Part 10 (Revisi)

8.7K 270 21
                                        

Maaf ya baru sempat update sekarang, kemarin kepikiran skripsi jadi sedikit healing dulu untuk sejenak menenangkan pikiran.

Tapi gapapa sekarang udah update dan hampir 3000 kata..
Semoga kalian puas sama part ini😻🤍

💐💐

Hari mulai berganti malam ketika mobil yang Naka dan Tisya tumpangi memasuki gerbang rumah miliknya di Jakarta. Lampu lampu taman yang terang memantulkan cahaya nya ke permukaan jalan halaman rumah Naka berada.

Pandangan mata Tisya meneliti rumah itu dari balik jendela— dua lantai, modern minimalis. Dindingnya berlapis cat putih berpadu dengan panel kaca besar yang terletak di lantai 2.

Naka mematikan mesin mobil lalu keluar terlebih dahulu meninggalkan Tisya yang masih setia duduk pada kursi penumpang mobilnya, sedangkan Naka langsung berjalan cepat ke bagasi untuk mengambil koper-koper mereka serta beberapa barang bawaan milik Tisya setengahnya. Beberapa barang masih diletakkannya pada jalan halaman rumah nya dan berjalan ke pintu mobil yang saat ini diduduki oleh gadis berstatus istrinya.

"Turun. Bawa tas kecil kamu saja— nanti sisanya saya yang bawa" Ujar nya datar tanpa menoleh.

Tisya hanya bisa mengangguk pelan, meraih tas selempang nya— turun lalu menutup kembali pintu mobil dengan hati-hati.

Diambil nya tas kecil yang dimaksud oleh Naka serta membawanya langsung ke dalam tanpa menoleh ke arah pria itu yang sedang sibuk merapihkan barang- barang yang dibawanya.

Begitu masuk ke dalam, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergapnya. Lantai marmer putih mengkilap memamerkan cahaya lampu pada plafon yang tertanam diatas nya. Di ruang tamu terdapat sofa warna abu-abu berbentuk L yang menghadap pada layar televisi besar yang menempel pada dinding. Tidak ada dekorasi berlebihan pada rumah ini— hanya rak berisi buku dengan susunan rapih dan beberapa hiasan dinding tanpa gambar sang pemilik.

Di keheningan yang terjadi, suara lantang Naka menggema di seluruh ruangan memanggil seseorang yang Tisya rasa pengurus rumah ini.

"Mbok!" Panggil pria itu

Dari arah dapur, seorang wanita paruh baya muncul. Tubuhnya sedikit mungil, mengenakan daster berwarna biru tua dan apron sederhana. "nggeh Mas" jawabnya sambil tersenyum ke arah Naka dan beralih menatap Tisya di sebelah tuan nya.

"Ini istri saya. Mulai sekarang dia akan tinggal disini. Dan saya harap mbok tidak berbicara apa-apa mengenai istri saya diluaran sana" nada Naka tenang nampun tersirat tegas didalam nya.

Mbok Darmi namanya— wanita itu hanya tersenyum kikuk mendengar perintah dari sang atasan mengenai batasan yang tidak boleh dia langgar.

Tisya pun hanya mengangguk kecil dan tersenyum manis ketika memperkenalkan dirinya "Selamat malam Bu. Aku Tisya— dan semoga kedatangan Tisya tidak membebani Ibu ya.."

"Selamat malam Mbak Tisya. Saya Darmi— panggil saya Mbok saja seperti Mas Naka memanggil saya. Ndak apa-apa Mbak, kalau jenengan butuh sesuatu, bilang saya aja" ujarnya ramah

Tisya pun mengangguk kembali membalas wanita paruh baya tersebut hingga suaminya itu melangkah pergi meninggalkan dirinya yang termenung menatap pria itu dengan raut bingung.

"Misi nggeh Mbak" Suara Mbok Darmi pamit mundur diri membuat Tisya makin bingung.

Kenapa dirinya ditinggal sendirian? Tisya harus mengikuti siapa?

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang