[COMPLETED]
started on 9 may 2020.
finished on 30 june 2020.
high rank🏅
-3 in fiksipenggemar [240620]
-3 in njm [300620]
-3 in motor [300620]
-6 in nctfanfiction [030720]
-9 in najaemin [060720]
-3 in najaemin [090720]
-2 in najaemin [110720]
-1 in...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
asupan sebelum membaca hehe selamat membaca gaes!
Di koridor rumah sakit, kini Natta tengah berjalan mondar-mandir menunggu operasi Jaemin selesai. Sambil menggigiti kuku pendeknya, Natta juga meremas tangannya gelisah. Entahlah, ia benar-benar gelisah menunggu operasi Jaemin selesai.
"Natta... dimana Jaemin?"
Natta menoleh ke arah kanan dan mendapati Yoona sudah menangis banjir air mata. "Maaf bunda, ini salah aku. Kalo Jaemin gak ke rumah aku mungkin ini gak akan terjadi." Jawab Natta menyesal.
"Bunda tanya Jaemin dimana Natta?!"
Natta menunduk, jika bukan karena Natta mungkin ini gak akan terjadi. "Dengan keluarga Jaemin Ramadhan."
Setelah itu, dokter yang mengoperasi Jaemin keluar masih dengan baju operasinya. "S-saya ibunya dok, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan?"
"Pasien baik-baik saja, karena pendarahannya tidak terlalu banyak pasien masih bisa kami atasi. Sementara ini, pasien harus beristirahat terlebih dahulu. Jika sudah siuman pasien boleh di jenguk oleh pihak keluarga maupun teman-temannya. Saya permisi."
"Terimakasih banyak." Ujar Yoona sambil menatap ruang operasi Jaemin.
Di hati kecil Natta, ia lega mengetahui bahwa Jaemin baik-baik saja di dalam sana. Dengan darah yang sudah kering di tangan Natta, Natta hanya bisa menatapnya dengan seulas tipis senyuman. Setidaknya tindakan yang ia berikan kepada Jaemin ada manfaatnya juga.
"Natta."
Natta mendongkak ketika Yoona mulai mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Natta yang terkena darah Jaemin. "Terimakasih telah menjaga Jaemin, bunda benar-benar berterimakasih."
"Engga bunda, ini salah Natta. Bunda-"
"Sutt, kalo gak ada kamu juga mungkin Jaemin udah mengalami pendarahan yang cukup serius. Sekali lagi terimakasih."
"Sama-sama bunda."
Detik-detik selanjutnya, Yoona dan juga Natta mulai berpelukan. Hingga tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di dekat ruang inap suaminya.
"Yoona?"
Yoona melepaskan pelukannya dan mulai menatap sosok yang sudah lama menghilang di dunia ini. Dia Ana.