Bonus chapter deh karena dua hari kemarin sempat tidak update🤧😚🙏🏻
Selamat membaca...
💐💐
Malam itu, setelah pulang dari taman, rasanya rumah sudah kembali menjadi tenang. Walaupun tanpa kehadiran Mbok Darmi saat ini. Lampu-lampu di seluruh ruangan meredup, hanya menyisakan cahaya tamaram yang jatuh samar di lantai marmer rumahnya.
Naka kini duduk sendirian diruang kerja setelah jam makan malamnya. Jasnya yang tadi dia kenakan sudah menggantung di kursi, dirinya pun telah berganti pakaian santai yang nyaman digunakan. Asap tipis mengepul dari cangkir kopi yang masih hangat ditangannya.
Ruang itu sepi sekali. Hanya suara detak jam dinding ayang terdengar jelas, beriring dengan bunyi halus AC central di langit-langit. Layar laptop dihadapannya menyala, menampilkan dokumen kerja yang harusnya dia selesaikan malam ini. Namun, kursor hanya berkedip pada layar kosong.
Naka mentapnya lama, tapi tidak ada satu pun ata yag terbentuk dikepalanya. Pandangannya pun juga sudah mulai berkabur, pikirannya pun sudah mengembara entah kemana.
Yang muncul saat ini dikepalanya justru wajah Tisya. Senyum canggung yang terjadi di taman tadi sore, ketika Banyu datang enteng menyapa gadis itu. Mungkin tadi jika dia tidak bisa menahan marah nya lagi, Tisya akan mendapatkan omongan tidak enaknya. Tapi Naka berusaha untuk semua berjalan tenang, tanpa amarah, tanpa ego, tanpa apapun yang saat ini justru tersimpan dibenaknya.
Ujung jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, berulang, berirama tak beraturan. Kopi yang ia letakan disamping, lalu ditarik kembali hanya untuk menyibukan tangannya.
Dan kemudian... gema suara halus lelaki itu seakan muncul kembali, seakan diputar ulang tanpa terhenti, Ringan, santai, tapi menusuk ego nya.
Princess Tica? , pikirnya
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, tapi justru semakin jelas suara itu membayang. Panggilan itu untuk Tisya, namun nyatanya seolah-olah Banyu kini berdiri dihadapannya, menantangnya dengan senyum remeh.
Rahangnya mengeras. Ia menggeser cangkir terlalu kasar hingga porselennya beradu pada meja, bunyinya menggema pelan diruangan kerjanya yang hening.
Bocah bau kencur, dia pikir siapa, berani memanggil Tisya seperti itu tepat dihadapan suaminya?
padahal logikanya bilang, itu hanya candaan para remeja. Tidak ada yang istimewa. Tisya hanya dianggap teman oleh anak itu. Tapi tubuhnya pun menolak percaya. Dimulai dari dirinya melihat bocah itu bercanda dengan Tisya disekolah, mengantarnya sampai depan gerbang rumah, dan ternyata saat ini dia mengetahu panggilan dari mulut bocah lelaki itu.
Naka bersandar ke kursi, kedua tangannya terlipat di dada. Ia mencoba menepis pikiran itu yang entah kapan selalu menginjak harga dirinya sebagai pria dan suami Tisya. Dirinya mencoba kembali menyibukan diri dengan menatap layar laptop lagi. Namun, huruf-huruf di dokumen nya terlihat seperti bayangan samar— tak ada satu pun yang bisa di cerna.
Naka ulangi sekali lagi, dirinya tidak suka dan tidak bisa membiarkan orang lain menyentuh apa yang sudah jadi tanggung jawab dan miliknya. Karena Tisya sudah menjadi istrinya, otomatis gadis itu juga menjadi hak miliknya bukan?
Jemarinya telah terkepal dipangkuan. Ia menahan diri untuk tidak menghantam meja atau melempar sesuatu— hal yang dulu sering dilakukannya kala emosi datang tiba-tiba. Kini, rumah nya telah ada penghuni lain yang menjadi faktor utama dirinya seperti ini. Maka ia harus lebih berhati-hati. Mungkin saja kedepannya, dia akan membuat ruangan ini kedap suara. Tidak ada ruang untuk ledakan amarah sekarang se;ain menahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomanceHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
