Part 13 (Revisi)

6.8K 236 23
                                        

Waw... sepertinya part ini cukup panjang. Aku bikin hampir 2.800 kata. Tidak sepanjang itu namun cukup makin banyak kok interaksi pasutri🥹

💐💐

Langit sore mulai meredup, sisa cahaya matahari menembus kaca mobil Naka saat dia memasuki gerbang rumah. Roda mobil itu berhenti mulus di garasi, suara mesin dimatikan, dan dirinya keluar dari dalam mobil sambil merapikan jas yang sedikit kusut.

Begitu pintu rumah dibuka, langkahnya otomatis terhenti. Di dekat meja panjang, ada seekor kucing belang tiga yang entah dari mana asalnya, duduk santai sambil menatap dirinya dengan mata bulat yang dimiliki. Ekornya bergoyang pelan seperti tidak takut sama sekali ketika Naka menatapnya balik dengan bingung.

Naka mengerutkan kening.
"Sejak kapan kita punya kucing?" gumam nya pelan, lebih tepatnya kepada dirinya sendiri

Kucing itu malah berdiri, berjalan mendekat dengan langkah ringan, lalu mengeong dengan keras.

"Hmm?" Naka menunduk sedikit.

Dia bukan tipe orang yang membenci hewan apalagi selucu kucing, tapi dia juga jelas bukan tipe orang yang mendadak memelihara sesuatu tanpa perencanaan nya.

Langkahnya baru akan melanjutkan masuk untuk bertanya kepada Mbok Darmi, namun sebelum itu terdengar suara kaki berlari kecil dari arah ruang tengah.

"Coco!" Suara Tisya terdengar, dan tak lama dia muncul dengan seekor kucing lagi di gendongan nya. Bulunya putih bersih dengan belang cokelat di telinga.

Dia terhenti diambang pintu lengkung pemisah ruang tengah dan pintu utama. Tubuhnya sedikit membeku begitu melihat Naka berdiri tepat di pintu utama dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Mas Naka..." Suaranya terdengar canggung. Pandangannya beralih sebentar ke kucing di dekat kaki Naka, lalu kembali menatap wajah sang suami.

Tatapan Naka turun sebentar ke gendongan ditangan Tisya. "Jadi... sekarang kita punya dua kucing?"

Tisya menggigit bibir bawahnya, lalu buru-buru berjalan mendekat ke arah Naka sambil mencoba ingin menjelaskan "Bukan... ini bukan tiba-tiba Mas Naka. Aku tadi sebelumnya sudah izin sama Mbok Darmi untuk pelihara kucing dirumah ini. Kucing ini...dari sepupu aku. Mereka mau pindah ke apartemen dan tidak bisa bawa hewan, jadi aku—"

"Jadi kamu bawa pulang" potong Naka datar.

"Iya... tapi aku janji akan urus semuanya. Makan, bersih-bersih kandang, vaksinnya, semua aku yang tanggung. Tidak akan merepotkan Mas Naka" ucap Tisya cepat, seperti mencoba meyakinkan bahwa ini bukanlah masalah besar

Naka diam beberapa detik, menatap Tisya yang masih memeluk kucing putih itu dalam gendongan nya. Kucing itu menguap kecil, lalu menyandarkan kepala ke dada Tisya dengan santai— seolah rumah ini memang sudah miliknya.

"Yang dibawah dekat meja itu?" Tanya Naka akhirnya, sambil menunduk dikit ke arah kucing belang tiga yang kini duduk manis di dekat kakinya.

"Oh.. itu kucing nya ikut. Dia sodara nya kucing ini" jawab Tisya sambil tersenyum kecil, meski jelas senyum itu sedikit ragu.

"Namanya Coco, yang aku gendong ini namanya Mocha"

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang