Part 07 (Revisi)

6.7K 241 4
                                        

Selama aku nulis cerita, aku selalu denger lagu. Kalau kalian suka sembari denger lagu ga sih?

💐💐💐

Setelah hampir dua minggu ini Tisya beserta keluarga nya direpotkan dengan berbagai macam persyaratan dan urusan untuk pernikahannya— akhirnya pernikahan yang akan dilaksanakan satu hari kedepan akan dilaksanakan di kediaman Mbahkung serta Mbahti nya.

Semua itu memang permintaan Alisa— selaku mamah dari pengantin wanita. Jika pernikahan akan dilaksanakan di Jakarta, pastinya akan sulit bagi Mbahkung dan Mbahti untuk menyaksikan acara sakral ini yang akan membuat mereka haru bahagia.

Mengingat Tisya yang memang masih menginjak usia 19 tahun. Dengan amat terpaksa kedua orang tua nya membuat kesepakatan bersama calon besan nya— di mana kesepakatan itu terjadi yang diantaranya.

1. Tidak memperbolehkan siapapun di luaran sana kecuali keluarga besar mengetahui pernikahan ini.

2. Bayanaka dan Tisya dilarang memiliki anak sebelum Tisya menginjak usia 21 Tahun

Kesepakatan itu justru dengan sangat cepat disetujui tanpa adanya penolakan dari Naka dan Tisya, terlebih Naka yang memang ingin membuat kesepakatan seperti ini jauh sebelum mereka menyetujui pernikahan yang terjadi. Bahkan menurut dirinya kesepakatan itu masih ada yang kurang, yang nantinya akan dia bahas bersama yang bersangkutan.

Pernikahan ini terjadi secara intimate, tidak terlalu banyak tamu yang diundang nya. Beberapa tamu memang hanya didatangi dari keluarga besar kedua mempelai.

Bahkan dibalik kesepakatan itu, hanya segelintir orang yang mengetahui alasan sebenarnya. Tak ada kabar yang di unggah pada media sosial, hanya sebaran undangan untuk keluarga besar nya. Kesepakatan ini terjadi, yang tahu hanya orang tua kedua mempelai serta Tisya dan Naka— yang benar benar memahami semua ini harus terjadi.

Hari semakin malam dan pernikahan akan segera terjadi. Tisya merasa bosan di dalam kamar— akhirnya memutuskan untuk duduk melamun di teras samping rumah Mbahkung dan Mbahti nya.

Namun tak berselang lama dirinya duduk sendirian, seseorang datang menginterupsi kesendiriannya tanpa banyak basa basi.

"Boleh saya duduk?" Tanya nya

Ketika kepalanya menoleh dan menatap seseorang yang berdiri disamping nya— yang ternyata adalah pria yang akan menjadi suami nya nanti.

Walaupun sedikit kaget, Tisya pun mengangguk pelan mengiyakan pria itu untuk duduk tepat di samping dirinya yang duduk di kursi ukiran kayu panjang ini.

"Iya.. silahkan"

Tanpa berbasa basi pria itu pun duduk dengan keheningan sejenak sebelum akhirnya bersuara kembali.

"Saya hanya ingin berbicara satu kali ini sebelum besok semuanya sah"

Tisya bertanya tanya apa yang ingin dibicarakan laki laki di sampingnya kini

"emm oke" ujar nya pelan

"Kamu tahu kan, ini bukan pernikahan yang biasa dan ingin saya atau bahkan kamu sendiri lakukan. Saya setuju karena orang tua saya yang meminta dan begitupun kamu" helaan nafas tak luput dari pria itu sebelum melanjutkan ucapan nya yang terpotong

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang