Aku balik lagi bawa revisi dari cerita ini..😊
💐💐💐
Sore menjelang malam, rumah utama Mbahkung dan Mbahti masih dipenuhi sanak saudara yang bercengkrama duduk melingkar diruang keluarga. Kebaya yang dipakainya tadi sudah diganti dengan baju rumahan yang lebih nyaman, tetapi sisa makeup dan letih masih terasa.
Tisya dan Naka yang tadinya ingin langsung beristirahat pun ikut menggabungkan dirinya bersama duduk berjauhan. Sedangkan kakak nya— Balinda telah bergelung dibawah selimut tebal nya dikamar dengan alasan dirinya itu sungguh letih dua kali lipat.
Mbahkung menarik napas panjang ingin membuka percakapan kepada orang orang yang berada disitu.
"Syukurlah acaranya berjalan dengan lancar. Walaupun terkesan mendadak, tapi tetap sakral"
Alisa menanggapi perkataan Bapak dengan sebuah anggukan dan berucap "Betul pak, anak anak memang belum lama kenal— Tapi yang terpenting sekarang mereka sudah resmi. Alisa dan Mas Daren tidak khawatir lagi saat kita berada disini mengurus bapak dan ibu"
Tak ingin tinggal diam, tante Tisya yang merupakan adik dari sang mamah ikut menyeletuk sembari menyeruput teh manis nya dengan cantik
"Yang terpenting kan memang sah dulu pak, mbak. Untuk perasaan tuh bisa kapan saja tumbuh. Dahulu kan saya juga begitu, sekarang sudah mau 25 tahun masih bersama"
Semua tertawa kecil ketika mendengar celetukan wanita paruh baya dengan gelang gelang yang masih tertanam di tangan kanan kirinya. Terkecuali Naka yang hanya duduk diam ditengah tengah suara itu. Tangan nya hanya asik memegang ponsel, namun matanya kosong menatap lantai.
Rendra yang melihat sang anak hanya terdiam dan asik menatap kosong lantai, akhirnya berinisiatif membuka topik yang melibatkan Naka agar pria tersebut teralihkan fokusnya kepada orang orang yang berkumpul disitu.
"Punten nggeh pak, lalu untuk kamar pengantin apa sudah disiapkan nggeh? Sepertinya sudah pada letih ini" Ucap nya sedikit meletakan gurauan
Lantas karena tepat sasaran, sang anak yang sedari tadi hanya berdiam diri— mulai memfokuskan pandangan nya tepat pada mata sang papah
Mbahkung dan semua orang disana pun mulai mempusatkan pandangan nya ke arah Naka dan Tisya secara bergantian yang lantas diteruskan dengan tertawa kecil
"Oh iya, lupa aku. Rumah samping ini wes tak siapno. Nanti genduk sama mas Naka tidur disitu satu malam ini ya?" Ujar Mbahkung
Sontak suasana kembali jadi penuh senyum menggoda dari beberapa tante dan sepupu Tisya yang tertawa kecil— menyembunyikan kekehan dibalik tangan masing masing.
Walaupun rasanya Tisya tidak peduli dengan pria tua yang sudah menjadi suaminya itu, tetap saja suasana ini sedikit canggung yang menyebabkan kepalanya terus menunduk. Sementara Naka menegakkan duduknya, menatap sekilas kearah Mbahkung lalu beralih ke arah kedua orang tua Tisya.
"Kalau diperkenankan-" Ucap Naka akhirnya dengan nada datar namun tetap sopan, "Besok sore saya langsung membawa Tisya kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah saya" lanjutnya
Daripada besok dia harus berbicara mengenai ini, lebih baik saat ini dia membicarakan nya lebih dahulu karena suasana nya pas dihadiri oleh seluruh keluarga yang datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomanceHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
