Maddie
Maddie dan Namjoon sore itu duduk manis di taman depan asrama sambil menatap ribuan pohon maple yang berjejer di pinggir jalan. Namun aslinya hanya Namjoon yang fokus menatap ke depan dengan senyum yang menampilkan lesung pipitnya. Sedang Maddie malah memilih menatap pria itu dengan semburat bahagia yang seolah tak ada habisnya ia tampilkan.
Namjoon menoleh menatap mata cokelat jernih Maddie karena tau sebelumnya dari anak matanya bahwa gadis itu hanya memandangnya terus menerus. "Kau memikirkan apa?" Namjoon semakin menempelkan tubuhnya pada Maddie tanpa melepaskan lingkaran tangannya di punggung gadis itu.
"Aku mencintaimu." Maddie mengangkat ke dua tangannya dan memeluk Namjoon dari samping sembari menaruh kepalanya di lekukan leher kekasihnya.
Namjoon tersenyum lebar. Ia mengecup singkat dahi Maddie dengan penuh rasa sayang.
"Aku tidak ingin seperti gadis di seberang sana," ujar Maddie nyaris tidak kedengaran.
Namjoon langsung saja menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis yang tengah duduk menyendiri dan tampaknya tengah merenung diiringi tatapan sedihnya. "Maksudmu gadis itu?"
"Jangan berbicara keras. Nanti gadis itu bisa salah paham."
Namjoon tersenyum seraya melepaskan pelukannya dari Maddie, lalu meletakkannya ke dua telapak tangannya di pipi gadis itu. "Tidak akan kubiarkan sedetik pun kau sepertinya," ujar Namjoon tulus.
Maddie memanyunkan bibirnya. "Aku akan sepertinya jika kau tidak mendengarkan apa kataku."
Namjoon kehabisan kata-kata. Ia memilih memeluk Maddie menolak untuk menatapnya. Ia tau jika gadis itu membahas dirinya yang selalu tak mau mendengarkan saat Maddie melarangnya untuk tidak berkelahi. Sayangnya, hanya itu yang tidak bisa Namjoon penuhi.
"Aku tidak ingin kau terluka," bisik Maddie dan spontan saja ia pun meluruskan tubuhnya seraya menunjuk ke arah Namjoon. "Berhenti mengatakan bahwa aku mencintaimu hanya karena fisikmu. Aku tidak suka," sambarnya hanya meluruskan pemikiran Namjoon yang jauh dari apa yang ia maksudkan.
"Bisakah kau memiliki pikiran yang sejalan denganku?" Namjoon bertanya dengan wajah yang berubah dingin.
Maddie tertawa sebentar sambil menatap Namjoon. "Dengan membiarkan orang yang aku cintai berkelahi? Astaga, berhentilah memikirkan dirimu. Persetan dengan tawuran itu!" seru Maddie lepas kendali. Baginya apa yang ia katakan sungguh tak ada gunanya. Namjoon akan tetap seperti itu. Keras kepala pada satu frekuensi yang membuat Maddie merasa seperti tidak dihargai sebagai seorang kekasih.
Namjoon bangkit dari duduknya dan membuat Maddie seakan murka ketika pria itu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan layaknya seorang kekasih yang seperti orang-orang separuh akan berusaha memohon untuk diberikan maaf. Semua ketakutan, kegelisahan, kemarahan, bahkan kekecewaan dalam diri Maddie timbul dengan begitu saja hingga membuatnya bertanya dalam hati apakah Namjoon adalah pria yang pantas untuk dipertahankan?
Ke dua mata Maddie berkaca-kaca. Sebelum ia tau bahwa bening kristal itu akan meluncur melewati pipinya, gadis itu dengan cepat mengusap matanya dengan kasar. Demi Tuhan, Maddie pantas dikatakan tersiksa memikirkan Namjoon ketika tidak bersamanya. Hatinya yang melolong selalu bertanya-tanya apakah Namjoon baik-baik saja? Apakah Namjoon tidak terluka? Bahkan ketika bertemu, tanpa Namjoon sadari Maddie selalu tersenyum padanya karena melihat kekasihnya baik-baik saja dan tak memiliki luka sedikitpun.
Maddie menginginkan setidaknya di hati kecil Namjoon punya perasaan bersalah padanya. Sayangnya Maddie hanya tersenyum simpul menyadari Namjoon tak pernah mengeluarkan kata maaf sekali saja. Maka tidak masuk akal jika pria itu punya rasa bersalah.
Kali ini Maddie memutuskan matang-matang untuk tidak memilih mengalah. Ia berpikir untuk melakukan gertakan kecil pada Namjoon dengan cara tidak peduli dan bahkan tidak ingin bertemu untuk sementara waktu, berharap bahwa Namjoon menyadari akan kesalahannya.
Maddie berdiri dari duduknya seraya masuk ke asrama. Ia pikir saat ini tempat terbaik untuk menetralkan kepala dan hatinya adalah mengantarkan dirinya pada sang sepupu.
"Hai Mad."
Maddie masuk ke kamar 97 dengan pandangan bingung ketika melihat Audrey berdiri di depan kaca sambil mengangkat dress putih sepaha begitu pula dengan Stella yang melakukan hal sama pada lemari kaca satunya dengan memegang gaun biru langit yang menyuguhkan rok belakangnya agak terlihat panjang hingga ke lutut, sedang depannya akan memperlihat setengah paha seseorang ketika memakainya.
"Kalian sedang apa?" Maddie masuk dan menutup pintu. Ia berjalan dan mendudukkan tubuhnya di kasur sembari tetap menatap Audrey dan Stella secara bergantian.
Audrey menaruh dress-nya di sofa dan duduk di dekat Maddie. "Apa kau ingin ikut malam ini?"
"Kemana?"
Audrey melihat Stella sebentar yang menganggukkan kepalanya dari pantulan kaca mengisyaratkan untuk memperbolehkannya berbicara, lalu Audrey kembali menatap Maddie. "Stella mengajakku untuk bertemu dengan... calon kekasihnya." Audrey berujar dan terkekeh dengan membubuhi jeda pada kalimatnya sembari menunggu respon dari Maddie.
"Benarkah?" Maddie seketika bangkit dengan tatapan tidak percaya pada Stella, karena yang ia tau dari Audrey bahwa Stella tidak memiliki kekasih selama bertahun-tahun. "Ya Tuhan Stella, aku turut bahagia mendengarnya." Maddie memeluk Stella singkat dengan ucapan selamatnya.
"Ayolah Mad, jangan berlebihan." Stella jadi setengah malu ketika Maddie bertindak seperti itu.
"Baiklah, baiklah. Emm... sepertinya aku menerima tawaran Audrey tadi," ujar Maddie menyetujui untuk ikut serta malam ini dengan ke dua sahabatnya.
"Oh, terimakasih Mad," ucap Stella meski bukan dirinya yang menawarkan Maddie untuk ikut, tetapi ia pikir ia harus mengatakannya karena sumber dari kepergian mereka malam ini adalah berawal darinya.
"Sepertinya aku akan pergi ke kamar memilih sesuatu yang akan aku pakai malam ini."
Audrey dengan cepat menahan Maddie ketika gadis itu bangkit dan ingin melangkahkan kakinya ke luar. "Tunggu sebentar. Aku lupa mengatakan bahwa kemarin malam Aku mengambil beberapa makanan di kamarmu."
Maddie mengangguk. "Baiklah," ujarnya singkat seraya kembali melangkahkan kakinya ke luar dan menuju ke kamarnya.
Sesampainya, satu hal yang Maddie lakukan ketika masuk di kamar ialah membuka pintu lemarinya seraya mengambil beberapa dress bahkan gaun yang akan ia cocokkan di tubuhnya. Ekspresi Maddie ketika di depan kaca ialah berulang kali menggelengkan kuat kepalanya ketika ia tak sengaja memikirkan Namjoon, Namjoon, dan Namjoon.
"Jangan memikirkannya bodoh," maki Maddie pada dirinya sendiri. Saat ini ia hanya ingin hidup sebagai gadis yang tidak mempunyai ikatan pada siapa pun. Terlepas dari hubungannya dengan Namjoon. Maddie pun berharap apa yang ia lakukan semuanya adalah benar.
Setelah selesai memilih pakaian yang tepat, Maddie memutuskan untuk tidur sebentar karena merasakan ke dua matanya terlampau berat untuk dibuka. Ia juga sempat memasang alarm pada handphonenya agar tidak keterusan terlelap. Dan kemudian Maddie pun sudah terbang ke alam bawah sadarnya.
🙏🙏🙏
*Hargai penulis
Percayalah, vote itu gratis

KAMU SEDANG MEMBACA
MY LOVER THE SERIES
RomanceMelalui kisah Audrey, Alea, Maddie, Stella dan Rachel, kita akan diajak memahami bagaimana rumitnya menemukan batas cinta yang sesungguhnya. Cinta yang menampung pengharapan dan begitu pulalah sulitnya cinta berikan kepastian. Akankah ke lima gadis...