku mesti segera periksa ke dokter lalu dengan taktis segera mengatur ulang jadwalnya supaya bisa temenin aku.
Sementara aku, masih ngerasa gak tahu mesti bereaksi dan melakukan apa. Yang pertama terlintas di pikiranku adalah...

...I'm gonna have my own baby!

Selama ini aku gak pernah bermimpi sedikitpun untuk punya anak. Kepikiran dikit pernah, sebelum nikah, tapi cuma selintas dan kemudian bad things happened...
Aku mengubur dalam-dalam keinginan untuk punya anak karena sudah gak pengen punya pasangan. Dan aku konservatif banget, gak tega mengadopsi anak trus maksain dia untuk tumbuh besar cuma punya satu orangtua. Plus I have lots of nieces and nephews to love.

Now I'm gonna have my own baby!
I'm gonna have my own family!

"Kamu gak papa? Mau aku ambilkan minum? Makanan? Bantal? Buku sesuatu?" Tian selesai menelpon, menghampiriku dan terlihat khawatir.

"I'm good." jawabku akhirnya.
Maybe it started with things we shouldn't do.
But, it's still a miracle. Sebuah kesadaran muncul, menghilangkan semua kekhawatiran yang tadi sempat ada.

"Don't worry. We got this." Tian berkata dengan serius, menggosok bahuku, mencoba meyakinkan.

"Yan, I'm good. Seriously." aku menjawab, sebelum tiba-tiba luapan perasaan hangat membanjiri hatiku. Aku gak bisa menahan air mata, saat menyadari kalau aku selama ini membuang jauh-jauh keinginan punya anak, tapi ternyata aku masih dikasih kesempatan! I'm so...grateful.

Meskipun harusnya gak gini kejadiannya. People should get married before they get pregnant for sure! Dan mungkin Tuhan bikin kami berdua pusing karena kami nakal, we deserve this, tapi...aku gak bisa menahan diri untuk gak ngerasa happy. I'm feeling ecstatic, I can't stop crying.

"Lars, aku tahu ini pasti berat buat kamu, dengan kerjaan kamu dan juga karena kita baru kenal sebentar... But I want that baby, okay?" Tian berkata cepat dengan nada super panik, jelas salah menebak perasaanku, "Aku akan temenin kamu kemana-mana, we'll get married, I'll do anything. Please. Don't think anything bad..."

StayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang