Audrey
"sepertinya aku takkan lama di sini."
Alea memicingkan matanya setelah beberapa saat meletakkan koper Audrey di lemari. "Kau akan tinggal di mana?"
Audrey menghembuskan napas pelan. "Akan ku usahakan."
Alea mendekat ke arah Audrey dan duduk disebelahnya sembari memegang tangan gadis itu. "Tinggal saja di sini. Oh ayolah, jangan merasa keberatan. Katamu kau tidak punya siapa-siapa jadi bagaimana mungkin kau akan pergi? Terlebih kau tidak punya uang."
"Keberatan? Tidak sama sekali." Audrey bangkit dari duduknya seraya berjalan ke dekat jendela. "Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Hoseok dan Stella, aku benci mereka."
"Apa katamu? Hoseok? Kau mengenalnya?" tanya Alea berkali-kali dan tak lepas dari kerutan di dahinya.
Audrey mengangguk. "Ya, seorang Kakak yang tak aku harapakan, "sahut Audrey dan beberapa saat kemudian alisnya pun terangkat sebelah. "Kau mengenalnya?" tanyanya berbalik dengar pertanyaan yang sama.
"Mungkin bisa dibilang begitu. Beberapa hari yang lalu kami tak sengaja bertabrakan. Singkat cerita, dia memberitahukan namanya padaku," jawab Alea tak berlebihan karena ia masih tak percaya bahwa Hoseok adalah Kakak dari seorang Audrey.
Audrey hanya mengangguk paham dan tak ingin merespon lebih jauh. Ia memutuskan bangkit dari duduknya dan kembali mengenakan mantel kepunyaannya.
"Kau ingin ke mana?" Alea ikutan bangkit saat melihat Audrey yang tengah bersiap-siap ingin pergi. Padahal baru beberapa menit mereka tiba di kamar.
"Aku harus menemui seseorang."
"Siapa? Katamu kau tidak punya siapa-siapa."
Audrey memutar bola matanya malas. Satu hal yang ia baru tau dari seorang Alea adalah gadis itu tukang ikut campur. "Tunggulah, aku akan kembali," pamitnya memilih pergi dengan cekatan. Kepala gadis itu bahkan sempat menoleh ke belakang demi memastikan kalau-kalau Alea tengah membuntutinya, dan beruntungnya tidak.
"Hey! Keluarlah!" seru Audrey dibarengi ketukannya di depan sebuah kamar. "Jungkook! Apa kau tuli?!" Kali ini Audrey menambahkan volume suaranya dengan keras bersama ketukan pintu yang tidak selembut tadi. Sayangnya, Audrey tak menemukan apa-apa hingga bermenit-menit.
Audrey mendesis seraya berbalik dari sana. Kepalanya sempat memikirkan kamar 97 yang akan menjadi tempat pencariannya. Sayangnya Audrey mengurungkan niatnya dalam-dalam lantaran ia tak ingin bertemu dengan si gadis penghianat. Mau tak mau Jungkook adalah orang ke dua yang akan ia temui nanti setelah bertemu dengan pria brengsek yang telah menyulitkan hidupnya seperti Jossky.
Baru saja Audrey ingin menuruni tangga, dari dekat matanya telah menangkap seorang pria yang sangat tak asing di matanya tengah duduk termenung di pinggiran sana. Audrey pun memutuskan mendekat.
"Jimin?" tegurnya saat telah duduk di dekat sang pria. Benar saja, pria itu adalah Jimin.
Jimin menoleh dengan tatapan sendu. Sepasang matanya menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Kau habis menangis?" Audrey sedikit terkejut menatap mata sembab Jimin. "Kau kenapa?" tanya Audrey memastikan meski gadis itu sangat risih mendapati suatu kenyataan yang tak ingin ia saksikan.
"Dia pergi," ujar Jimin pelan diiringi bulir air mata yang telah meluncur menelusuri ke dua pipinya. "Dia meninggalkanku," sambungnya lagi dan kini telah membenamkan kepala di kedua lututnya.
Audrey termenung beberapa detik. Entah ia lupa atau apa yang jelas baru kali ini ia melihat seorang pria menangis untuk kekasihnya. Ya, tidak sulit menebak siapa yang Jimin maksud. Mengatakan bahwa Audrey terharu, nyatanya tidak sama sekali. Faktanya ia ingin memukuli pria itu karena teramat jengkel. Namun, mengingat penyebab kesalahpahaman di antara Jimin dan kekasihnya itu karena dirinya mau tak mau Audrey mengurungkan niat jahatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MY LOVER THE SERIES
RomanceMelalui kisah Audrey, Alea, Maddie, Stella dan Rachel, kita akan diajak memahami bagaimana rumitnya menemukan batas cinta yang sesungguhnya. Cinta yang menampung pengharapan dan begitu pulalah sulitnya cinta berikan kepastian. Akankah ke lima gadis...