Part 20 (Revisi)

7.2K 234 54
                                        

Ruang rapat itu dingin, pendingin diruangan terlalu keras, tapi tidak ada yang cukup untuk meredam rasa panas membara dikepalanya. Bukan panas karena amarah, melainkan semacam kepuasan aneh yang menempel di otaknya. Tadi, hanya beberapa jam yang lalu, dia berdiri dihalaman sekolah Tisya. Melihat tatapan kaget gadit itu, bahkan sempat juga menangkap sorot mata seorang laki-laki—Banyu, kalau dia tidak salah dengar namanya—yang jelas-jelas mengenali dirinya.

Tangannya masih bergetar tipis ketika ia menutup laptopnya. "Bagus" gumamnya pelan sambil menghela napas.

Sebuah kata sederhana, tapi memuat banyak sekali makna. Bagus karena sekarang dia punya alasan yang sah untuk keluar masuk sekolah itu. Bagus juga karena tidak perlu terlalu sering menyuruh supir untuk gadis itu menunggu Tisya digerbang. Sekarang, semua itu bisa dilakukan terang-terangan dengan baju rapih, kartu nama dan nama perusahaan yang menjamin langkahnya.

"Pak, ini draft revisi kontrak untuk pertemuan besok" suara sekertarisnya membuyarkan lamunan.

Naka mengangguk, meneriman map itu tanpa banyak komentar. Tapi pikirannya tidak benar-benar fokus pada lembar-lembar kertas itu. Ia malah teringat detail kecil— bagaimana Tisya menunduk berusaha menahan ekspresi, bagaimana teman-teman sekelasnya menoleh penuh tanda tanya, dan bagaimana Banyu sempat menatapnya penuh tanda tanya seolah hendak menuntut jawaban darinya.

Senyum tipis terebentuk diwajahnya. Biarlah, jsutru itu semakin baik. Biarlah lingkaran pertemanan Tisya tahu ada sosok seperti dirinya tanpa mengetahui status nya. Ia tidak keberatan timbul bisik-bisik mengenai dirinya. Semakin banyak yang mengetahuinya, semakin sulit juga bagi Tisya untuk menyingkirkan keberadaannya.

Naka menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit coklat, menatap langit Jakarta lewat kaca jendela tinggi. "Kali ini, kalian tidak bisa sebebas itu" bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Dia membuka ponsel, jari-jarinya melayang diatas layar, nayris menekan nama Tisya di daftar kontak. Ingin rasanya sekedar mengirim pesan singkat— menanyakan sudah pulang atau pura-pura menyinggung soal sekolah nya tadi. Tapi kemudia dia berpikir ulang— menahan diri dan buru-buru menaruh kembali ponselnya diatas meja, seperti menahan refleks yang kelewat beresiko.

"Belum saatnya" pikirnya. Biarkan saja Tisya yang makin gelisah. Biarkan saja gadis itu bertanya atau berdebat dengan dirinya nanti dikamar gadis itu. Itu bagian dari permainan yang lebih manis daripada sekedar sebuah balasan pesan.

Naka menyalakan rokok elektrik nya, menghisap pelan lalu menghembuskan uas tipis ke udara. Asap putih mengabur dihadapan wajahnya, seakan menjadi tabir yang menutupi gejolak dibalik mata. Dia tahu satu hal—sejak hari ini, sekolah itu bukan hanya sekedar tempat Tisya. Sekolah itu kini juga sudah menjadi bagian dari wilayahnya.

Dan akan dia pastikan, setiap langkah Tisya disana selalu berada dalam jangkauan pandangannya.

💐💐

Suara pintu kamar diketuk pelan.
Sekali. Dua kali.

Tisya yang meringkuk dibalik selimutnya, sontak terlonjak kecil. Ia menahan napas, jantungnya berpacu lebih kencang. Siapa yang datang di jam segini? Seharusnya tidak ada orang selain dirinya, Naka belum pulang dari kantornya. Namun suara ketuk pintu itu ulah siapa?

"Tidur?" suara berat itu terdengar samar dari luar.

Tisya terdiam Ada jeda dua detik sebelum ia menyadari betul siapa pemilik suara itu. Naka, suaminya.

Tangannya refleks menggenggam selimut lebih erat. "Be-belum" jawabnya lirih hampir tak terdengar.

Pikirannya terus bertanya-tanya dengan tingkah-tingkah yang pria itu lakukan hari ini. Itu semua benar-benar diluar kendalinya yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Tisya.

Bayang MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang