"Ca...kamu harus ke sini sekarang"
Tisya terdiam sesaat, ponsel menempel di telinga.
"Penting banget."
Nada suara Libra terdengar beda. Lebih tegang. Lebih mendesak dari biasanya gadis itu menelpon.
"Aku nggak bisa jelasin lewat telepon."
Kening Tisya berkerut.
"Li, kamu kenapa sih? Kamu bikin aku takut."
Di seberang sana, Libra menyebutkan akan mengirim lokasi dan harus berangkat menggunakan motor.
Lalu telepon terputus.
Tisya menurunkan ponselnya perlahan, nada notifikasi masuk. Layar menyala menampilkan peta dan pin lokasi sebuah tempat tertuliskan nama restoran.
Perasaannya entah mengapa langsung tidak enak.
Ia bangkit dari sofa dan berjalan ke jendela. Tirai tipis disibakkan, memperlihatkan hujan yang turun deras, memburamkan suasana di luar sana.
Sekarang? Hujan begini?
Naik motor di cuaca seperti ini jelas bukan rencana yang masuk akal. Jalan licin, angin dingin, walaupun jarak tidak terlalu jauh dari lokasi rumah nya. Otaknya mencoba menahan—mencari alasan untuk tidak pergi, mengingat juga petuah yang Naka katakan.
Namun ada sesuatu yang terasa lebih kuat dari logika.
Rasa penasarannya.
Rasa khawatirnya terhadap gadis itu.
Dan suatu firasat yang terus menganggu nya dari tadi.
Kalau sampai Libra sebegitu nya...kemungkinan emang ada sesuatu.
Ia menoleh ke arah jam dinding, lalu kembali menatap ponsel di tangannya.
Akhirnya, tanpa menunggu lama Tisya menghela napas pelan dan berdiri.
Tangannya meraih jas hujan yang tergantung di balik pintu. Bunyi plastiknya kering saat ia mengibaskannya, lalu memakainya dengan gerakan cepat namun gugup.
Dalam hati ia bergumam.
"Libra nggak mungkin drama tanpa alasan yang jelas."
Sebelum berlari menuju pintu rumah, Tisya sempat berteriak untuk pamit kepada Mbok Darmi bahwa ia akan pergi sebentar.
"Mbok aku pergi sebentar, pinjam motor pak satpam ya."
Tanpa menunggu jawaban, Tisya pun segera berlari.
Begitu pintu rumah terbuka, suara hujan langsung menyambut—lebih keras, lebih dingin, seolah menguji keputusannya.
Air hujan menyiprat ke lengannya saat ia melangkah keluar ke teras.
Saat menyalakan motor, layar ponselnya kembali menyala, masih menampilkan lokasi yang tadi di kirim.
Layar ponsel nya terdapat titik titik dari air hujan, sebelum memasukkannya ke dalam saku, Tisya menatap titik lokasi itu lebih lama untuk mengingat jalan saat ia pergi.
Lalu dengan suara nyaris pelan tak terdengar di balik helm, ia berbisik, "apasih yang sebenrnya mau kamu tunjukin ke aku, Li?"
Motor akhirnya pun melaju menembus hujan, hati nya gelisah memikirkan semua ini ditambah kondisi cuaca yang saat ini mendukung dirinya untuk termenung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
