Chapter 6

36 9 2
                                    

Audrey

Batin Audrey sempat berperang memilih apakah ia harus kembali ke rumah orang tuanya ataukah tetap tinggal bersama Stella, namun beruntung ia masih berkepala dingin dan ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari Stella.

Nasib sial menimpa Audrey ketika ingin pergi ke kamarnya. Audrey pikir itu bukan salahnya karena ia menggunakan kakinya dengan benar. Lebih-lebih menjengkelkan bagi Audrey ketika ia harus mengalami pendarahan di hidungnya.

Ketika tiba di kamar, Stella langsung menghampiri Audrey dengan tatapan khawatir yang luar biasa. "Astaga, kau kenapa Drey?" tanya Stella ketika melihat darah di baju dan sisa yang menempel di bawah hidung Audrey.

Audrey melangkahkan kakinya mendekati nakas dan mengambil beberapa tissue seraya membersihkan hidungnya. "Seseorang tadi menabrakku," sahutnya tanpa melihat Stella yang kini telah berada di hadapannya.

"Apa kau masih marah?" tanya Stella menyadari kebiasaan Audrey yang tidak akan melihatnya ketika sedang marah. "Aku bisa menjelaskan padamu, kumohon kau jangan seperti ini," lanjut Stella dengan tatapan sedihnya.

Audrey mengangkat kepalanya menatap Stella datar. "Katakan," ucapnya singkat.

Stella menarik sudut bibirnya tersenyum, bersyukur karena Audrey mau memberinya kesempatan. Ia pun menarik Audrey duduk di tepi kasur sambil menggenggam jemari Audrey. "Demi Tuhan aku tidak menyukai Jin. Sama sekali tidak. Aku tidak sempat memberitahumu bahwa aku menyukai seorang pria dan mungkin sebentar lagi kami akan berkencan."

Audrey menaikkan satu alisnya. "Bukan Jin?"

Stella menggeleng tersenyum lebar. "Ya Tuhan kau ini, aku sudah bilang aku tidak menyukainya."

"Lantas, siapa pria itu?" tanya Audrey lebih lanjut dan kelihatannya nampak antusias menunggu jawaban Stella.

"Aku akan mempertemukanmu dengannya besok malam."

"Hah? Untuk apa? Tidak ah, aku tidak akan sudi menjadi obat nyamuk," tolak Audrey mentah-mentah.

"Tenanglah, ini hanya pertemuan biasa. Aku juga sudah mengatakan padanya bahwa akan membawamu serta," ucap Stella memperhatikan Audrey yang tampak berpikir. "Ayolah Drey, kau mau kan?" sambungnya lagi dengan penuh harap.

Audrey mengangguk. "Baiklah," ujarnya menyetujui dan sedikit tersentak karena Stella langsung menghambur memeluknya.

"Aku lapar, bahan di kulkas juga sudah tidak ada. Apa kau mau menemaniku ke supermarket?" tanya Stella melepaskan pelukannya.

Audrey langsung saja mengangguk. "Lain kali aku akan mengganti dolarmu kalau Joss mendapati bisikan dari Tuhan," ucapannya menyadarkan diri bahwa selama di asrama Stella lah yang membiayai makannya, termasuk biaya asuransi pertama saat tinggal di asrama.

Stella menatap Audrey tak suka. "Tak perlu, lagi pula aku tak akan menerima uangmu sepeser pun. Berhentilah membuatku merasa tidak nyaman." Stella mencibir. Baginya tak ada kata perhitungan untuk Audrey yang sudah ia anggap sebagai saudara.

"Hei, apa kau tak rugi jika membiarkanku tidak mengganti duitmu?" Audrey mengejek sambil berusaha menahan tawanya.

"Audrey!" Stella menyeru dengan kesal hingga membuat Audrey menyemburkan tawanya.

"Baiklah, baiklah," ujar Audrey masih menyisakan tawanya sembari mengusap lengan Stella. "Ayo kita pergi," ajaknya sembari bangkit begitu pun Stella yang mengambil tasnya terlebih dahulu di dalam lemari.

Baru saja Audrey dan Stella ingin keluar dari pintu, seorang pria tiba-tiba saja menghentikan langkah mereka. "Kau ingin kemana?"

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang