part 11 (Revisi)

7.6K 251 12
                                        

⚠️⚠️⚠️
Sekedar mengingatkan ya.. cerita ini termasuk nya slowburn, jadi kalau sedikit agak lama gitu mohon dimengerti😊

💐💐

Hari berikutnya, udara pagi dirumah terasa dingin dan bersih membuat aroma kopi yang baru diseduh oleh Mbok Darmi menyebar perlahan diruang makan. Cahaya matahari memasuki ruangan dari jendela besar dekat tangga, memantul dilantai marmer putih yang licin, menciptakan kilau halus.

Tisya menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Dirinya telah siap menggunakan seragam sekolah, dan matanya terasa sedikit perih karena belum terbiasa dengan cahaya pagi tanpa kacamata. Ia menyipit, mencoba fokus tanpa bantuan kacamatanya yang kini sudah tidak berbentuk.

Minus dua memang tidak membuatnya buta total, tapi semuanya terlihat agak buram—seperti ada lapisan tipis kabut di matanya.

Begitu melewati ruang televisi, Ia mendengar suara sendok menyentuh cangkir. Tisya sedikit kaget ketika melihat Naka duduk seorang diri di ujung meja, mengenakan setelan kantor nya yang telah rapih. Wajahnya segar, bersinar seperti matahari pagi.

Tatapan pria itu kini beralih menatap dirinya yang telah menatapnya terlebih dahulu seolah sedang menilai "Pagi" katanya singkat

Sontak saja Tisya membalas nya dengan kikuk "Pa-pagi" jawabnya sembari mendekat dan duduk tersekat satu kursi dengan Naka

Mbok Darmi keluar dari dapur, menaruh roti lapis beserta selai dihadapan Tisya kemudian beralih bertanya pada tuannya yang sibuk dengan secangkir kopinya

"Mas Naka seperti biasa hanya kopi saja toh? Jadi saya hanya siapkan roti untuk Mbak Tisya"

Naka mengangguk "Iya Mbok"

"Kamu perlu kacamata baru bukan?" Tanya Naka ketika melihat Tisya menggosok pelan matanya

Tisya tertegun sebentar ketika mendengar pertanyaan Naka "Iya. Mungkin nanti aku akan minta papah"

Dahi Naka mengernyit bingung "Maksud kamu? Saya sudah kasih kamu kartu debit untuk digunakan, untuk apa kamu masih meminta papah kamu? Kamu mau merusak harga diri saya didepan beliau?"

Gadis itu gelalapan sebelum menjawab, bukan maksud dirinya seperti itu. Hanya saja kan Naka menganggap pernikahan ini titipan, jadi tidak sebaiknya dia bergantung pada Naka terus-terusan bukan

"Tidak. Maksud aku itu..." Tisya menggantung kalimatnya untuk mencari kata yang tepat agar dirinya tidak kembali menyinggung Naka. Tangan nya refleks meremas satu sama lain di pangkuan.

"Aku hanya tidak mau merepotkan Mas Naka. Lagipula kacamatanya kan engga mendesak, aku masih bisa melihat"

Naka menatapnya beberapa detik, cukup lama untuk membuat Tisya yang menunggu jawaban dari pria itu.

"Kalau sudah tidak bisa dipakai, itu namanya mendesak. Kamu mau seharian disekolah dengan penglihatan buram?" Nada suaranya tidak meninggi, tapi tegas— dan Tisya tahu itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban.

Mbok Darmi yang sejak tadi mengatur piring piring di meja dapur terbuka, menyela sambil tersenyum ramah

"Kalau begitu, sepulang sekolah biar Mbok yang antar ke optik Mbak. Nanti Mbok Darmi tunggu di depan gerbang, bagaimana?"

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang