Chapter 9

33 9 10
                                    

Stella

"Apa dia akan datang?" Maddie bertanya sembari melihat arlojinya.

Stella yang baru selesai menyesap anggur merahnya pun dengan cepat mengangguk. "Tentu saja," jawabnya meski terdengar tak yakin karena menyadari sudah menghabisi sepuluh menit duduk di restauran ternama di kota itu.

"Awas saja kalau dia tidak datang." Audrey memainkan ujung sendoknya di atas amuse bouche pada piring putih berkilau yang mampu membuat orang bisa berkaca di sana.

"Dia pasti datang," ujar Stella berusaha meyakinkan sahabatnya. Ia melihat minuman, kudapan, makanan pembuka bahkan penutup di atas meja bundar tempat mereka duduk saat ini. Ia yakin dalam hati bahwa pria itu pasti datang karena apa yang ia saksikan saat ini semuanya di persiapkan oleh si pria.

Benar apa kata Stella, apa yang mereka tunggu pun akhirnya datang. Pria itu tidak sendiri melainkan membawa seorang sahabatnya juga. Namun satu hal tiba-tiba mengejutkan mereka saat itu.

"Suga?"

"Maddie?"

Audrey dan Stella melongo menatap Maddie yang mengeluarkan satu nama dari mulutnya.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya pria di samping sahabatnya yang Maddie sebut dengan Suga.

"Bisakah kalian duduk?" ujar Audrey sehingga membuat dua pria di hadapan mereka tersenyum kaku dan akhirnya duduk.

"Dia adalah Jungkook, pria yang kumaksudkan itu." Stella membuka mulut seraya melebarkan senyumnya. "Oh ya, kau suga? Apa kau dan Maddie sudah saling kenal?" Stella berbalik bertanya pada Suga.

"Yeah, saat sekolah kita pernah sekelas selama tiga tahun," ujar Suga seraya beralih menatap Maddie bahagia.

"Benarkah?" Stella dan Jungkook mengatakannya secara bersamaan. "Ya Tuhan, dunia ternyata memang sempit," sambung Stella menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa kau melanjutkan pendidikanmu?" Maddie menyambar pada Suga. Dalam hati ia menebak bahwa Suga memasuki universitas populer karena kemampuan otaknya yang terbilang di atas rata-rata,  berbeda dengan dirinya yang sudah menyerah karena tak sanggup lagi menghadapi satu kata, yaitu belajar.

"Tidak. Aku memilih tinggal di Dorm of Legend. Apa kau tau tempat itu?"

Maddie spontan saja terkejut dengan aksi bibirnya yang menganga. "Oh Tuhan, aku juga tinggal di sana." Maddie seakan tak percaya. Faktanya ia tak pernah melihat suga selama di asrama. "Pastinya kamarmu di tingkat bawah, kenapa kau tidak pernah terlihat?"

"Kau juga tidak pernah kulihat." Suga mengembalikan ucapan Maddie hingga ke duanya tertawa bersama.

"Baiklah Tuan dan Nona, apa kalian bisa memberiku kesempatan untuk berbicara?" Jungkook yang sudah tak tahan mendengar celotehan Suga dan Maddie pun mau tak mau memotong pembicaraan mereka. Baginya jika ia tidak melakukannya maka tempat yang ia persiapkan untuk Stella seolah ia persiapkan untuk Suga dan kawan lamanya.

"Upss, sepertinya kita tidak berkata pada tempatnya," ujar Maddie pada Suga sambil terkekeh. "Baiklah, cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan pada Stella kami," sambung Maddie menyenggol bahu Stella sekedar ingin menggodanya.

Jungkook menarik napasnya sebentar. Tak ada pandangan lain yang ia lihat saat ini terkecuali hanya Stella seorang. Ia tersenyum hingga memperlihatkan  jelas tahi lalat di bawah bibirnya. Sampai pada akhirnya ia pun mengungkapkan sebuah kata yang nyaris membuat udara di sekitaran Stella menipis. "Aku menyukaimu. Apa kau mau berkencan denganku?" ujar Jungkook sembari meraih satu tangan Stella dan menggenggamnya.

Audrey berusaha menahan tawa dengan mengatupkan bibirnya. Sedang Maddie malah menutup wajah dengan ke dua tangannya namun memberi celah pada jarinya seraya mengintip. Dan Suga, ia hanya tersenyum miring memandang gelas di hadapannya. Itulah ekspresi dari tiga orang yang tengah menyaksikan Jungkook mengungkapkan cintanya di hadapan Stella.

Stella nampak termangu. Ia memandangi Jungkook dan nyaris menembus isi mata pria itu. Ia menyaksikan mata itu memperlihatkan tatapan penuh kejujuran serta seberkas harapan yang membuatnya percaya bahwa Jungkook bukanlah pria yang mematahkan harapannya dengan meniduri gadis lain.

"Ayolah Stella, katakan jawabanmu," desak Maddie sudah terlihat sangat tak sabaran menunggu respon dari gadis itu.

Stella menarik satu napas kerasnya hingga mampu terdengar. Perlahan-lahan bibir gadis itu pun berujar, "dengan senang hati," jawabnya menerima Jungkook sebagai kekasihnya.

Jungkook tersenyum lega dan langsung mengecup punggung tangan Stella seraya memeluknya.

Sorak kegembiraan dan tepuk tangan dari Audrey, Maddie, dan Suga sangat mendominasi saat itu. Terlebih Stella yang memberikan kesempatan dirinya untuk membuka hati, kini berkali lipat bahagia setelah menerima Jungkook.

Audrey bangkit menuju ke kursi Stella seraya memeluk gadis itu juga saat Jungkook telah selesai memeluknya. "Selamat untukmu, aku turut bahagia."

"Thanks Dre." Stella pun membalas pelukan Audrey.

Malam itu pun tercatat sebagai malam paling terindah bagi Stella, di mana ia bisa merasakan ketulusan Jungkook dihadapan sahabatnya. Jujur, Stella merasa begitu beruntung telah menemukan sosok pria seperti Jungkook. Walaupun Stella akui pertemuannya dan Jungkook baru memasuki satu bulan, tetapi ia percaya bahwa tindakannya untuk menerima pria itu sebagai kekasihnya adalah pilihan terbaik.

Sepulangnya dari restauran, Stella memutuskan menyetujui permintaan Jungkook yang menyuruhnya untuk tidur di kamar pria itu alih-alih ingin beradaptasi dengan Stella bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai sepasang kekasih.

Stella duduk berhadapan dengan Jungkook di atas kasur. Sebelum pada akhirnya sesuatu akan terjadi, gadis itu pun dengan cepat mengatakan, "em... mungkin aku harus mengatakannya padamu. Dan menurutku apa yang aku katakan memang tiba-tiba. Tetapi kau sebagai pacarku sepantasnya tau apa yang tidak aku inginkan." Stella berhenti sebentar sambil melihat Jungkook yang sepertinya menyuruhnya untuk menyelesaikan ucapannya. "Aku hanya meminta dua hal padamu. Pertama, aku tidak ingin ada ciuman di bibir hingga batas hubungan kita telah berjalan tiga bulan. Ke dua, aku tidak suka hubungan yang dijalani dengan adanya seks hingga kita memang benar-benar menikah." Stella menyudahi ucapannya seraya mengamati pria di hadapannya yang memandangnya tanpa ekspresi.

"Tidak masalah." Dua kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Jungkook setelah bibirnya bungkam setelah lumayan memakan beberapa menit. Wajah datarnya tadi kini telah kembali seperti biasa ketika ia bersama Stella, tersenyum.

"Apa kau tidak marah?" tanya Stella memastikan sembari memegang tangan Jungkook.

Jungkook menggeleng. "Untuk apa aku marah. Kau harus tau bahwa sesudah kata hingga di balik daftar ketidak inginanmu itu aku akan mengabulkannya," ucapnya dibarengi tangannya yang membawa Stella dalam pelukannya.

Stella tersenyum lega mendengar jawaban Jungkook yang membuatnya seolah terbang ke awang-awang, terlebih lagi ia semakin takjub oleh pola pikir Jungkook yang dikatakan dewasa. Kini, Stella betul-betul yakin bahwa Jungkook adalah pria yang sangat-sangat tepat untuknya. "Aku mencintaimu," ujar Stella membalas pelukan Jungkook.

"Aku lebih-lebih mencintaimu," balas Jungkook semakin mempererat pelukannya hingga di akhir mereka tertidur pun ke duanya saling berpelukan satu sama lain.

🙏🙏🙏

*Hargai penulis
Percayalah, vote itu gratis

MY LOVER THE SERIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang