Hai semuanya!!! Gimana kabar kalian?
Jujur ya... aku buat part ini setelah aku menyicil menulis skripsi aku hehe😌
Selamat membaca part ini...
🌸🌸
Dirumah, suasananya semula tenang. Lampu ruang tamu sudah menyala, dan tidak ada suara TV yang terdengar telinga nya. Naka yang baru saja pulang dari kantor justru tertegun di ambang pintu. Biasanya dia sudah mendengar suara TV yang sengaja Tisya nyalakan walaupun gadis itu berada di dalam kamar. Tapi malam ini, sepi.
Ia menaruh kunci mobil diatas meja ruang tamu, kemudian melongok ke arah dapur. Kosong. Begitu juga dengan kamar gadis itu di lantai atas—lampu kamar belum menyala dan tidak ada tanda-tanda Tisya sudah berada di kamarnya.
Kening Naka mengerut. Ia melirik jam di pergelangan tangannya—pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Biasanya, Tisya sudah pulang sejak sore.
"Mbok Darmi!" panggilnya agak keras dari arah tangga.
Tak lama kemudian, perempuan paruh baya itu keluar tergopoh dari dapur sambil mengelap tangannya dengan kain. "Iya, Mas Naka? Ada apa nggeh?"
"Tisya di mana?" suara Naka datar tapi nadanya mengandung tekanan. "Kok saya nggak lihat dia dari tadi? Mobil nya juga sudah di garasi"
Mbok Darmi mengerjap, tampak heran. "Lho, bukannya Mbak Tisya pulang sama Mas Naka, toh?"
Alis Naka menajam. "Sama saya?" nadanya meninggi, sinis. "Saya baru pulang dari kantor Mbok. Bagaimana bisa sama saya?"
"Saya kira Mbak Tisya bareng Mas Naka... lah wong saya tanya Rama—katanya Mbak Tisya ndak pulang bareng dia loh Mas. Jadi saya pikir bareng jenengan," jawab Mbok Darmi, mulai panik sendiri.
Naka menghela napas panjang, menahan diri agar tidak membentak para pekerja nya. "Rama di mana sekarang?"
"Sepertinya baru saja ke pos satpam belakang, mau nitip kunci mobil cadangan, Mas."
Tanpa pikir panjang, Naka melangkah cepat keluar rumah. Langkahnya berat dan tegas, sampai suara sepatunya bergema di halaman berbatu. Dari kejauhan, terlihat sosok Rama yang buru-buru menegakkan tubuh begitu melihat atasannya datang dengan wajah masam.
"Rama." Suara Naka rendah tapi tajam. "Tadi Kamu tidak jemput Tisya?
Rama menggeleng cepat. "Tadi saya sudah sempat menunggu di depan sekolah, Pak. Tapi kata teman-teman Mbak Tisya, beliau udah bareng sama dua temannya, katanya mau belajar kelompok. Saya pikir Mbak Tisya sudah diizinkan, jadi saya langsung pulang"
Naka memejamkan mata sebentar, menahan emosi. Ia memang sempat bilang Tisya boleh belajar kelompok, tapi tidak berarti boleh pulang selarut ini tanpa kabar. "Sekarang sudah hampir jam delapan—jam makan malam. Kamu pikir saya bisa tenang kalau istri saya belum pulang?"
Rama langsung menunduk dalam. "Maaf, Pak. Saya mengira—"
"Sudah, siapkan mobil. Sekarang juga."
Rama langsung berlari kecil menuju garasi, sementara Naka berdiri di depan teras, menatap taman dengan tamaram lampu di depan rumah. Ada sesuatu yang berputar di dadanya—bukan sekedar kesal, tapi campuran cemas dan kesal mengingat Tisya juga sedang bersama bocah tengil itu. Ia tak suka merasa khawatir seperti ini, tapi bayangan Tisya berlama-lama dengan pria itu terus menerus menekan pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
