Part 24 (Revisi)

4.8K 271 26
                                        

Keesokan harinya, rutinitas berjalan seperti biasanya. Tisya kembali mengenakan seragam sekolahnya, kuncir kuda sederhana, wajah polos tanpa riasan. Namun ada sedikit rasa canggung yang ia bawa dari malam sebelumnya—percakapan dengan Naka yang masih menempel dihatinya.

Saat tiba disekolah, suasana sudah terasa berbeda. Koridor sudah dipenuhi poster-poster warna-warni buatan OSIS, beberapa murid sedang sibuk menempelkan kertas pengunguman di mading. Sorak-sorak kecil terdengar dari tiap kelas.

Di aula kecil dekat gerbang, seorang anggota OSIS berdiri di depan pengeras suara.
"Perhatian untuk seluruh siswa kelas 12. Dua hari lagi akan ada pengarahan khusus mengenai jalur beasiswa dan peluang kerja sama dengan perusahaan swasta. Semua siswa kelas 12 diwajibkan hadir di aula utama"

Serentak kelas Tisya jadi ramai. Ada yang bersorak, ada yang panik, ada juga yang langsung heboh berbisik-bisik.

Tisya yang duduk hanya mendengarkan dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Libra, yang mendengar itu langsung bersinar matanya.
"Beasiswa? Wah keren banget. Semoga bisa jadi jalan keluar kuliah gratis ini mah"

Spontan juga gadis itu langsung melirik Tisya dengan memegang lengan nya. "Ca! Kita harus banget ikut nyimak. Siapa tahu ada peluang kan? Aku dengar-dengar, perusahaan yang kerja sama ini bukan main loh. Katanya perusahaan konsultan gede di Jakarta"

Tisya tersenyum kecil, menunduk. Dia sempat tertegun beberapa saat, Mungkin ini yang dimaksud bisnis oleh Naka.

"Eh, tapi kamu mau daftar beasiswa nya kan Ca?" tanya Libra dengan mata berbinar.

"Aku? Kurang tahu sih Li. Sepertinya aku lebih baik diam dulu deh, fokus utama untuk sebulan kedepan ujian akhir. Kemungkinan juga dengar saja dulu pas acaranya" jawab Tisya pelan, mencoba untuk memberi pengertian teman nya itu.

Libra manyun. "Ya ampun Ca, setidaknya ada berpikiran buat masa mendatang juga dong. Aku yakin deh, kalau kamu niat, kamu bisa dapetin kesempatan besar itu"

Tisya hanya tersenyum kecil. Hatinya campur aduk. Ia memang belum tahu harus melanjutkan kuliah di mana, tapi bayangan bahwa perusahaan Naka mungkin ada dibalik acara itu membuat jantung Tisya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Bel masuk akhirnya berbunyi, tapi suasana riuh itu masih terbawa hingga pelajaran berlangsung.

💐💐

Jam istirahat pertama tiba. Bel berbunyi nyaring, segera disambut suara kursi berderak, anak-anak berhamburan keluar kelas. Beberapa ada yang langsung menuju kantin, sebagian lain berkerumun di lorong sambil terus membicarakan acara pengarahan kelas 12 yang baru saja diumumkan tadi pagi.

Tisya menghela napas kecil, merapihkan buku di mejanya. Libra yang mendengar bel berbunyi tadi langsung berburu menuju kantin setelah tadi Tisya memberitahu untuk tidak ikut bersamanya ke kantin. Ia memang juga sudah terbiasa menghindari keramaian sebenarnya. Kali ini, perpustakaan terasa lebih menggoda dibanding ikut ke kantin bersama Libra. Ada tenang, ada buku, ada ruang untuk pikirannya yang masih terus saja memikirkan perihal Naka.

Saat ia bangkit sambil memeluk buku catatannya, sebuah suara berat memanggil. "Princess Tica, kamu enggak ke kantin?"

Tisya menoleh. Melihat Banyu yang duduk dua bangku di belakangnya, sedang menatap dengan alis terangkat.

"Enggak, aku mau ke perpustakaan dulu," jawab Tisya singkat, suaranya pelan.

Banyu tersenyum lebar. "Pas banget. Aku juga mau kesana. Boleh bareng?"

Tisya sempat ragu, ia juga tidak punya alasan untuk menolak tawaran Banyu. Tapi entah kenapa kehadiran Banyu selalu membuat dirinya sedikit kikuk. Banyu ini tipe pria yang ramah, banyak bicara, dan terlalu mudah akrab. Berbeda dengan dirinya yang lebih suka diam. Jadi, jika untuk berduaan dengan pria seperti Banyu, membuat Tisya sedikit canggung.

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang