Rachel
Rachel menyibak gorden kamarnya bersamaan dengan bunyi lonceng gereja yang hanya memiliki letak beberapa meter dari asrama. Gadis itu pun mengambil dua helai roti tawar di kulkas dan mengolesi selai strawberry lumayan banyak diatasnya seraya menyatukan ke dua roti itu dan memakannya. Pikirnya rasa manis yang masuk ke mulut lalu ke tenggorokannya dan berakhir di perut sepertinya bisa meredakan amukan buas dalam hatinya.
Andai Rachel tak memutuskan pergi meninggalkan Alea di taman kemungkinan ia akan menyemprotkan amarahnya pada gadis itu, memintanya untuk berhenti memikirkan Jungkook, Jungkook, dan lagi-lagi Jungkook. Rachel hanya tak suka melihat bahagia yang Alea ciptakan sama halnya seperti rasa sakit dan harapan besar yang gadis itu pendam.
Rachel beralih memalingkan wajahnya menatap handphone yang dari kemarin memunculkan tampilan layar gelap, membuat Rachel kemungkinan besar tidak marah sepenuhnya oleh Alea melainkan pada seorang pria yang tidak mengabarinya bahkan menemuinya.
"Kau brengsek," umpat Rachel membalikkan handphonenya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Ia bukannya memaki benda tak bernyawa itu, melainkan pada kekasihnya Jimin. Biar bagaimanapun Rachel menyimpan jengkelnya pada pria itu, tapi ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya menunggu Jimin datang padanya.
"Kau tidak pergi pada Jimin?" Alea baru saja masuk dan beringsut menaiki kasur seraya membuka sweater berwarna peraknya dan menanggalkannya di kepala ranjang.
"Tidak." Rachel menjawab dengan nada yang tak bergairah. Ia berjalan mendekati pantry dan meletakkan sisa roti tawarnya yang belum habis di makan di atas piring berukuran sedang, lalu ia duduk di depan meja rias sembari memperhatikan pantulan wajahnya di sana.
"Kenapa? Apa kalian masih bertengkar?"terka Alea mengarahkan tatapannya pada Rachel.
"Yeah, begitulah."
Alea tersenyum simpul. "Cinta memang begitu, jika tidak ada bengkok-bengkoknya maka sebuah hubungan akan berjalan dengan sangat datar. Tidak menarik."
Rachel langsung terkekeh sebentar mendengar lontaran Alea. "Ya, ya, ya."
Suara ketukan pintu tiba-tiba menggema dari luar kamar mereka dan membuat Rachel spontan saja berdiri, sedang Alea membesarkan ke dua matanya.
"Pasti Jimin," ujar Alea pelan. "Pergilah," sambungnya lagi menyuruh Rachel untuk membukakan pintu karena terlihat gadis itu seperti tidak ingin bergerak dari tempatnya.
Rachel menghembuskan napas kasarnya, menyetujui ucapan Alea untuk pergi membukakan pintu pada orang yang masih saja mengetuk. Dan saat pintu terbuka, ternyata tebakan Alea benar karena yang tengah berdiri di luar saat ini adalah seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Jimin.
"Kenapa? Aku kan sudah bilang tidak ingin melihatmu. Pergi saja dengan sahabatmu," ujar Rachel sinis sembari menyilangkan kedua tangannya tanpa menatap Jimin.
Jimin merenung beberapa detik, lalu menggelengkan kepalanya seolah menolak apa yang Rachel katakan. Dengan pergerakan cepat pria itu pun membawa tubuh Rachel ke dalam pelukannya. "Maafkan aku," ujarnya pelan dengan dua kata yang sangat lumrah dan selalu ia gunakan ketika bertengkar dengan kekasihnya.
Rachel memberontak bahkan memukul-mukul dada Jimin meminta untuk dilepaskan. Sayangnya Jimin terlalu kuat hingga Rachel pasrah dan tak lagi memberontak. Jujur ia bahagia bercampur jengkel. Bahagianya karena Jimin selalu mengabulkan setiap apa yang ia harapkan, dan jengkelnya karena masih belum bisa membuang kejadian di mana Jimin membiarkannya pergi begitu saja tanpa berinisiatif mengejar dan mengatakan maaf dengan cepat padanya.
"Maafkan aku," ujar Jimin dengan perkataan yang sama sembari mengecup puncak kepala Rachel. "Mungkin jika aku tidak melihatmu, maka aku tidak akan bisa bernapas."
Hampir saja Rachel menyemburkan tawanya jika ia tidak cepat mengontrol dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bukan karena Rachel merasa ucapan Jimin terdengar lucu, lebih tepatnya membuatnya merasa jijik dan ingin muntah. Namun biar bagaimanapun juga Rachel teramat senang mendengarnya.
"Apa kau mau memafkanku? Hem?"
Rachel diam seribu bahasa.
Jimin melepaskan pelukannya seraya memegang bahu Rachel dan menatap sendu gadis itu. "Apa kau tidak ingin memaafkanku?"
Kali ini Rachel menggeleng dan memilih tidak berbicara lagi.
Awalnya Jimin termangu dan seakan tak percaya. Namun tak berangsur lama kepala pria itu pun mengangguk seolah paham apa yang Rachel rasakan. Tadinya ia ingin memohon terus menerus agar Rachel mau memaafkannya, tapi Jimin pun juga tak ingin orang yang dia cintai merasakan sakit hanya karena dirinya. "Semoga kau mendapati pria yang lebih bisa memahamimu. Tapi kau harus tau, bahwa kau adalah satu-satunya gadis yang aku cintai."
Rachel mengerutkan dahinya. Ia mencerna ucapan Jimin dengan teliti hingga akhirnya gadis itu pun sadar bahwa ada kesalahpahaman yang Jimin petik dari gelengannya tadi. Spontan saja tangan Rachel melayang dan memukul lengan Jimin. "Bodoh. Aku menggeleng bukan karena aku tidak ingin memaafkanmu, justru sebaliknya." Rachel sontak saja tertawa sambil memegangi perutnya. Mengulang kembali kata-kata Jimin membuatnya benar-benar tak tahan untuk tidak tertawa.
"Jadi kau memaafkanku?"
Rachel mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia pun sempat terpekik karena Jimin tiba-tiba saja memeluknya hingga kepalanya menabrak dada pria itu. Berulang kali Jimin mengecup dahi Rachel dan teramat lega mengetahui hubungan mereka tidak bernasib menyedihkan.
"Aku mencintaimu, sangat dan sangat mencintaimu my dear," ujar Jimin semakin merapatkan tubuhnya dengan Rachel.
"Aku tau," balas Rachel menyampingkan kepalanya dan menghirup aroma pria itu dari lekukan lehernya.
Seolah dunia milik mereka berdua, hingga Rachel dan Jimin pun tanpa sadar telah membuat Alea yang tadinya ingin memastikan keadaan mereka pun sontak disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya langsung menyeletuk, "Ya Tuhan, pergilah ke kamar jika kalian ingin bermesraan." Alea menggelengkan kepalanya sambil memegang gagang pintu.
Rachel dan jimin pun melepaskan pelukannya secara bersamaan begitupun juga tertawa saat menyadari Alea yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Oh, sorry," cicit Rachel lalu mengaitkan ke dua tangannya di leher Jimin seraya mendekatkan hidung mereka. "Aku ingin ke kamarmu."
"Astaga! Kalian sungguh menjengkelkan," seru Alea dengan cepat menutup pintu sambil mendengar dengan jelas ledakan tawa yang keluar dari mulut sepasang kekasih di depan pintu.
Aslinya Rachel hanya menggoda Alea. Kali ini gadis itu menjauhkan wajahnya dari Jimin seraya mengalungkan tangannya di lengan pria itu. "Aku lelah, aku ingin tidur," ujarnya dan langsung mendapatkan anggukan cepat dari kekasihnya.
"Aku akan selalu di sampingmu hingga kau terbangun," ujar Jimin mengaitkan sebelah tangannya di bahu Rachel ketika mereka bergegas menuju kamar.
Rachel hanya memilih mengecup pipi Jimin singkat. Sepanjang koridor ia hanya bisa tersenyum bahagia. Entahlah, kemungkinan besar sumber kebahagiaannya itu adalah pria di sampingnya.
🙏🙏🙏*Hargai penulis
Percayalah, vote itu gratis

KAMU SEDANG MEMBACA
MY LOVER THE SERIES
RomanceMelalui kisah Audrey, Alea, Maddie, Stella dan Rachel, kita akan diajak memahami bagaimana rumitnya menemukan batas cinta yang sesungguhnya. Cinta yang menampung pengharapan dan begitu pulalah sulitnya cinta berikan kepastian. Akankah ke lima gadis...