Part 23 (Revisi)

6K 304 59
                                        

Selepas makan malam bersama dengan nuansa yang kali ini terasa lebih ramai bagi Tisya. Kehadiran mertua nya mampu membuat suasana dirumah ini menjadi lebih terbangun—candaan dan godaan yang mereka utarakan membuat Tisya menjadi lebih hidup, menyisakan kehangatan.

Piring-piring yang berada dihadapan masing-masing telah kosong, aroma masakan masih tercium samar dari dapur. Mamah dengan wajah puas terus saja bercerita mengenai perjalanan mereka tadi, sementara Tisya sibuk merapihkan piring—meski Mamah berkali-kali melarangnya.

"Sudah Tisya... biar Mamah saja nanti"

Tisya buru-buru menggeleng—tidak ingin jika Mamah mertua nya yang akan melakukan yang menjadi tugas nya sendiri dirumah ini.

Dengan senyum canggung, Tisya membalasnya "Tidak Mah, aku sudah biasa. Lagian kan ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri"

Mamah melirik Naka sambil tersenyum samar, seolah ingin menegaskan sesuatu lewat tatapan nya. Lelaki itu pun hanya menunduk sebentar, lalu kembali menyeruput minumannya.

Papah, yang duduk disamping, menepuk pundak Naka ringan. "Anak ini beruntung sekali. Dikasih istri rajin, pintar masak, masih sekolah pula. Jarang-jarang kan ada yang begini? Tidak salah bukan?"

Tisya sontak menunduk, wajahnya merah padam. Ia pura-pura sibuk mengelap meja. Sementara Naka, masih tampak datar, tak menggubris ucapan sang Papah, namun nampak memikirkannya.

Ketika piring terakhir sudah dibereskan, Mamah berdiri, menepuk tangan sekali "Kalau begitu kita istirahat, perjalanan tadi lumayan pegal ya Pah"

Tisya hendak mengantar mereka ke kamar tamu yang dijadikan tempat penyimpanan barang-barang Naka sekaligus membersihkannya, tapi Naka telah terlebih dahulu membuka suara.

"Mah, Pah... untuk malam ini, pakai kamar Tisya saja. Biar saya sama Tisya di kamar saya"

Ucapan itu membuat Tisya menoleh cepat, matanya membesar. "Mas Naka..." suaranya hampir tidak terdengar.

Namun Mamah mertuanya justru tersenyum lebar. "Wah, itu malah bagus. Kamar tamu kan agak kecil—terlebih ada barang-barang kamu disana, kalau kami berdua lebih enak pakai kamar yang agak luas. Kamar Tisya juga pasti lebih nyaman"

Papah mengangguk setuju tanpa banyak bicara.
"Iya, biar begitu saja. Toh kalian kan sudah suami-istri, ya walaupun terpaksa pisah kamar sementara sampai usia Tisya menginjak 20 tahun. Wajar saja tidur bersama sebenarnya"

Tisya ingin membantah, tapi kata-kata itu tertahan ditenggorokan. Dia hanya menunduk, dirinya gelisah.

Naka sendiri tetap tenang, seperti keputusan itu hal yang biasa. Ia bahkan sempat menatap Tisya sekilas, tatapan yang sulit dibaca—entah sekedar meyakinkan atau sekedar mengingatkan bahwa gadis itu tidak betul-betul memiliki pilihan.

💐💐

Tak berselang lama, Mamah nya kini naik terlebih dahulu ke lantai atas, sementara Papah menahan langkah Naka diruang tengah.

"Sebentar Naka. Kita perlu bicara sebentar"

Naka menoleh, lalu melirik Tisya yang berdiri canggung di ujung meja. "Kamu naik duluan saja. Saya menyusul"

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang