French kiss

1.3K 63 0
                                        

Sudah seminggu Rista tinggal di apartemen Lana, dan selama satu Minggu itu Rista tidur di kamar tamu, sebenarnya Lana menawarkan untuk tidur di kamar nya, namun Rista menolak halus dengan alasan ia takut tidak mudah bergerak saat tidur, padahal sebenarnya ia sangat ingin tidur seranjang dengan Lana namun ia takut tak bisa mengontrol diri untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh lagi, ia adalah seorang perasa dan ia pun mengerti kalo Lana mungkin belum siap itu terlihat dari Lana yang selalu menghindar setiap kali Rista mencoba memancing hasrat Lana.

Rista sebenarnya bukan orang yang agresif tapi jika dengan Lana tak tau kenapa gairah nya selalu bangkit walaupun itu hanya mencium aroma parfum Lana saja.

Kadang ia berpikir apakah ini karena kehamilan nya? Tapi ia buru-buru menepis pemikiran ga jelas nya itu.

Sore ini seperti biasa, setelah mandi Rista akan memasak sambil menunggu Lana pulang kantor, hari ini ia akan membuat tumis kangkung, telur dadar, ayam goreng, dan sambel kemangi.

Dengan bersenandung kecil, ia mulai memotong kangkung, saat ini ia merasa sangat bahagia, bahkan ia berpikir ia seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang kerja.

"Aku pulang" teriak seseorang dari arah pintu.

Rista menghentikan aktivitas nya yang sedang memotong kangkung itu sementara lalu melihat jam di ponsel nya yang menunjukkan pukul 15.20 wib.

Ia mengernyitkan keningnya heran, karena biasanya Lana akan pulang jam lima sore.

"Kamu lagi masak apa yang?" Hampir saja Rista melemparkan hp yang sedang di genggamannya karena kaget saat melihat Lana sudah ada di hadapannya.

"Ihhh kamu ngagetin" gerutu Rista lalu melanjutkan aktivitas nya yang tadi sempat tertunda.

"Hehe maaf" ujar lana cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kamu masak apa?" mengulang pertanyaan nya tadi yang belum di jawab oleh Rista.

"Aku bikin tumis kangkung, telur, ayam, sama sabel yang" jawab Rista, tapi tangan dan pandangan nya masih fokus mengiris bawang putih.

Ntah sejak kapan mereka mulai saling memanggil sayang, tapi Rista tidak peduli kini ia sangat bahagia karena hubungan nya dengan Lana kian membaik, tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka seperti sebelumnya.

Rista melirik Lana yang kini tengah duduk di meja makan dengan dua tangan di atas meja, senyum kecil nya muncul saat menyadari Lana terus memperhatikan semua gerak gerik nya.

"Eh tumben kamu jam segini udah pulang?" Tanya Rista.

Lana yang masih anteng kini bangkit dari duduk manis nya lalu berkata "aku..aku kangen sama kamu makanya aku pulang cepet" setelah menyelesaikan perkataannya Lana lari menuju tangga meninggalkan Rista dengan pipi yang merah merona.

Rista terkekeh kecil melihat tingkah Lana yang sangat lucu menurut nya, masa baru bilang kangen aja udah kaya gitu, gimana kalo lebih, eh!!

*******
Dua jam kemudian masakan Rista selesai, namun Lana belum juga muncul, rasa was-was dan khawatir kini mulai hinggap di kepala Rista.

Setelah menata piring dan makanan di meja makan Rista memutuskan untuk menyusul Lana di kamarnya.

Tok tok tok

Sudah berkali-kali ia mengetuk pintu namun Lana tak kunjung membukakan pintu, bahkan sekedar menyahuti ketukannya pun tidak.

Dengan jantung berdebar kencang Rista memegang handle pintu dan menekan nya ke bawah, dan ternyata pintunya tidak di kunci.

Jantung nya semakin berdetak cepat saat ia memasuki kamar Lana, kamar ini tidak terlalu luas tapi sangat nyaman, dengan warna cat abu-abu dan hitam yang mendominasi dinding, terlihat juga ada sebuah komputer rakitan di sudut sebelah kanan, sebuah meja belajar dan sebuah lemari dengan buku yang tertata rapih di sebelah kiri komputer, di sebelah kanan komputer ada sebuah pintu kaca yang menuju ke balkon, lemari besar di sebelah kiri pintu, dan sebuah tempat tidur berukuran sedang di tengah-tengah ruangan dengan nakas kecil di sebelah dan beberapa foto di atas nakas itu.

Rista menghampiri Lana yang sedang tertidur pulas di ranjangnya, Rista menahan tawanya saat melihat Lana yang tengah tertidur sambil memeluk guling dengan mulut sedikit terbuka, Lana pun hanya memakai singlet berwarna putih dan celana bokser berwarna merah.

Dengan hati-hati Rista duduk di sebelah tubuh Lana yang masih tenggelam di dalam mimpi, tangannya pun mulai terulur lalu sedikit menyibakan rambut Lana yang menutupi wajah polosnya.

Sentuhan itu mulai turun ke mata Lana, lalu ke pipi, dan berakhir di sudut bibir Lana, Rista sedikit menggigit bibir bawahnya, saat permukaan tangannya menyentuh bibir Lana yang sedikit basah dan berwarna merah muda.

Entah keberanian dari mana, Rista sedikit membungkukkan badannya, matanya terpejam saat bibir nya menyentuh bibir Lana, selama beberapa saat Rista hanya diam menikmati bibir Lana yang terasa sangat lembut dan sedikit basah itu, namun tiba-tiba Lana menggerakkan bibirnya melumat pelan bibir Rista, Rista shock dan saat ingin melepas pangutan Lana, tangan Lana dengan sigap meraih tengkuk leher Rista.

Setelah rasa kagetnya mereda Rista pun membalas pangutan Lana, bahkan kini tangannya pun sedikit meremas lembut rambut Lana menyalurkan kenikmatan yang sedang melanda tubuhnya.

Lana membuka sedikit mulut nya dan lidah Rista langsung menyusup kedalam mulutnya, lidah Rista menari-nari mengabsen setiap rongga dan gigi di mulut Lana, sesekali lidah mereka pun saling melilit menimbulkan sebuah kenikmatan yang tak dapat di jabarkan dengan kata-kata.

Rista melepas pangutanya saat ia merasa butuh oksigen untuk mengisi paru-parunya.

Napas mereka memburu, dengan bibir keduanya yang sedikit bengkak, Rista tersenyum lalu menyatukan kening mereka dengan posisi Rista yang kini menindih tubuh Lana.

Lana pun membalas senyuman Rista, lalu mengecup singkat bibir Rista yang memanggilnya meminta di kecup.

"Lan, bolehkah aku melakukan lebih?" Tanya Rista ragu-ragu, jujur saja ia takut mengingat Lana yang selalu menghindari nya selama ini.

Lana diam ia merasa bingung, jujur saja ia pun sangat menginginkan Rista namun di satu sisi ia pun takut melukai bayi di dalam kandungan Rista.

"Tapi ta"

"Tapi apa lan? Aku tau kamu juga menginginkan aku lan" potong Rista, dengan nada kesal, ia sangat merasa kesal pada Lana, dan dia juga sangat kesal harus menahan hasratnya lebih lama lagi.

"A..aku takut bayi nya kenapa-napa jika kita melakukan itu" lirih Lana, nyali nya langsung ciut melihat raut wajah Rista yang tak bersahabat tadi.

"Hah" Rista hanya melongo lalu kemudian tertawa karena kepolosan Lana, ia tak habis pikir kenapa ada orang setua Lana yang masih sangat polos seperti ini.

Lana hanya mengangkat alisnya heran, melihat sikap Rista yang berubah-ubah, baru saja memarahinya lalu sekarang malah tertawa, ada apa dengan nya? Monolog lana di dalam hatinya.

Perlahan tawanya mereda lalu ia tersenyum "sayang, dia ga akan apa-apa asal kamu mainnya pelan-pelan"

"Benarkah?" Tanya Lana dengan polosnya yang langsung di angguki oleh Rista.

Rista kembali menyatukan bibir mereka, lana pun mulai membalas nya dengan lembut, mata mereka terpejam meresapi kenikmatan dunia yang tengah melanda kedua insan ini.

TomboyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang