Halo-halo aku kembali setelah sekian purnama, maap ya kemarin benar-benar rehatin otak aku dulu after revisi.
Dan semoga part ini cukup membuat kalian makin penasaran😊🤲🏻
Selamat membaca😇
💐💐
Dua minggu berlalu sejak hari itu. Hari di mana hanya ada amarah, aula yang sepi teruntuk Tisya dan kata kata yang memalukan dari mulut orang yang pernah menjadi teman terdekat nya. Kini, semuanya hanya jadi kenangan yang masih terasa getir untuk Tisya ingat. Tapi waktu berjalan cepat—tanpa menunggu siapa pun, masa ujian akhir pun kini di depan mata.
Sekolah kini dipenuhi suasana sibuk dan tegang dari siswa kelas dua belas. Di setiap sudut kelas, murid-murid menunduk menatap buku, mencoret-coret dengan stabilo warna, atau sibuk menghafal materi yang telah diberikan. Bahkan kantin yang biasanya ramai kini lebih terlihat sepi.
Tisya pun tak berbeda.
Semenjak kejadian itu pula, suaminya—Naka memang sudah tidak pernah datang ke sekolahnya lagi. Bukan karena Naka mengetahui masalah yang Tisya rasakan, tetapi karena urusannya dengan pihak sekolah dan kerja sama penjelasannya tentang beasiswa sudah selesai. Setelah itu, semua tindak lanjutnya diarahkan ke tim dari kantornya. Bagi Tisya itu adalah kabar baik. Tidak ada alasan untuk merasa canggung di sekolah. Tidak perlu khawatir kalau tatapan teman-temannya bakal beralih ke arah nya lagi.
Tapi anehnya justru dia merasa tidak memiliki pelindung, walaupun memang sebenarnya Tisya tidak merasakan perlindungan dari pria itu. Di rumah pun juga pria itu tidak menyapa dirinya sampai detik ini. Padahal kan Tisya juga butuh semangat menghadapi hari pertama ujian.
Setiap pagi ia hanya datang lebih awal, duduk di bangku sesuai nomor kartu peserta ujian nya dan tenggelam dalam lembar-lembar latihan soal yang ia siapkan sendiri. Seusai ujian, ia pun juga langsung ke ruang bimbingan konseling untuk bertanya mengenai pengurusan berkas pendaftaran perguruan tinggi nanti.
Mungkin kini, hari-harinya akan hanya diisi dengan belajar dan diam. Libra pun masih menatapnya sesekali, tapi tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut nya. Tisya pun rasanya juga berusaha untuk tidak peduli dengan gadis itu. Zee dan Sheila pun berhenti menyinggung apa pun—entah karena bosen atau karena mereka sibuk mengurus ujian nya. Banyu kadang masih sering menyapa nya, bahkan mencoba menawarkan Tisya mengenai pendaftaran perguruan tinggi untuk melakukan nya bersama.
Dan di rumah... apa yang diharapkannya? Diam nya Tisya juga hanya angin lalu bagi pria yang menjadi suami nya.
Namun yang sebenarnya terjadi justru Naka menyadarinya. Dua minggu belakangan, Tisya jarang bicara dengannya. Tidak seperti dulu—walaupun jarang, setidaknya mereka memiliki interaksi yang lumayan bagus bagi Naka. Sekarang, setiap pulang, Naka hanya mendapati Tisya duduk di meja makan sembari sesekali membuka buku, atau bahkan ketika ia melewati kamar gadis itu—dia melihat Tisya sudah tertidur dengan kacamata yang masih menempel di wajahnya.
Awalnya, ia memang memilih diam. Menganggap mungkin Tisya hanya lelah persiapan ujian sekolah. Tapi makin lama, hatinya kini mulai resah.
Malam itu, hujan turun pelan di luar. Dari ruang kerjanya, Naka mendengar suara lembut pensil bergesek di kertas. Ia keluar perlahan mendekati arah suara berasal. Di ruang itu—kamar tempat gadis itu tidur dengan posisi pintu terbuka sedikit, Naka mendapati Tisya masih duduk di depan meja belajar. Cahaya lampu kuning belajar nya membuat wajah Tisya tampak pucat, dengan rambut yang sedikit berantakan menutupi pipi.
"Belum tidur?" tanyanya pelan. Suaranya terdengar serak tapi hangat.
Tisya menoleh pelan dengan mimik kaget tetapi dengan cepat dia menutupinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
