Ada yang nungguin gak part-part selanjutnya?
Semoga sesuai harapan kalian🤭
💐💐💐
Hari itu seharusnya menjadi hari tenang bagi Naka setelah kemarin dihadapkan kenyataan yang memang tidak bisa di selesaikan dengan cepat.
Namun saat ini tidak ada agenda mendadak. Tidak ada rapat yang menguras energi. Bahkan untuk saat ini beberapa jam kepalanya terasa jauh lebih ringan—seolah keputusan untuk menjaga jarak dari semua yang rumit akhirnya bisa memberi napas baginya.
Ia sempat berpikir, mungkin hari ini akan jauh lebih berjalan normal.
Sampai akhirnya suara langkah itu terdengar di lorong kantornya. Suara ketukan heels yang menuju ke arah pintu di mana ruangan nya saat ini.
Tanpa pesan.
Tanpa pemberitahuan.
Tanpa izin.
Balinda.
Kehadiran gadis itu terasa seperti tamu yang tidak diundang tapi terlalu berani untuk ditolak. Dan ketika gadis itu berdiri diambang pintu ruangannya dengan senyum tenang, Naka langsung tahu—ketenangan yang dia rasakan beberapa jam belakangan hanyalah jeda sebelum terjadinya kekacauan hari ini.
Seperti datangnya dugaan buruk yang menjadi nyata, hari yang tidak berakhir seperti yang diharapkannya.
Balinda berjalan dengan anggun menuju sofa kecil disudut ruangan dan duduk menyilangkan kaki dengan santai. Ia menaruh tasnya disamping, seolah ruangan ini memang telah akrab menerimanya.
"Aku ganggu ya?" tanyanya ringan, padahal langkahnya tadi tidak memberi ruang untuk jawaban.
Naka membuang muka. "Kamu seharusnya nggak datang hari ini," ucap Naka pelan, namun kali ini lebih tegas dari sebelum-sebelumnya.
Balinda menoleh, mengangkat alis sedikit. Bukan tersinggung— lebih seperti heran.
"Kenapa?" tanyanya. "Karena ini kantor kamu? Atau karena kamu takut ketahuan aku bikin ribut disini?"
Kalimat itu jatuh terlalu tepat.
Naka menghela napas, berjalan menjauh beberapa langkah, lalu bersandar dimeja kerjanya. "Karena ini nggak benar, Balin."
Balinda tersenyum kecil, senyum yang tidak marah, tidak juga sedih.
"Lucu ya," katanya sambil menyandarkan punggung ke sofa. "Kamu selalu bilang nggak benar, tapi kamu juga nggak pernah benar-benar untuk berhenti, sayang."
Naka menutup mata sejenak.
"Aku mau menyelesaikan ini," ucapnya akhirnya. "Aku nggak bisa terus begini."
Balinda terdiam beberapa detik. Lalu ia berdiri perlahan, melangkah mendekat—tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat jarak terasa.
"Menyelesaikan?" ulangnya pelan. "Maksud kamu...dengan ninggalin aku?"
Nada suaranya lembut. Terlalu lembut untuk sebuah tuduhan.
Naka membuka mata. "Aku sudah menikah."
Balinda tertawa kecil. Bukan mengejek—lebih seperti tertawa karena tahu sesuatu yang Naka pura-pura lupakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
