Pagi sabtu datang dengan langit yang cerah, namun hati Tisya kali ini terasa sedikit tidak setenang biasanya.
Ia terbangun dengan rasa sisa semalam—sentuhan yang masih terasa hangat di ingatan, kecupan berganti ciuman yang lembut, dan kata-kata yang sebenarnya masih belum bisa Tisya pahami. Ada bagian dari dirinya yang ingin percaya sepenuhnya dengan Naka, namun...ada juga sebagian kecil yang masih bertanya-tanya, apakah semua pernikahan ini bisa menjadi kenyataan yang berakhir bahagia? atau semua ucapan yang dikatakan Libra akan menjadi kenyataan?
Tisya menatap langit-langit kamar beberapa detik lebih lama.
"Mas Naka masih disini dan aku harus percaya itu," batinnya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Suara langkah kaki terdengar dari arah depan pintu kamar.
Ia segera bangkit, sedikit berlari keluar kamar namun dengan sedikit hati yang sedikit hati-hati.
"Mas Naka."
Tisya memanggilnya ketika ia mendapati Naka sudah rapih—kemeja santai terpasang rapih, jam tangan melingkar di pergelangan, rambutnya tersisir rapih jatuh alami tanpa kesan dipoles. Terlihat seperti seseorang yang memang sudah bersiap pergi sejak pagi.
"Kamu mau pergi, Mas Naka?" tanya Tisya pelan.
Naka menoleh dengan ekspresi lembut seperti biasanya.
"Iya. Saya ada janji sebentar."
"Oh.." Tisya mengangguk kecil. "Sama siapa, Mas Naka?"
"Teman kantor," jawabnya ringan. "Saya keluar sebentar saja."
Nada suaranya terdengar santai, tapi ada sesuatu yang samar—seperti kehati-hatian berlebihan, atau upaya untuk terdengar biasa saja.
"Kamu di rumah saja hari ini, ya," lanjutnya. "Istirahat, jangan keluar dulu."
Nada itu lembut, namun kali ini terasa lebih tegas dari biasanya, dan bahkan terkesan memaksa atau terburu-buru untuk Tisya setujui.
Tisya menatapnya beberapa detik lebih lama. "Kenapa?"
Naka terdiam sesaat sebelum menjawab, lalu meraih kunci mobil di meja seolah butuh alasan untuk mengalihkan gerak tubuhnya.
"Cuaca lagi panas," katanya sambil tersenyum tipis. "Kamu juga capek seminggu ini habis ujian. Saya nggak mau kamu tambah capek."
Ia menoleh kembali pada Tisya, sorot matanya hangat—namun ada bayang kecil yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Seperti rasa bersalah yang ditahan rapat di balik ketenangan yang ia paksa.
"Lebih baik kamu dirumah saja," ulangnya lebih pelan, dengan nada meyakinkan. "Tenang. Saya nggak akan lama."
Tisya tersenyum kecil, meski di dadanya muncul rasa ganjil yang sulit dijelaskan.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Aku di rumah aja."
Naka melangkah mendekat, mengusap ringan puncak kepala Tisya—gestur yang singkat, hangat, dan terasa seperti bentuk penenang...bukan hanya untuk Tisya, tapi juga untuk dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayang Mata
RomansaHi pembaca cerita ini, jangan bingung ya kalo isi nya beda. Karena aku ingin merombak atau revisi cerita ini secara keseluruhan tapi bertahap. Aku harap kalian yang udah pernah baca atau bahkan mau baca bisa mengerti yaa😊 - "Pernikahan ini hanya t...
