Chapter 4

30 10 3
                                    

Stella

Seorang gadis menyesap americano-nya. Baru beberapa menit ia keluar dari perpustakaan hujan pun turun. Beruntung ia bisa lebih cepat dari hujan, meski ia tak ahli dalam memprediksi. Sepertinya nasib baik untuknya hari ini karena memakai sweater berlapis mantel tebal dipadukan dua leggings terbaiknya. Matanya memandang kaca jendela cafe yang berembun nyaris menutupi pantulan perpustakaan dan minimarket di sampingnya.

Pukul 17:25—waktu yang ditunjukkan jam dinding, itu artinya ia akan pulang dalam lima menit lagi. Namun tidak gadis itu lakukan jika hujan tak kunjung mereda. Ya, karena tak bisa memprediksi dia jadi lupa menyediakan payung sebelum pergi ke luar.

"Kau? Stella kan?"

Baru saja gadis itu mencari handphonenya di tas, namun ternyata ia lupa membawa benda itu dengan spontan menengadah saat mendengar namanya disebut—terdapat seorang pria di hadapannya.

"Boleh aku duduk?"

"Silahkan saja," sahut Stella membantu mengeluarkan kursi untuk si pria. Wajahnya tampak bingung. Ia tau siapa yang tengah duduk di sampingnya saat ini, hanya saja Stella tak berpikir bahwa teman dari Kakak sahabatnya mengenali dirinya.

Jin yang mengetahui gerak-gerik Stella langsung saja menjelaskan, "kau tentunya ingat pria yang membelai rambut Audrey di depan pintu kamarmu. Ya, itu aku. Aku adalah orang yang mahir untuk tidak lupa wajah seseorang meski hanya melihatnya sedetik. Sayangnya aku tidak tau namamu. Dan... Hoseok memberitahuku." Jin berusaha menyusun keterangannya pada Stella. Ia pun sempat meremeh dalam hati oleh pertengahan kalimatnya yang dilebih-lebihkan.

"Kalau begitu tidak perlu ada perkenalan lagi," kata Stella menyarankan karena merasa tak nyaman jika membubuhi pertemuan mereka dengan berjabat tangan .

"Tidak usah." Jin menggeleng dan tersenyum sambil membuka ritsleting mantelnya.

Sebelum Stella kembali berujar ia pun memilih menghabiskan americano-nya yang sudah menghangat terlebih dahulu. Pikirnya tidak akan nyaman jika hanya dirinya yang mempunyai minuman. "Kau sudah lama di sini?" Stella mengatakannya karena melihat tak ada yang basah dari pakaian Jin.

"Semalam aku menginap di sini. Yeah, cafe ini milik pamanku."

Stella sempat membesarkan matanya meski tidak terkejut. Ia hanya terlambat mengetahui jika tempat yang sering ia kunjungi ada sangkut pautnya dengan Jin. "Benarkah? Kenapa aku baru melihatmu?"

Jin mengangguk. "Aku akan ke sini jika pamanku sedang ke luar kota. Well, begitulah... aku yang menghandle tempat ini."

Stella membulatkan mulutnya. Ia tersenyum kikuk tatkala menyadari perjumpaan mereka yang baru dua kali namun seperti sudah kenal jauh. Pertama saat Jin menemani Hoseok menemui Audrey, dan ke dua untuk saat ini.

"Apa kau kesini dengan bus?" Jin bertanya, berusaha meluweskan suasana yang menurutnya lumayan kaku. Bohong saja jika dia seperti Hoseok yang tidak mau berbasa-basi. Faktanya Jin mempunyai seribu mulut yang tak akan bisa diam.

"Yeah," jawab Stella singkat.

Jin menganggukkan kepalanya seraya menoleh ke kaca jendela sebentar, lalu kembali beralih menatap Stella. "Kalau kutebak hujan itu akan berhenti malam," ucapnya seperti peramal namun dengan wajah yang serius.

Stella melirik ke luar sebentar memastikan hujan yang tidak cukup deras, sekarang malah semakin parah. Dalam hati ia setuju dengan perkataan Jin. "Aku terjebak," gumam Stella merengutkan wajahnya.

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang