Chapter 1

59 10 3
                                    

Audrey

Sepasang manik hitam pekat berdiri di hadapan jendela kaca yang memantulkan semburat senja di ujung langit. Rambut pendek sebahunya ia letakkan di belakang telinga agar tak memasuki matanya karena diterpa angin yang lumayan keras berhembus.

Kepala gadis itu sekarang berpikir keras menimbang-nimbang dua hal yang dikatakan sudah terlambat untuk diputuskan. Ia ingin berteriak sekeras mungkin seperti kata Stella tatkala hatinya tengah kacau balau–namun tak mudah melakukannya jika seseorang akan mendengarkannya dan melaporkan dirinya pada pemilik asrama, alhasil Dorm Of Legend akan menjadi tempat pelariannya selama dua hari.

Memilih untuk tidak memasuki perguruan tinggi memang adalah keputusan terbodoh si gadis sepanjang usianya yang telah memasuki delapan belas tahun tiga hari yang lalu. Perbuatannya memang tidak terpuji dan tak akan mudah di maafkan oleh orang tuanya yang saat ini memblokir ketiga kartu ATM pribadinya. Apalagi Hoseok juga belum mengetahui perbuatannya–mungkin sebentar lagi. Telinga si gadis pun akan memanas mendengar celotehan pria tak berperasaan itu.

"Audrey!!"

Gadis yang bernama Audrey itu pun tersentak hebat mendengar teriakan di balik pintu sekaligus gedoran yang cukup keras. Apa yang ia pikirkan barusan akhirnya terjadi juga.

"Hoseok?" Stella bangkit dari duduknya menampilkan alis yang baru sebelah ia bingkai dengan pensil riasnya. Matanya membesar dengan jantung yang terpompa dua kali lebih cepat seperti halnya Audrey.

"Apa yang harus aku lakukan?" cicit Audrey hampir tidak kedengaran. Kemudian ia menghidupkan lampu kamar yang tampak meremang karena memasuki malam.

"Jangan bersuara," saran Stella menempelkan satu telunjuk di depan bibirnya.

"Audrey! Keluarlah! Kalau dalam hitungan ketiga kau masih di dalam, bersiaplah aku akan  mendobrak pintu ini!"

Belum sempat tiga angka dihitung, Audrey dengan terpaksa berlari membukakan pintu. Pintu pun terbuka dan langsung menampilkan dua orang pria—Hoesok dan Jin.

Hoseok dengan keras menarik pergelangan tangan Audrey hingga hanya beberapa senti dari hadapan pria itu. Tatapan Hoseok tak ada bedanya seperti binatang buas yang akan siap menerkam mangsanya.

Audrey terlihat pasrah jika ia akan dipukul habis-habisan, meski seumur hidup tubuhnya tak pernah disakiti oleh saudara kandungnya itu.

"Kau kenapa kabur? Kenapa tidak menuruti kemauan pria tua itu? Katakan padaku," tuntut Hoseok mengguncang bahu Audrey.

Audrey setengah berang mendengar kalimat Hoseok. Bukan karena pria itu melontarkan kata dengan intonasi kerasnya, hanya saja ia kembali teringat oleh Jossky yang selalu menuntut Audrey untuk menerima segala kemauannya—termasuk berkuliah di kampus yang di dalamnya hanya ada wanita. Mana mungkin Audrey bisa hidup tanpa pria, terlebih ia juga ingin muntah rasanya mendengar rumor para gadis di sana yang menyukai sesama jenis. Biarpun mulutnya berbusa menjelaskan pada Jossky, pria itu pun tidak akan mau mengindahkannya.

"Audrey!"

"Tidak mau! Aku ingin sepertimu, bebas," semprot Audrey dengan mata bergetar karena sungguh tak berani berhadapan dengan Hoseok.

"Aku pria, kau wanita!" tekan Hoseok dengan tatapan menyalang.

"Tapi aku juga punya hak untuk memilih hidupku. Aku lelah menuruti kemauan Joss. Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa!" seru Audrey dengan emosi yang tersulut. Baginya semua orang akan memiliki pikiran yang bodoh jika selalu membedakan pria lebih bisa segalanya dibandingkan wanita.

Hoseok melepaskan rengkuhan di bahu Audrey sambil menatap gadis itu lekat-lekat. "Terserah darimu. Tapi awas saja kalau kau membuat masalah di sini, aku akan langsung mengembalikanmu dengan pria tua itu," ancam Hoseok dengan penuh penekanan seraya meninggalkan Audrey.

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang