Chapter 11

32 7 5
                                    

Audrey

Audrey menghentikan kakinya di depan sebuah cafe. Untuk kali pertama ia baru berniat memasuki tempat itu. Walaupun ia tau di sana menyediakan tiramisu paling enak, namun itu hanya ia dengar di beberapa artikel dan juga ucapan Stella yang sudah sangat familier mengunjungi cafe tersebut. Bahkan Audrey pun juga tak berniat untuk mencicipinya.

Jika bukan karena Jin mana mungkin Audrey mau ke sana, terlebih lagi memakai uang Stella untuk membayar ongkos bus dan minuman yang akan ia pesan. Ya, baginya hidupnya saat ini hanya bisa bergantung pada Stella entah sampai kapan. Andai Jossky bukan Papa kandungnya kemungkinan besar Audrey akan menyumpahi pria itu dengan kalimat mematikan karena telah menyulitkan hidupnya. Sayangnya Audrey masih mempunyai hati untuk tidak melakukannya.

Kembali pada Jin, tak ada cara lain yang bisa Audrey lakukan untuk menemui pria itu selain hanya cafe tempat yang ia datangi saat ini. Mustahil jika Audrey berani menemui Jin di asrama, karena ia tak akan mungkin melakukannya selama ada Hoseok. Dan Audrey pun berharap Jin belum menginap di asrama.

Audrey memutuskan masuk dan memilih kursi di pinggir jendela kaca hingga ia bisa leluasa menyaksikan bangunan perpustakaan yang menjulang tinggi bersamaan dengan daun maple yang berjatuhan di pinggir jalan dan tersapu ke tengah karena tertiup angin.

"Ingin memesan apa Nona?"

Audrey menoleh dan mendapati seorang gadis yang ia yakini mempunyai usia kisaran tiga puluh tahun ke atas tengah membawa note kecil beserta bolpoin. "Apa di sini ada Jin?" Audrey balas bertanya dengan mata yang melirik ke sana sini, memastikan objek yang ia cari menghampiri bola matanya.

"Anda ini siapanya?"

"Aku sahabatnya. Bisa kau panggilkan dia untukku?" pinta Audrey dan tersenyum lega karena sang pramusaji menganggukkan kepala dan berlalu dari hadapan Audrey.

Audrey menunduk memastikan kancing blouse putihnya tertata dengan benar. Ia pun juga menyelipkan rambutnya di belakang telinga sembari memperbaiki letak poninya.

"Audrey?"

Audrey terkesiap ketika melihat Jin berdiri di sampingnya. Tak lama bibir Audrey pun melebarkan senyumnya. "Apa aku mengganggu waktumu?"

Jin menggeleng dan memilih duduk di hadapan Audrey. "Tidak sama sekali. Em... Sophie bilang kau mencariku, apa itu benar?" tanyanya sekaligus menyebutkan nama si wanita tadi.

"Yap. Mana mungkin aku mengenali orang-orang di sini, kecuali kau."

"Sudah kuduga, pasti Stella yang sudah mengatakan padamu bahwa aku di sini." Jin tersenyum singkat menyadari setiap mengambil alih tugas Pamannya, Audrey tak pernah menginjakkan kakinya di cafe mereka. "Apa kau memerlukan sesuatu?" sambung Jin sekaligus menanyakan tujuan Audrey datang padanya.

Audrey mengangguk pelan. "Aku hanya ingin menanyakan Hoseok ada di mana," ucap Audrey nyaris tak kedengaran dan beruntung Jin memiliki telinga yang bagus.

"Hoseok? Bukankah dia di asrama? "

Audrey menelan ludah. Hatinya membatin mengatakan apakah alasan terlangka itu akan berhasil. Menyeret Hoseok ke dalam pembahasan mereka saat ini adalah ide satu-satunya yang terbesit begitu saja di kepala Audrey. Bahkan ia pun tak sempat memikirkan hal buruk yang nantinya akan terjadi, karena menurut Audrey sudah tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk melihat Jin. "Dia tidak ada," dusta Audrey. Faktanya ia bahkan tak akan mau menemui Hoseok apalagi mencarinya.

"Apa kau sudah menelponnya?"

Audrey mengangguk. "Tidak aktif," jawabnya sembari berdoa dalam hati semoga Jin tidak menelepon Hoseok karena semua yang ia benarkan itu adalah kebohongan semata.

Jin menatap manik mata Audrey. Sembari ia menelusuri gerak-gerik gadis itu, Jin pun teringat bahwa Hoseok pernah mengatakan padanya bahwa Audrey sangat tidak menyukai Hoseok. Bagi Audrey ia hanyalah seorang gadis yang terlahir tanpa adanya Kakak bahkan Adik. Jadi yang bisa dipetik adalah seorang Audrey yang tidak mengakui Hoseok sebagai saudara kandungnya. Jin bisa menyimpulkan dan akan merasakan hal yang tidak masuk akal jika Audrey datang padanya hanya karena mencari Hoseok. Lebih-lebih lagi Jin tidak pernah melihat Audrey bermain ke kamarnya.

Audrey dengan segera menegang saat Jin mengambil sesuatu dari saku mantelnya, dan itu adalah handphone. "Kau ingin apa?" sambar Audrey sungguh kelabakan kala melihat Jin berkutat pada handphonenya.

"Menghubungi Hoseok."

"Jangan," larang Audrey sambil menahan tangan Jin. "Aku kan sudah bilang kalau dia tidak aktif, kenapa kau masih menelponnya juga," sambungnya dengan wajah yang seolah tengah melakukan aksi pencurian alhasil malah ketahuan.

Jin spontan tersenyum. Jemarinya terangkat membelai kepala Audrey. Ia tau Audrey berbohong padanya. "Jika bukan Hoseok, lalu alasanmu datang padaku itu apa?" Jin terkekeh seraya menarik belaiannya sambil terus mengamati Audrey yang kini menegang.

Audrey bungkam seribu bahasa. Tatapannya saat ini hanya ia pusatkan ke bahu Jin karena menolak beradu pandang dengan pria itu. Ia pikir Jin adalah orang yang mudah dibohongi, namun ternyata Audrey pun sadar bahwa menyeret nama Hoseok sama halnya dengan mempermalukan dirinya sendiri.

"Audrey."

Lamunan Audrey buyar dan langsung menatap Jin. Tiba-tiba saja matanya malah berkaca-kaca bersama dengan wajah kekesalannya. Teramat kesal pada dirinya, menganggap bahwa dia seperti orang bodoh yang tak mampu mengatakan sebuah kebenaran.

Jin yang merasa suasana saat ini sedang tak beres pun langsung menyentuh tangan gadis di depannya. "Hei, kenapa kau menangis?" tanyanya penuh khawatir saat ia tau akan ada air mata yang jatuh di pipi Audrey. Jin bahkan bingung mengapa Audrey seperti itu. Bahkan ia sampai mengoreksi ucapannya, menganalisis apakah ada kata yang salah ia lontarkan pada Audrey. Namun Jin tidak menemukannya.

Audrey yang sudah merasa tak tahan karena hanya mempermalukan dirinya pun langsung saja bangkit seraya meninggalkan Jin begitu saja. Ia berlari dan terus berlari untuk sampai ke halte. Audrey jijik, muak, benci, dan itu semua hanya ia tujukan pada dirinya sendiri. "Mengapa susah sekali," lirihnya menutup wajahnya saat telah duduk di halte.

Aku menyukaimu.

Sebenarnya kata itu yang akan keluar dari mulut Audrey ketika berhadapan dengan Jin, namun sayangnya dua kata itu juga yang hanya bisa membatu di hatinya. Harapnya ingin menjadi hujan di musim semi, malah berakhir seperti daun yang berjatuhan di musim gugur. Sakitnya menaruh cinta sepihak.

Audrey mengusap kasar air matanya yang nyaris tergelincir sembari bangkit ketika bus telah menepi. Mata Audrey beredar mencari kursi kosong namun sayangnya semuanya sudah terisi penuh. Tiba-tiba saja Audrey menemukan dua kursi yang duduki oleh satu pria sekaligus dengan sebuah koran yang menutupi wajahnya. Batinnya menggeram karena keserakahan pria itu. Dengan cepat Audrey pun melangkahkan kakinya mendekati si pria. "Hey, beri aku tempat duduk," ujarnya dengan intonasi yang lumayan keras.

Tak ada jawaban.

Audrey memutar matanya malas. Dengan satu sentakan ia pun menarik koran yang menutupi wajah si pria. Alhasil Audrey pun langsung tersekat kala pria itu menatapnya dengan tatapan menyalang. Bagi Audrey jika di bandingkan dengan Hoseok tidak akan ada apa-apanya. Pria itu lebih menyeramkan.

Audrey menghembuskan napas leganya saat si pria menyingkirkan kedua kakinya di kursi. Dengan pergerakan cepat Audrey pun langsung saja duduk. Ia pun sempat melirik sinis pada pria di sampingnya yang telah kembali menutupi wajahnya dengan koran tadi.

Sepanjang perjalanan pulang Audrey hanya terus berhayal. Memikirkan dirinya menyatakan cinta, lalu berkencan, dan pada akhirnya mereka hidup bersama dalam sebuah pernikahan. Memang sangat konyol, namun Audrey tak bisa berbohong jika Jin terlalu memberi pengaruh besar baginya.


🙏🙏🙏

*Hargai penulis
Percayalah, vote itu gratis

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang