Part 21 (Revisi)

7.1K 298 94
                                        

Suasana malam dirumahnya sangat sunyi, Naka berjalan kembali menuju kamarnya setelah dia sempat iseng berkunjung ke kamar Tisya. Entah kenapa, langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya.

Setibanya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mengusap berulang-ulang seakan ingin menghapus sisa senyum yang masih mengembang dibibirnya. Gerakan tangannya teratur, tapi ada sedikit getaran halus—efek dari bayangan ekspresi gadis itu yang terus menempel dikepalanya.

Ketika keluar dari kamar mandi, ia menaruh handuk kecil dibahu dengan rambut setengah basah, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Pandangannya pun lurus menatap langit-langit. Hening. Hanya suara pendingin ruangan yang mendengung pelan, memberi ruang bagi pikirannya yang berisik.

Wajah gadis itu kembali muncul. Dia tadi buru-buru memalingkan wajah, pipinya yang memerah, tangannya yang mencengkram selimut seolah itu satu-satunya perisai yang dia punya. Naka mengingatnya detail, bahkan sampai kerlingan matanya yang kebingungan.

"Lucu," gumamnya lirih, nyaris seperti sebuah desahan. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, bukan tawa penuh, tapi semacam kepuasan aneh yang baru kali ini dirasakan.  Bukan haya puas merasa dirinya menang, melainkan juga puas karena berhasil megusik ketenangan gadis itu. Yang entah kenapa terasa sangat menyenangkan untuk saat ini.

Tangannya meraba meja samping, mengambil rokok elektrik yang memang selalu ia taruh di sana. Ia menyalakannya, menghisap perlahan. Asap putih keluar tipis, melayang naik dan membentuk kabut samar diudara, sebelum lenyap ditelan dinginnya pendingin ruangan.

"Kalau terus seperti ini, dia akan semakin defensif," pikirnya sambil menyipitkan mata. "Tapi bukankah itu justru lebih menarik?"

Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia tidak menampik, ada bagian dari dirinya yang menikmati bagaimana Tisya selalu kelabakan, bingung, tapi akhirnya tetap menurut. Seperti permainan tarik ulur yang tidak pernah membosankan.

Belum sempat pikirannya berlarut lebih jauh, suara ponselnya tiba-tiba berdering. getarannya mengguncang meja kecil disamping ranjang. Naka Mengerjap

Layar menyala. Nama Mamah tertera jelas disana.

Alis Naka terangkat, tumben sekali. Jam menunjukan sudah lewat pukul sembilan malam. Jarang-jarang mamahnya menelepon dijam segini, biasanya hanya mengirim pesan singkat. ia menekan tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinga.

"Kenapa Mah?" suaranya berat tapi tenang.

"Naka sudah dirumah kan?" suara lembut diseberang terdengar jelas, ada nada cemas samar khas Mamah nya

Naka menyesuaikan posisi duduk, menyandarkan punggung kekepala ranjang "Iya, Mah. Ada apa?"

Hening sebentar, hanya terdengar tarikan napas ringan dari mamahnya sebelum akhirnya menjawab "Besok Mamah sama Papah mau nginep di rumah kamu ya"

Naka refleks mengernyit, tangannya menghentikan gerakan memainkan rokok elektrik "Nginep?" ulangnya pelan.

"Iya. Toh Mbok Darmi kan sedang pulang kampung sebentar, katanya sampai lusa baru balik. Jadi biar Mamah sekalian nemenin kamu sama Tisya. Lagipula juga sudah lama Mamah tidak mampir" suaranya terdengar mantap, seperti sudah memutuskan.

Naka terdiam, pandangannya beralih ke langit-langit lagi, menatapnya dengan pikiran kosong. Ia jadi membayangkan Tisya—wajahnya yang canggung jika tahu bahwa besok ada Mamah di rumah. Gadis itu pasti akan makin salah tingkah, apalagi status mereka selaa ini belum tersebar luas. Ini kesempatan bagus untuk membuat Tisya makin masuk kedalam wilayahnya lebih dalam.

"Besok sore Mamah ke sana ya. Kamu pulang cepat, jangan bikin Tisya sendirian dong" sambung Mamahnya

Inilah enaknya tinggal jauh dari orangtua nya setelah menikah, karena jika ada masalah dengan Tisya atau rencana melakukan bisnis disekolah itu, Mamahnya pun belum tahu. Mungkin untuk rencana bisnis, papahnya akan bertanya esok hari.

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang