Pagi itu, bagi Tisya suasana sekolah tidak seperti biasanya. Langkah kakinya menuju gerbang sudah terasa seperti menyeret rasa bersalah yang bersarang di benak nya. Suara obrolan murid-murid di sekitar koridor hanya jadi gema samar di telinganya—semaunya terasa jauh, asing meskipun Tisya bukan tipe manusia yang mempedulikan sekitar.
Ketika mendekati pintu kelas, pandangannya langsung tertumbuk pada Libra yang sedang duduk berbincang bersama teman-teman lain. Biasanya, Tisya akan langsung menghampiri, dan Libra langsung menyapa dirinya. Tapi kali ini langkahnya tertahan di ambang pintu. Ada jarak yang tidak terlihat diantara mereka saat ini—tegang, dingin, dan penuh kesalahpahaman.
Tisya menarik napas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelas. Ia mencoba tersenyum kecil meskipun dadanya terasa sesak.
"Li," panggilnya pelan, suaranya nyaris tenggelam karena suara riuh suara kelas.
Libra menoleh sekilas. Tatapannya datar, bahkan cenderung kosong, seolah yang berdiri di depannya bukan sahabat yang sudah bertahun-tahun menemaninya, tapi hanya sebagai orang asing.
"Apa?" suaranya pendek, datar, tanpa ekspresi.
"Aku cuma mau menjelaskan soal kemarin" kata Tisya hati-hati. Jemarinya saling menggenggam didepan perut, menahan gemetar.
Libra menghela napas pelan dan meletakkan buku catatannya agak keras di meja. "Jelasin apa lagi Sya? Kayaknya juga udah jelas kok."
Panggilan dari Libra untuk Tisya berubah. Hal itu sedikit mengganggu pikiran dan rasa tak enak dalam benaknya. Namun dibandingkan itu, sekarang Tisya lebih memikirkan kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan kedua teman nya sekarang.
"Li, aku nggak bermaksud nyembunyiin..."
"Udah Tisya," potong Libra cepat, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. "Lo pikir gua nggak malu? Lo pikir gampang buat gua nerima kenyataan kalau ternyata sahabat gua udah nikah, dan gua bahkan gak dikasih tau apa-apa?"
Beberapa kepala spontan menoleh. Suasana yang tadinya riuh oleh obrolan singkat mendadak berubah menjadi senyap sesaat, lalu diikuti gumaman penasaran.
"Eh, nikah?" bisik salah satu murid di pojok belakang, diikuti suara lain, "Serius? Tisya udah nikah?"
Tatapan-tatapan mulai beralih padanya—tatapan heran, terkejut, bahkan beberapa yang menahan tawa kecil. Tisya bisa merasakan panas menjalar ke wajahnya. Ia ingin menyangkal, tapi untuk apa? Semua yang diucapkan Libra memang benar.
"Li, tolong..." katanya pelan, mencoba meraih pergelangan tangan Libra agar tidak bicara lebih keras lagi. "Bicaranya jangan terlalu keras ya? Kita bisa bicara berdua dengan kepala dingin."
Tapi Libra justru menarik tangannya cepat, matanya menatap penuh kecewa dan amarah. "Kenapa? Takut orang tahu? Lo aja yang dari kemarin sembunyiin semua hal."
Beberapa teman mulai saling pandang. Suara bisikan kembali terdengar dengan ramai. Diantara kerumunan itu, Zee yang sedang duduk agak jauh langsung menoleh dengan antusias, menyenggol sheila di sebelahnya.
"Eh, bener kan, shell? Gua pernah bilang waktu itu! Dia bolos lama banget, pasti bukan cuman sakit atau urusan keluarga. Gila, ternyata beneran nikah!" katanya dengan nada setengah terkejut setengah puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomanceHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
