Langsung aja lah ya..
💐💐
Matahari pagi menyelinap masuk melalu celah tipis tirai kamar itu. Udara di sekitarnya masih dingin, menyisakan embun diluar jendela kayu yang menghadap langsung kearah taman. Di dalam kamar itu, dua sosok yang tidur disi berbeda dari ranjang king size masih terdiam dalam lelap.
Tidak ada percakapan, tidak ada sentuhan. Bahkan saling saling pandang sebelum sama sama terlelap kemarin pun tidak— hanya terlelap dengan pikiran nya masing masing.
Kejadian semalam sempat terjadi ribut kecil ketika Tisya menolak Naka untuk tidur bersama diatas kasur yang saat ini sedang mereka tiduri. Sehingga akhirnya Naka berhasil membuat istrinya itu tidak takut ketika ia meletakan guling di tengah tengah mereka agar tidak ada yang melewati batas.
Benar saja rencana itu berhasil tanpa adanya drama. Pria itu merupakan tipe orang yang tertidur dengan tenang tanpa banyak pergerakan sehingga tidak menimbulkan kasur berantakan. Begitupun dengan Tisa yang hanya sampai memeluk guling ditengah nya itu tanpa menyentuh kulit dari pria disamping nya.
Tisya terbangun lebih dulu dari tidur singkat nya. Tubuhnya masih setengah menyelimuti diri dan memeluk guling itu dengan nyaman. Tak ayal mata nya pun menatap punggung besar pria yang tertidur di sisi ranjang sebelahnya, tepat membelakangi dirinya.
Dia menarik napas pelan. Bersyukur dalam hati memiliki suami yang menepati janjinya untuk tidak menyentuh sisi di mana dia tertidur semalam. Meskipun mereka tertidur bersama diatas kasur ini, namun batas yang dibuat pria itu tetap terjaga bahkan malah dirinya yang hampir saja memeluk pria itu jika tidak ada guling sebagai penengah mereka.
Pria itu juga tidak berkata kata apalagi setelah dirinya menaruh guling dan bersikeras untuk tidur dikasur dan setelahnya tertidur dengan nyenyak dalam diam.
Kemudian Tisya pun bangkit dari tempat tidur setelah beberapa menit merilekskan tubuh dan memandangi punggung besar itu tanpa sadar. Dia memungut cardigan nya yang ia biarkan tercecer dibawah bersama koper yang akan dia bawa nanti.
Begitu keluar dari bilik kamar, udara pagi menyambut kulit wajahnya yang baru saja ia basuh dengan air dingin. Tisya berjalan masuk menuju dapur kecil yang terletak di sisi belakang rumah. Tangannya meraih gelas dari rak atas dan mengisi nya dengan air putih dingin dari dispenser.
Ia menenggaknya perlahan, merasakan sensasi air dingin itu yang segar membantu menenangkan pikiran nya yang masih berantakan sejak semalam. Matanya melirik kearah jendela besar, memperhatikan bayangan samar taman yang telah diterpa matahari pagi— Hening menerpanya dan hanya ada suara burung serta detak jam dinding yang terdengar di pendengaran.
Selesai minum, dirinya meletakan gelas kaca itu ditempat cucian piring dan membersihkan nya langsung lalu kembali ke kamar nya untuk pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Kali ini lebih lama dia berada di dalam kamar mandi. Dia tidak membasuh rambut dikarenakan waktu yang sangat minim untuk dia segera melanjutkan aktivitas lain dengan diburu buru jadwal keberangkatan nya ke Jakarta.
Dirasa cukup dengan kegiatan membersihkan diri, Tisya memakai pakaian nya yang telah dia ambil sebelum dirinya masuk ke kamar mandi ini untuk mandi. Dia memilih pakaian terbaik yang menurutnya cukup sopan dan nyaman untuk dikenakan di hadapan semua keluarga yang hadir pagi ini untuk sarapan. Setelahnya dia keluar dari kamar mandi, ia berdiri didepan cermin dan mulai merapihkan wajah dengan menggunakan basic skincare yang dia miliki serta merapihkan rambutnya yang berantakan dengan tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
