Telepon yang Tisya terima sudah lama berakhir, tapi Tisya masih juga belum menurunkan ponselnya.
Ia berdiri bersandar di pembatas tangga lantai atas—area bundaran kecil yang biasa ia pakai untuk duduk sebentar kalau ingin menenangkan kepala. Lampu temaram menyinari lantai marmer, membuat rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Dari posisi itu, ia bisa melihat sebagian ruang keluarga dibawah, tapi sudah tidak ada siapapun di bawah sana.
Layar ponselnya sudah gelap. Namun pikirannya belum.
Bukan isi percakapan barusan yang membuat dadanya terasa aneh—melainkan nada Kak Balindra. Terlalu formal dari biasanya. Terlalu singkat. Seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak tumpah diwaktu yang salah.
Biasanya Kakaknya itu juga tidak pernah sehemat itu dalam berbicara. Akan selalu ada pertanyaan lanjutan. Tentang makannya, tentang sesuatu yang terjadi dikelas, bahkan tentang hal sekecil apapun yang Tisya rasakan.
Tapi tadi tidak.
Dan yang paling mengganggu—pertanyaannya tentang Balinda.
Tisya menurunkan tangan yang memegang ponsel, menyandarkan lengannya dipagar besi berukir itu. Ia menghembuskan napas pelan,
menatap kosong ke arah lorong di mana kamar Naka yang tepat bersebelahan dengan ruang kerja pria itu.
Mungkin cuma perasaanku aja, batinnya.
Rumah ini terlalu besar untuk diisi oleh pikiran yang terlalu ramai.
Langkah kaki terdengar dari arah koridor.
Bukan tergesa. Bukan juga ragu.
Tisya menoleh saat Naka muncul dari arah kamarnya sendiri, mengenakan kaos rumah dengan rambut yang sedikit basah seperti orang yang memang selesai mandi.
"Kenapa belum tidur?" tanya Naka begitu melihatnya disana.
Tisya tersenyum kecil. "Habis telepon."
"Sama siapa?"
"Kak Balindra."
Naka berhenti berjalan.
Hanya satu langkah. Tapi cukup jelas untuk disadari—setidaknya oleh dirinya sendiri.
"Oh." Naka mendekat, bersandar di sisi pembatas tepat samping gadis itu. "Membicarakan apa?"
"Nanya hal-hal biasa," jawab Tisya. Lalu menambahkan pelan, "Tapi aku ngerasa nadanya aneh."
Naka menoleh. "Aneh bagaimana?"
"Seperti...nahan sesuatu," kata Tisya jujur. "Terus juga dia malah nanya Balinda."
Hening sejenak tercipta di antara mereka.
Naka mengalihkan pandangan ke bawah tangga. "Mungkin lagi nyari kembaran nya."
"Iya," sahut Tisya, meski alisnya masih sedikit berkerut. "Mungkin?"
Ia tidak melihat bagaimana rahang Naka mengeras pelan.
Tisya mengangkat bahu. "Kak Balindra juga keliatan khawatir. Tapi kayak menutupi dari aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
