Rachel
Setelah meninggalkan Alea, Rachel bergegas menuju kamar Jimin. Rachel memang merindukannya, namun bukan itu masalahnya. Gadis itu sungguh ingin menanyakan perihal Audrey dan Hoseok pada kekasihnya, sebab Rachel masih belum begitu puas mengetahui fakta menarik dari dua manusia itu.
"Rachel!"
Mendengar namanya di panggil Rachel menghentikan langkahnya dan berbalik. Saat itu juga ia mendapati seorang pria yang sangat tak asing di matanya. Bukan main terkejutnya gadis itu hingga tak bisa berkedip dalam beberapa detik.
"K-kau?" tunjuk Rachel dengan nada tersendat.
Mungkin terlihat berlebihan, namun seperti itulah Rachel mengusap-usap matanya demi memastikan apakah ia tak salah melihat siapa yang tengah berhadapan dengannya saat ini.
"Hei, kau kenapa?"
"Hah!" Spontan Rachel menutup mulutnya ketika menyadari bahwa matanya tak salah menangkap. Benar adanya bahwa pria di hadapannya sekarang adalah William.
Tanpa banyak berpikir, Stella menarik William ke taman belakang. Tujuan utamanya ialah agar Jimin tak melihat dirinya yang tengah bersama William. Baginya menghindari kesalahpahaman itu jauh lebih baik
"Bisa kau jelaskan kenapa kau di sini?" tuntut Rachel berkacak pinggang layaknya seorang gadis yang tengah menantang.
"Tentu saja ingin menjagamu," jawab William seakan tak ada beban untuk mengeluarkan kalimat itu.
"Apa?" sentak Rachel dengan wajah cengangnya. "Apa kau pura-pura tidak tau bahwa ada kekasihku Jimin? Untuk apa kau menjagaku jika Jimin lebih pandai dalam hal itu," sambungnya berdecih dengan tatapan sinis.
"Jimin saja tidak cukup hanya dengan menjagamu. Tentunya kau pasti membutuhkanku."
Rachel mengerutkan dahinya bersamaan dengan telinganya yang cukup memanas mendengar ucapan William. Namun bukan Rachel namanya jika tak bisa menangkis ucapan pria itu.
"Aku tidak butuh jasamu dan aku juga tidak sudi mendapat bantuan darimu. Asal kau tau? Jimin sudah lebih dari cukup untukku."
William tiba-tiba saja terkekeh dengan tatapan mengejek. "Kalau aku mau, kau bisa apa?"
Percayalah, Rachel ingin saja rasanya menampar pipi William hingga wajahnya terbalik ke belakang.
"Kau sungguh tak waras," maki Rachel dengan penuh penekanan seraya meninggalkan William.
"Tidak semudah itu sayang," ucap William dengan gesit memeluk Rachel dari belakang. "Apa kau tidak mempunyai rasa kasihan pada pria yang telah memilih datang jauh-jauh hanya karena ingin menjagamu? Hei, di mana letak tata kramamu sebagai wanita?"
"Brengsek! Lepaskan!" seru Rachel bersikeras melepaskan pelukan William.
"Kau boleh menolakku di depan Jonathan, tapi sekarang berharaplah bahwa aku bisa melepaskanmu sayang," bisik William terdengar mengintimidasi dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan aku brengsek!" Dengan sekuat tenaga Rachel berusaha memberontak. Sayangnya kekuatannya tak sebanding dengan pria itu.
"Tidak akan."
"Inilah alasan mengapa dari dulu aku tidak tertarik padamu. Kau memang brengsek! Lepaskan aku bedebah!"
"Tidak sebelum aku mencicipi bibirmu."
Bukan main terkejutnya Rachel dan rasanya ia ingin saja menangis ketika William berusaha ingin menggapai bibirnya.
"Hei!?"

KAMU SEDANG MEMBACA
MY LOVER THE SERIES
RomanceMelalui kisah Audrey, Alea, Maddie, Stella dan Rachel, kita akan diajak memahami bagaimana rumitnya menemukan batas cinta yang sesungguhnya. Cinta yang menampung pengharapan dan begitu pulalah sulitnya cinta berikan kepastian. Akankah ke lima gadis...