Sabtu pagi itu berbeda dari pagi-pagi biasanya. Bukan hanya karena aroma masakan yang lebih meriah, tetapi juga karena adanya kehadiran Balinda yang tiba-tiba saja hadir dirumah mereka tanpa sepengetahuan Tisya, wanita itu bergerak luwes seakan rumah ini memang miliknya.
Tisya menunduk, mencoba mengatur napasnya. Sendok yang berada di tangannya bergerak perlahan, mengisi piring dengan secukupnya. Di hadapannya kini, Balinda sudah begitu cekatan menuangkan sayur untuk Naka, bahkan menambahkan sambal sedikit demi sedikit dengan penuh perhatian.
"Kalau mau nambah lagi bilang saja ya Mas Naka" ujar Balinda sambil tersenyum manis
Naka hanya membalasnya singkat "Iya"
Balasan sederhana, namun cukup membuat dada Tisya terasa diremas. Dia sendiri bahkan belum pernah tahu dengan detail preferensi makanan yang Naka inginkan, bahkan dia juga belum pernah mengambilkan Naka porsi makanan nya atau juga sekedar memasak untuk membuatkan Naka makan.
Biasanya juga Naka tidak pernah makan untuk sarapan, tapi kenapa hari ini Naka malah terbiasa makan pagi? pikirnya
Tisya memberanikan diri untuk sekedar bertanya walaupun suaranya nyaris tenggelam saking pelan nya dia mengeluarkan suara.
"Mas Naka tumben bisa makan pagi?"
Balinda yang saat ini terduduk manis di sebelah kanan sisi Naka dan berseberangan dengan Tisya, sontak menoleh. "Lho kau tidak tahu? Setahu aku sih Mas Naka kalau hari libur bisa makan pagi walaupun dengan porsi dikit" jawabnya dengan anggun
Tata cara duduknya pun bahkan anggun, gerakannya teratur, seolah sudah terlatih untuk menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Tisya juga tidak kaget jika melihat kakak nya terlihat lebih cantik darinya, tapi saat ini dia melihat Balinda terasa lebih unggul jauh dari biasanya.
Daritadi pun Tisya hanya terus menunduk menyuapkan makanannya ke dalam mulut, dia sudah tidak ingin menanggapi ucapan Balinda lagi. Entah kenapa rasanya tidak menyenangkan seperti biasanya.
"Mbok Darmi, terima kasih ya sudah bantuin aku di dapur. Jadi lebih cepet deh" kata Balinda ramah
Mbok Darmi tersenyum sopan "Sami-sami Mbak. Toh saya yang jadi di bantu ini"
Tisya hanya diam saja. Dia merasa, posisinya saat ini semakin mengecil. Seolah dia hanyalah anak kecil yang dibiarkan duduk di pojok meja sementara dua orang dewasa itu berbagi peran penting di sekitarnya.
Sarapan berjalan dengan canggung bagi Tisya, setiap kali dia hendak menyendokkan sesuatu yang diminta Naka, Balinda bahkan telah bergerak terlebih dahulu. Bahkan untuk saat ini dia lebih dulu mencoba menawarkan sesuatu pada Naka yang biasa tidak pernah dilakukan sebebelumnya, namun Balinda telah melakukannya.
Hingga akhirnya, percakapan itu muncul lagi.
"Jadi, Tisya," ujar Balinda sambil meletakan gelasnya. "Jangan lupa nanti sore datang ke acara Tante Erna, ya. Dia pengen kamu sama Mas Naka datang"
Tisya menatapnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan. "Tapi itu kan bisa diingatkan lewat pesan Linda"
Balinda tertawa kecil, ekspresi nya setengah mengejek. "Ya bisa sih, tapi kan lain rasanya kalau aku datang langsung. Lagipula... aku sekalian mau lihat keadaan rumah Naka juga"
Ucapan itu membuat Tisya terdiam, 'Rumah Naka'. Bukan 'Rumah kalian' atau bukan hanya 'Rumah Naka dan Tisya' kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Balinda, membuat hati Tisya seolah ditusuk jarum halus berkali-kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
