Langkah Tisya terhenti diambang pintu kamarnya. Sejenak dia berdiri, hanya memandangi ruangan kecil ini, seolah ruangan ini begitu asing baginya, dan seharusnya memang seperti itu. Tirai tipis berwarna putih di jendela bergoyang ringan tertiup angin dari ventilasi. Meja belajar nya masih berantakan dengan buku-buku catatan yang terbuka, pensil yang tergeletak miring, dan tumblr kesayangan nya yang dia taruh di atas meja tersebut. Biasanya pemandangan seperti menenangkan baginya, karena kegiatan itu selalu menjadi rutinitas nya hampir setiap hari. Tapi, malam ini rasanya dia menjadi manusia asing lagi ditempat ini seperti pertama kali Tisya menginjakkan kaki nya.
Mocha dan Coco telah lebih dulu melesat masuk, melompat ringan ke atas kasurnya. Kedua kucing itu meringkuk, seakan tahu bahwa dirinya sedang butuh teman agar tidak menangis. Suara dengkuran halus mereka menjadi satu-satunya yang hidup diantara keheningan kamar, seolah berusaha mengisi celah kosong di dalamnya.
Tisya masuk—menutup pintu pelan, hampir tanpa suara, seperti takut menghantam dada nya yang meraung seharian ini. Pegangan pintu terasa begitu dingin di telapak tangannya, membuatnya sadar bahwa suhu tubuhnya sendiri hangat karena menahan emosi untuk meneriaki suaminya itu. Tubuhnya terasa lunglai— bukan sekedar lelah karena seharian bersekolah, melainkan karena pikiran yang menumpuk tanpa jalan keluar. Seolah hari ini semua energi nya tersedot, meninggalkan hanya rasa kosong.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, membiarkan Mocha dan Coco bergeser sedikit, lalu menatap langit-langit kamarnya lama. Lampu bohlam kecil di atasnya memantulkan cahaya menerangi seisi kamar, menciptakan bayangan samar di dinding. Pandangan nya kosong, tidak benar-benar melihat apapun. Yang dia lihat justru jelas sekali adalah potongan-potongan sore tadi yang berputar di kepalanya tanpa henti.
Gema suara Naka kembali hadir, tajam, jelas dan seakan baru saja diucapkan dari mulut pria itu.
"Jangan sampai kamu mencari pelarian dengan orang lain"
Kalimat itu seperti pisau tajam yang menghantam tepat di dadanya. Bukan hanya melukai, tapi menggoreskan luka yang sulit hilang. Sebagian dari dirinya marah, ingin membantah keras-keras bahwa dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Tapi disaat yang sama, hatinya justru sakit mendengar Naka menuduhnya seperti itu. Seolah-olah seluruh ketulusannya untuk pernikahan ini diputarbalikkan, dipandang sinis, dan diremehkan.
Padahal yang Tisya inginkan dari pernikahan ini sederhana— sedikitnya perhatian Naka untuk dirinya sebagai teman satu rumah, dan setidaknya Naka menghargai waktu dirinya yang digunakan untuk pria itu. Dia juga tidak pernah meminta sesuatu yang muluk-muluk, bahkan uang jajan nya pun masih menggunakan uang bulanan yang papahnya beri. Namun yang dia terima kemarin dan hari ini justru rasa kecewa dan tuduhan, seolah dirinya yang salah karena berharap lebih dari pria bernama Naka.
Dia memeluk bantal disamping nya yang di ambil nya dengan erat, wajahnya ditenggelamkan dalam kain sarung bantal yang baru saja dia ganti kemarin. Aroma bunga sakura yang tadi di semprotkan masih terasa samar pada kurungan bantalnya— membuat dirinya tenang.
Air mata yang semalam jatuh, kini pun enggan untuk jatuh kembali, meski kelopak matanya pun panas. Tangis seakan tertahan di kerongkongan, menolaknya keluar. Yang tersisa kini hanyalah diam-diam rasa sesak dan marah yang menjadi satu. Walaupun pikirannya berlarian tak tentu arah, memutar kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya makin tersudut. Semakin dia mencoba menenangkan diri, semakin berat justru rasanya.
Kedua kucing nya kini bergerak pelan. Mocha, kucing berbulu putih dengan corak coklat di telinganya itu menempelkan tubuhnya di pinggang Tisya, sementara Coco dengan corak belang tiga menjilati jemari Tisya seolah mencoba menarik perhatiannya agar tidak menangis. Sentuhan kecil itu malah membuat Tisya mengeluarkan suara lirih, hampir seperti desah putus asa "Coco, aku capek ih" bisiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
