Chapter 15

43 6 9
                                    

Rachel

"Tenanglah Alea. Semua akan baik-baik saja."

"Cukup Rachel. Bahkan kata itu tidak ada gunanya untukku," ujar Alea terisak dengan posisi tengkurap sembari membenamkan kepalanya di bantal.

Rachel membelai rambut Alea. Ia tau apa yang Alea rasakan itu tidaklah mudah untuk dirinya terima. Ia pun juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Alea, yaitu menangis. Namun sebagai seorang sahabat, tak ada cara lain yang bisa Rachel lakukan selain hanya berusaha untuk menghibur.

"Aku mencintainya." Suara Alea terdengar parau dan seperti tercekik ketika berbicara bersama tangisnya.

"Aku tau Alea, tapi tolong jangan seperti ini."

"Aku mencintainya, Rachel."

Rachel menghembuskan napas kasarnya dan sudah sangat muak mendengar ucapan Alea. Ia pun berkata dengan intonasi tingginya, berharap mata dan hati Alea terbuka lebar bahwasanya Jungkook tidak pantas untuknya. "Cukup Alea! stop being stupid just because of love. Dia tidak mencintaimu. Tolong sadarlah, sadar!"

Spontan saja Alea bangkit dari tidurnya dan menatap Rachel dengan mata sembabnya. "Memang gampang untukmu mengatakan seperti itu. Ini menyiksaku Rachel. Aku sudah berusaha untuk tidak mencintainya. Tapi apa, aku seakan ingin mati! Aku..." Alea tidak lagi menyambung kata-katanya dan hanya menambah volume tangisnya.

Rachel langsung saja memeluk tubuh Alea. Ia merasa bersalah karena tidak mengerti apa yang gadis itu rasakan. "Maaf," ujarnya karena hanya kata itu yang hanya bisa ia ucapkan.

"Tolong biarkan aku sendiri."

Rachel terdiam sepersekian detik. Tak lama ia pun melepaskan pelukannya di tubuh Alea dan menatap gadis itu seakan tak percaya, karena baru kali ini Alea memintanya keluar dari kamar ketika sedang menangis.  Ia pun mengangguk dan tak lagi berujar. Menurut Rachel jika ia membantah maka suasana hanya akan bertambah runyam. Ia pun memutuskan pergi dan menuju kamar kekasihnya.

Sesampainya, Rachel mondar-mandir di dalam kamar Jimin. Ia memikirkan Alea. Ia takut sesuatu akan terjadi pada gadis itu. Rachel tak bisa pulang ke kamarnya karena ia tau Alea pasti telah mengunci pintunya. Rachel mengerti jika Alea butuh ruang untuk menyendiri, namun Rachel juga khawatir pada gadis itu.

Sekarang tidak ada Jimin. Rachel tidak tau kemana pria itu berkeliaran saat jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas. Jadi saat ini pikiran Rachel bercabang dua memikirkan Alea dan Jimin yang membuat kepalanya serasa meledak.

"Oh, ya Tuhan," gumam Rachel menghempaskan bokongnya di kasur. Ternyata berdiri selama setengah jam sukses membuat kedua kakinya nyaris terlepas. Namun bukan itu sebabnya dia mendesah, hanya saja matanya tak sengaja melihat handphone Jimin di nakas dan itu artinya ia tidak bisa mengontak pria itu.

Rachel kembali bangkit sambil menggigit telunjuknya mencari-cari apa yang harus ia lakukan. Dan ia pun memutuskan melangkahkan kakinya keluar dengan berkeyakinan Jimin hanya berada di seputaran asrama. Jujur saja Rachel tidak bisa tidur dalam keadaan sendiri karena dari kecil ia tak berani untuk melakukannya.

Rachel menyusuri asrama di lantai tiga dan tidak menemukan menemukan apa-apa. Gadis itu pun memutuskan menuruni tangga dan juga melakukan hal yang sama pada asrama di lantai dua dan satu. Nihil, Rachel sama sekali tidak menemukan Jimin. Baru saja ia ingin melakukan pencarian di taman, seorang pria dan wanita yang tengah duduk di depan pintu masuk sontak saja membuatnya mematung.

"Kau hebat. Kau bahkan tidak memancingnya dengan tangismu."

"Oh ayolah, aku hanya malu untuk melakukannya."

"Hahahah, ku pikir kau akan seperti Hoseok yang tidak akan pernah menangis."

"Hoseok? Hei, dia juga punya air mata. Ketika lahir saja dia menangis."

Rachel yang mendengar percakapan ke dua orang itu pun dengan cepat meninggalkan mereka seraya berlari menaiki tangga. Tanpa ia sadari, seorang pria telah melihat keberadaannya.

Rachel masuk ke kamar dan membanting pintu seraya menguncinya. Ia pun menjatuhkan tubuhnya dan entah sejak kapan air mata pun telah merembes di pipinya. Seperti tangis yang Alea keluarkan hanya demi seorang pria dan itu masih membekas di ingatannya, kini ia juga merasakan hal yang sama. Rachel pun terbuka hatinya dan menyadari bahwa semua pria itu sama saja. Sama-sama brengsek. Mereka ditakdirkan hanya untuk menyakiti kaum Hawa.

Tiba-tiba seseorang datang dan mengetuk pintu dengan ketukan beruntun. "Rachel, apa kau di dalam? Tolong buka pintu," teriaknya dan sudah bisa tertebak kalau orang itu adalah Jimin—seorang pria yang berhasil menangkap tubuh Rachel ketika berlari menaiki tangga.

"Enyahlah brengsek!" umpat Rachel dengan suara yang terdengar menghilang. Ia menghapus air matanya kasar, namun percuma saja jika hal itu tak akan mampu membuatnya berhenti menangis dengan cepat.

"Kau salah paham. Tolong dengarkan penjelasanku."

"Aku benci padamu! Aku benci padamu." Tangis Rachel sudah tak bisa ia kontrol. Ia menangis sambil mengerang. Ia tidak pernah seperti ini, karena ia tidak pernah sekali pun melihat Jimin bersama gadis lain bahkan jika itu hanya sebatas teman. Lantas, apakah salah jika Rachel marah pada Jimin? Ia hanya tak ingin memiliki hubungan yang bernasib seperti gadis, gadis malang yang berakhir dicampakkan begitu saja. Bahkan saat memikirkan Alea, Rachel pun sempat membayangkan bahwa dirinya tidak akan sanggup jika berada di posisi itu.

"Aku mohon Rachel, tolong buka pintunya." Suara Jimin terdengar memohon dan berusaha  mengetuk pintu terus menerus. "Aku bisa menjelaskan padamu."

Rachel menggeleng. Ia tak ingin mendengar satu alasan pun dari mulut Jimin. Saat mengingat pria itu duduk berdekatan dengan gadis lain, demi Tuhan kata maaf dari Rachel saat itu juga seakan sudah tidak pantas ia berikan pada Jimin.

"Rachel, tolong dengarkan aku."

Rachel menutup telinganya rapat-rapat sambil memejamkan matanya. Ia tidak ingin mendengar suara itu. Ia tidak ingin luluh mendengar nada menyedihkan itu. Ia tidak ingin seperti wanita yang bodoh akan cinta. Ia tidak ingin.

Rachel bangkit dan berjalan dengan tertatih menuju ranjang. Namun sebelum ia membaringkan tubuhnya, gadis itu mematikan semua lampu hingga tak ada yang bisa ia lihat selain hanya kegelapan. Rachel menghempaskan tubuhnya di kasur dengan posisi meringkuk. Sepanjang hidupnya baru kali ini ia tidur seorang diri. Takut yang menjalar di tubuhnya pun saat ini seakan sirna mengalahkan rasa sakit hatinya pada Jimin. Dan tidak tau pada menit ke berapa, Rachel pun telah terlelap dengan meninggalkan isakan serta air mata yang mengering di kedua pipinya.



🙏🙏🙏

*Hargai penulis
Percayalah, vote itu gratis

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang