Part 16 (Revisi)

6.7K 235 11
                                        

⚠️⚠️⚠️

❗️PERINGATAN❗️

Part ini sedikit ada emosi nya yaa, jadi diharap untuk yang mau baca part ini persiapkan diri aja, jujur aku juga sedikit emosi dengan part hari ini.

Tapi kalau semua part isinya gemas-gemas manja pasutri, aku bingung memulai konflik nya nanti darimana huhu😭🙏🏻

SELAMAT MENIKMATI BACAAN...

💐💐

Malam itu, suasana rumah hening dan sepi kala mereka memasuki perkarangan rumah. Tisya mengira, mungkin saja Mbok Darmi sudah istirahat di kamarnya. Namun ketika kaki nya bergerak melangkah masuk menuju ruang tengah, Tisya dapat melihat Mbok Darmi yang berdiri tak jauh di dekat meja makan.

Ketika Naka tepat berdiri di sampingnya, Mbok Darmi dengan segera melangkahkan kaki nya menuju tuan dan nyonya nya.

"Kenapa Mbok?" tanya Naka

Mbok Darmi menunduk sebentar, lalu berkata "Begini Mas, Mbak. Saya mau izin pulang kampung selama lima hari. Keponakan saya mantu. Kalau tidak pulang, nanti saya dianggap tidak ikut nyengkuyung keluarga"

Tisya refleks tersenyum ramah. "Oh, tentu saja Mbok. Itu kan acara penting. Mbok harus datang"

Tisya menoleh sebentar ke arah suaminya, meminta persetujuan.

Naka menatap lurus ke depan, ke arah Mbok Darmi. "Kapan berangkatnya?"

"Besok pagi Mas. InsyaAllah subuh saya sudah pamit. Kalau Mas Naka dan Mbak Tisya berkenan, ya... lima hari saya meninggalkan rumah ini. Saya janji balik lagi paling telat lusa setelahnya"

Hening sejenak, Tisya kembali menoleh ke arah Naka. Menunggu responnya. Lelaki itu menarik napas panjang.

"Baik Mbok. Tidak apa-apa. Silahkan urus keluarga terlebih dahulu, itu juga lebih penting. Rumah ini masih ada saya dan Tisya yang atur"

Nada suaranya tenang, tapi entah kenapa membuat Tisya ikut merasa gugup. Seolah beban tiba-tiba ditimpa kepadanya. Selama ini, hampir semua urusan rumah tangga memang Mbok Darmi yang pegang.

Mbok Darmi kemudian mengangguk, wajahnya lega. "Maturnuwun, Mas, Mbak. Nanti sebelum berangkat, saya siapkan bahan-bahan di kulkas biar Mbak Tisya gampang masak nya. Kan tidak mungkin jajan terus toh"

Tisya tersipu, tangannya refleks meremas ujung kebaya nya "Iya Mbok... aku bisa masak kok, walau yang sederhana saja sih. Sup, tumis atau goreng-goreng"

Naka sempat menoleh sekilas pada Tisya, tatapannya datar, tapi ada sedikit tanda tanya di wajahnya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya kembali berfokus pada Mbok Darmi.

"Kalau begitu, saya permisi beberes ya, Mas, Mbak" ucap Mbok Darmi sebelum beranjak ke kamar nya.

Tisya menatap punggung wanita paruh baya itu yang hilang, lalu mendesah pelan "Mas Naka... berarti besok disini hanya kita berdua saja"

Naka hanya menanggapi dengan gumaman singkat "Hm"

💐💐

Pagi itu, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai, Tisya terbangun dengan sedikit rasa berat di kepalanya. Dia mengucek mata, terdiam memandang jendela besar untuk menghilangkan rasa kantuk nya. Sesaat setelahnya, Tisya melihat jam di dinding— sudah pukul enam lewat lima belas.

Tisya sontak terduduk, harusnya hari ini dia bisa bangun lebih pagi, Mbok Darmi akan berangkat ke kampung halaman nya subuh tadi. Dengan langkah pelan, Tisya beranjak dari tempat tidur.
Dia menuruni anak tangga dengan hati-hati, dan benar saja, rumah terasa lebih lenggang dari biasanya. Tak terdengar suara riuh panci ataupun sendok seperti biasanya jika Mbok Darmi sudah sibuk berada di dapur.

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang