Part 29 (Revisi)

5K 384 114
                                        

TIDAK USAH BASA-BASI
KALIAN TENANGIN DIRI KALIAN SEBELUM BACA INI, OKAY?😔

💐💐💐

Sejak malam itu, Naka tidak bisa tidur dengan benar.

Dia merasa ciuman singkat itu tidak seperti sebuah kesalahan yang mereka timbulkan. Justru sebaliknya—terlalu sadar, terlalu tenang, dan bahkan terlalu melekat di kepalanya. Cara gadis kecil itu berjinjit, bagaimana ia mundur dengan wajah panas nya tapi tatapannya tidak lari. Tidak ada kebingungan. Tidak ada tuntutan. Hanya ada satu keputusan yang diambilnya dengan kepala dingin.

Justru hal itu yang membuat Naka terus memikirkannya sampai saat ini.

Pagi berikutnya, ia mendapati dirinya lebih lama di depan cermin. Bukan untuk merapihkan kemeja—tapi hanya menatap bayangan dirinya sendiri, mencoba mencari apa yang sebenarnya ia rasakan.

Saat ia keluar dari kamar dan menuruni tangga, ia sudah melihat Tisya berada di dapur.

Tidak ada kecanggungan. Bahkan tidak ada kata menghindar yang Naka pikir dilakukan oleh gadis itu.

Gadis itu justru menoleh, lalu tersenyum kecil. Bukan senyuman yang malu-malu seperti Tisya biasanya. Malah senyum yang—tenang.

Senyuman itu bahkan seperti menyambut dirinya untuk dilayani sebagai suami.

"Pagi Mas Naka. Ehm Mbok Darmi lagi ke pasar, Mas Naka mau minum kopi kan?" tanyanya ringan.

Naka terdiam seperkian detik untuk mencerna ini semua.

"Iya boleh." Naka menjawab sebelum akhirnya mendudukkan diri dan memperhatikan istrinya itu yang sibuk kesana kemari menyiapkan sesuatu yang entah—tidak terpikirkan olehnya

Gerakan yang ditimbulkan terlihat santai, seperti malam sebelumnya tidak meninggalkan apa-apa diantara mereka. Tapi justru sikap itulah yang membuat Naka merasa gelisah.

Karena ia tahu bahwa sebenarnya Tisya juga tidak lupa kejadian itu.

Ia hanya memilih tidak mengungkit nya.

Tak lama satu gelas kopi gadis itu suguhkan ke hadapannya, bahkan dengan senyuman yang terlihat tenang.

"Mas Naka apa mau sarapan? Aku tadi masak nasi goreng, kebiasaan aku sebelum ujian. Kalau mau aku sekalian ambilkan."

Kemudian berlalu kembali ke arah kompor yang ia tinggal, sebenarnya kalimat itu terdengar biasa saja. Bahkan terlalu biasa.

Naka menatap gelas kopinya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke arah Tisya. Gadis itu masih berdiri di dekat kompor, menunggu jawabannya dengan sabar—tidak ada gugup seperti sebelumnya jika gadis itu menatapnya.

"Saya mau tanya sesuatu," ucap Naka akhirnya.

Tisya berhenti bergerak. Tapi ia juga tidak terlihat kaget. Ia hanya mematikan kompor, lalu berbalik sebentar menghadap Naka dengan ekspreksi tenang.

"Iya," jawabnya. "Apa?"

Nada suaranya membuat Naka sedikit tercekat dan kaget, namun ia bisa mengontrol nya dengan cepat. Tidak ada nada bersalah, tidak ada nada takut. Seolah pertanyaan yang akan Naka tanyakan sudah ditunggunya sejak tadi.

"Tentang semalam," lanjut Naka pelan. "Tentang apa yang kamu lakukan."

Tisya mengangguk kecil, lalu membawa dua piring berisikan nasi goreng dan menaruhnya di meja kemudian menarik kursi duduk berhadapan dengannya. Tangannya diletakan rapih diatas meja.

"Mas Naka merasa terganggu?" tanyanya jujur.

Bukan maaf.
Bukan aku salah.
Tapi bahkan pertanyaan yang tidak Naka tebak sebelumnya.

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang