Info: Ternyata untuk update cerita ini aku udah mulai enggak bisa setiap hari. Jadi aku usahakan selang seling ya... sudah mulai masuk perkuliahan semester akhir jadi yaa harus dibagi fokus nya😭🙏🏻
Tapi tenang aja, cerita ini tetap bakal update kok, ditunggu aja yaa teman-teman😚😊
💐💐
Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Alarm dari ponsel Tisya berdering pukul lima lewat sepuluh menit, jauh lebih awal dia menyalakan alarm dari biasanya. Dengan mata yang masih berat, dia bangkit dari kasur, menurunkan kaki ke lantai dingin, lalu menarik napas panjang.
Seharusnya, pagi ini biasa saja. Seharusnya juga dia bangun, bersiap ke sekolah, lalu menyapa Mbok Darmi pagi-pagi di dapur dengan tersenyum hangat kemudian membantunya. Tapi rumah kali ini berbeda. Sepi. Terlalu sunyi. Memang seharusnya pernikahan mereka dari awal seperti ini. Seperti yang dibayangkan dengan kesepakatan awal.
Tisya membuka pintu kamar hanya untuk melihat pintu diujung sebelah kamar nya. Memandang sekilas ke arah pintu Naka, yang entah dibalik pintu itu apakah pemilik nya sudah bangun atau masih tertidur. Hatinya mendadak mencelos. Bayangan malam tadi seakan muncul lagi seperti mimpi buruk yang berulang-ulang terjadi, dirinya yang menunggu lama, berharap, dan berakhir dengan kecewa karena pemikiran nya selama ini.
Dengan cepat Tisya menggeleng pelan, seolah menepis perasaan itu. "Ayo Tisya jangan pikirkan pria itu" bisiknya lirih. Dia segera beralih ke kamar mandi, menyalakan lampu, dan bersih-bersih badannya lalu segera berangkat ke sekolah.
Selesai dengan mandi nya, Tisya segera mengambil seragam yang telah di setrika nya sejak semalam, hingga setelahnya dia berlalu meninggalkan kamar.
Jam sudah menunjukan pukul enam kurang lima belas, Tisya sudah rapih dengan seragam putih abu-abu nya, rambut pun hanya dia ikat seperti biasa, wajahnya terlihat lebih pucat karena kurang tidur semalam. Dia turun ke lantai bawah dengan langkah ringan dan hati-hati, tidak ingin menimbulkan suara apapun.
Di meja makan, masih ada sisa semalam— makanan yang dia simpan ditudung saji. Dia menatapnya sebentar, lalu segera memalingkan wajah. Masih ada rasa perih dan kecewa yang tertinggal di dadanya. "Buat apa semalam aku menunggu nya terlalu lama" gumamnya
Tisya mengambil roti tawar dari rak dapur, menjejalkannya seadanya kedalam mulut. Lalu tanpa suara, dia meraih kembali tas nya yang dia taruh di sofa ruang tangan dan beranjak ke pintu depan. Bahkan Tisya sampai melupakan dua kucing nya di kandang. Mungkin nanti pulang sekolah dia akan membebaskan kucing-kucing itu. Selama Mbok Darmi tidak disini, sudah tidak ada yang membebaskan kucing-kucing itu untuk berkeliaran dirumah sebesar ini.
Meninggalkan rumah dengan seperti ini belom pernah terjadi pada Tisya. Berangkat ke sekolah dengan jam yang menunjukan pukul enam pas belum pernah Tisya berangkat seawal ini. Tapi saat ini baginya, semakin cepat dia keluar rumah, semakin juga dia menghindari Naka. Padahal pria itu yang punya salah padanya, tetapi entah kenapa dirinya yang merasa tidak punya nyali jika ketemu Naka.
Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara berat terdengar dari arah tangga.
"Tisya..."
Langkah Tisya membeku, suara itu, Naka.
Dia menoleh sebentar, hanya sekilas. Lelaki itu turun masih dengan mengenakan setelan tidur nya, wajahnya terlihat sedikit lelah. Rambutnya pun juga masih berantakan, dan ada semburat gelisah yang sulit ditutupi matanya.
"Kamu... sudah mau berangkat?" tanya Naka, suaranya serak dan lebih pelan dari biasanya, hampir seperti ragu.
Tisya menunduk, mencoba menegarkan kembali hatinya seperti tidak ada yang terjadi semalam tadi. "Iya Mas Naka. Hari ini ada tugas tambahan di sekolah. Jadi aku harus berangkat lebih pagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomanceHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
