Maaf ya part ini pendek tapi lumayan banyak kok interaksi Mas Naka sama Tisya🥹😻
Semoga besok makin banyak ide yang mengalir, jadi panjang deh bikin part nya
💐💐
Kejadian tadi dirumah nya, entah kenapa membuat Tisya memikirkan perihal Balinda yang memanggil suaminya "Mas", itu membuat perut Tisya terasa sedikit aneh.
Bukan cemburu— atau mungkin iya, tapi terlalu cepat untuk diakui. Rasanya ini lebih ke rasa penasaran yang menusuk-nusuk di relung hati nya. Walaupun Tisya tahu Naka ini tertarik pada kakak nya, namun sejak kapan Balinda dan Naka bisa menjadi sedekat itu untuk saling menyapa begitu santai?
Apakah hanya Tisya saja yang tidak tahu?
Naka, disisi lain mengemudikan mobilnya dengan tenang. Tangan nya mantap di setir, matanya lurus kedepan, sama sekali tidak memulai percakapan. Seakan pertemuan dengan Balinda tadi hanyalah persinggahan biasa tanpa makna lebih.
Tisya melirik sekilas, memandang wajah itu yang tetap tenang dengan kegiatannya. Tapi entah kenapa justru ketenangan itu membuat Tisya semakin ingin bertanya.
"Mas Naka.." Suaranya pelan hampir teredam dengan suara AC
Naka menoleh sebentar dan hanya bergumam untuk membalas panggilan istrinya.
"Linda sama Mas Naka udah mulai sedekat itu ya?"
Ada jeda sepersekian detik sebelum Naka menjawab "Lumayan"
"Sejak kapan?"
Naka mengangkat bahu sedikit "Dari sebelum kita nikah, saya pernah bilang ke kamu kan? harus saya perjelas lagi?"
Jawaban itu sebenarnya Tisya tahu akan mendapatkannya, sebab dari awal juga memang pria itu lebih tertarik dengan kakak perempuan nya?. Dia menggigit bibir, menimbang apakah perlu menjawab nya lagi atau tidak. Tapi sebelum sempat melanjutkan, Naka mendahului nya lagi
"Lagipula dia itu sekarang kakak ipar saya. Tidak etis rasanya jika memperlakukan nya seperti orang asing"
Tisya menatap lurus ke jalan, berpura-pura santai "Iya.. aku hanya penasaran saja"
Naka tidak menanggapi. Suara mesin mobil dan deru lalu lintas malam kembali mengambil alih ruang. Sesekali cahaya lampu jalan memantul di kaca mobil, membuat bayangan mereka berganti-ganti di dashboard.
Setelah melewati dua perempatan, Tisya memberanikan diri membuka topik lain yang masih mengganggu hatinya.
"Oh iya, Mas Naka tadi lihat aku disekolah dari kapan?"
"Kapan apanya?" Naka balik bertanya
"Kapan sampai. Soalnya waktu aku keluar gerbang, mobil Mas Naka sudah ada disitu"
Naka tetap fokus pada jalanan.
"Sudah dari sebelum bel berbunyi"
Tisya membelalakan mata "Loh, berarti Mas Naka menunggu lama ya?"
"Ya" Jawabnya singkat
Sekilas, Tisya dapat menangkap nada yang entah kenapa terdengar... dingin. Dia langsung teringat Banyu, air mineral, dan tawa kecil nya di gerbang tadi. Perasaan bersalahnya kembali menyeruak.
"Maaf ya Mas Naka.. aku beneran engga tahu" suaranya hampir tidak terdengar
Namun Naka melirik nya sebentar sebelum akhirnya bertanya "Buat apa?"
"Buat engga langsung keluar pas bel berbunyi"
Kali ini Naka tidak langsung menjawab, tapi ia menghela napas pelan sebelum berkata
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
