Hai, apakah masih menunggu cerita ini? Aku update 3000 kata hari ini🥹
Sejujurnya juga aku kepo deh soal pendapat kalian sama cerita ini, takut juga ga masuk kriteria dan takut cringe😢
OKAY SEKIAN, SEMOGA PART KALI INI CUKUP MEMUASKAN
💐💐
Sesampainya Tisya dirumah, langit mulai berwarna jingga, cahaya matahari menembus tirai tipis ruang tamu rumah Naka. Kala Tisya memasuki rumah, gadis itu melihat suaminya tengah mendorong dua koper yang ia yakini milik Mamah dan Papah mertuanya.
Sepertinya Naka juga sengaja pulang lebih awal untuk sekedar bersopan santun mengantar kedua orang tua nya meninggalkan rumah mereka, walaupun mertua nya membawa mobil.
Perlahan langkah nya menghampiri mereka dan tak lupa menyalami ketiga nya.
"Berhubung Tisya sudah sampai di rumah, kami langsung pamit saja ya sayang. Sudah cukup lama juga Mamah sama Papah menginap, nanti malah mengganggu" ujar sang Mamah sambil menepuk punggung Tisya dengan lembut. Senyumnya yang hangat terpatri di wajahnya.
"Tidak merepotkan, Mah. Justru Tisya senang," jawab Tisya sopan, menunduk sedikit. Ada ketulusan dalam suaranya, meski pipinya nampak memerah karena terkena matahari luar dan ditambah perhatian sang mertua.
Papah Naka mengangguk sambil menatap putranya. "Jaga istrimu baik-baik, Bayanaka. Jangan sampai lengah, awas saja kamu"
Naka mendengus pelan mendengar ucapan Papah nya yang menurut dirinya sedikit berlebihan. Segera mereka mengantarkan kedua orang tuanya hingga ke pintu utama. keduanya pun langsung menaiki mobil yang telah terparkir di depan sehingga mobil itu melaju meninggalkan halaman.
Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya ada Tisya dan Naka, berdiri sebelahan menatap halaman dengan canggung.
Beberapa detik hanya ada suara angin sore itu. Tisya memeluk lengannya sendiri, merasa sangat canggung. Seolah kehangatan tadi menghilang bersama mobil yang melaju.
Naka akhirnya membuka suara. "Kamu capek?"
Nada suaranya datar, namun tidak dingin. Tisya yang merasa dirinya ditanyai, sontak menoleh dan menggeleng pelan. "Tidak. Apa ada yang ingin Mas Naka bicarakan?"
Naka menatapnya sejenak, lalu menghela napas, rupanya gadis ini bisa memahami pertanyaan nya. "Hm... kalau tidak keberatan kita bicara sebentar di dalam"
Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Naka sudah melangkah lebih dulu ke ruang tamu dan duduk bersandar dengan santai. Tisya pun sontak mengikuti langkah besar suaminya ke dalam rumah.
Dirinya berdiri menatap Naka dengan pandangan bertanya, menunggu sang suami mengeluarkan suara tanpa duduk.
"Kenapa?"
Tisya mengerutkan dahinya ketika Naka malah memilih bertanya ke dirinya. "Kenapa apa nya Mas Naka?"
Pria itu menghela napas pelan, tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya yang berdiri seolah menunggu tuan nya memberi perintah.
"Kamu, Tisya. Kenapa berdiri seperti itu? Harus saya persilahkan terlebih dahulu untuk duduk?"
Tak tahu harus apa, Tisya gelalapan ketika ditanya demikian dengan tatapan menghunus dari suaminya tepat ke matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
