Supermarket sore itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu neon putih memantul dari lantai keramik yang licin, membuat suasa terasa bersih sekaligus dingin. Tisya mendorong troli dengan kedua tangannya, sementara Naka kini berjalan santai di sampingnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Jadi apa saja yang habis?" suara Naka datar, tapi kepalanya sedikit menunduk ke arah Tisya.
Sebelum tadi mereka memutuskan untuk kembali ke rumah, Tisya sempat mengatakan bahwa beberapa bahan-bahan masakan yang berada di dapur telah habis. Jika mereka igin memasak untuk orang tua Naka yang tak lain adalah mertua nya, Tisya harus membelinya telebih dahulu. Jadilah sekarang ini mereka harus berbelanja.
Tisya menggigit bibir, matanya fokus ke deretan rak sayuran di depan, sejenak berpikir—apa saja yang dibutuhkan untuk beberapa bulan ke depan agar nanti tidak perlu repot berbelanja bulanan lagi. Walaupun setiap bulannya nanti Mbok Darmi yang berbelanja.
"Beras, mungkin tinggal sedikit? Minyak goreng habis, sama beberapa bumbu dasar juga kosong. Kalau mau masak agak banyak ya harus belanja dulu untuk isi stock"
Naka mengangguk pelan, matanya melirik ekspresi serius gadis itu. "Kamu kayaknya udah siapin daftar belanja nya"
Tisya mendesah, memajukan troli ke rak khusus sayuran "Iya Mas Naka. Kalau enggak, nanti aku bingung sendiri mau masak apa"
Ada nada serius yang keluar dari Tisya berbicara seperti itu, dan entah kenapa itu justru membuat Naka ingin tersenyum. Gadis itu masih berusaha menjaga jarak dengan pilihan katanya, padahal sikapnya sudah jelas terbaca—canggung setengah ingin mati.
Tisya mulai memilih tomat, matanya meneliti satu-satu, membolak-balik dengan sangat hati-hati. Naka hanya menyandar sedikit di troli, memperhatikannya. Tanganya yang kecil bergerak begitu telaten, padahal hanya soal tomat.
"Seakan-akan lagi milih perhiasan, bukan sayuran," gumam Naka tiba-tiba.
Tisya langsung menoleh cepat "Hah?!"
Naka menaikkan satu alis, rupanya dia tidak begitu sadar ketika bergumam tiba-tiba seperti itu. "Serius banget. Kalau tomatnya bisa berbicara, mungkin udah grogi duluan dipandagi lama seperti itu. Kayak kamu kalau bicara sama saya"
Pipi Tisya langsung merona, ia buru-buru menunduk dan memasukan dua buat tomat ke plastik. "Namanya juga pilih yang bagus. Jangan sampai busuk supaya kalau dimasak tidak basi" cicitnya
Naka menghela napas singkat, tapi sudut bibirnya terangkat samar. "Kalau begitu, kamu juga harus bisa lebih hati-hati memilih orang disekitar kamu. Jangan sampai yang kelihatan bagus, dalamnya busuk"
Tisya terhenti sesaat dengan kegiatan memilihnya. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tapi matanya menangkap sekilas tatapan Naka yang dalam—seolah menyiratkan sesuatu. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, mendorong troli menjauh ke rak bumbu dapur
"Ini... kecap sama saus juga udah mau habis," katanya mencoba mengalihkan topik.
Naka ikut berjalan pelan, langkahnya panjang dan santai, membuat Tisya merasa seperti harus mempercepat langkah kecilnya agar seirama. Troli yang di dorongnya hampir menabrak rak karena merasa gugup.
"Pelan" tegur Naka dengan suara rendah, taganya otomatis meraih pegangan troli dari belakang, menahan lajunya. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Tisya serasa meloncat ke tenggorokan.
Ia buru-buru melepaskan troli dan berujar dengan berani. "Kalau gitu Mas Naka saja yang dorong"
Naka menatapnya sebentar, mengangkat sebelah alis "Kamu menyuruh saya?"
Tisya lantas tersadar, sebelum akhirnya menggeleng dan mangambil alih kembali troli yang dilepasnya. Kemudian tak lama tanpa banyak bicara, tangan Naka telah mengambil alih pegangan troli. Tubuhnya yang lebih tinggi membuat troli terlihat kecil di tangannya. Tisya berjalan disamping pura-pura fokus menatap rak-rak penuh bumbu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
